Chapter 7 - Penyergapan di sungai

4.5K 710 28
                                        

Ada bias ketakutan terpancar diwajah kedua pendekar itu, namun entah keberanian dari mana mereka tetap gencar menyerang Gantara tanpa henti bahkan ketika tubuh mereka sudah penuh dengan luka sayat hasil dari sabetan pedang Gantara.

Gantara memutar tubuhnya kebelakang salah satu pendekar, dengan cepat menyayat dalam bagian belakang lutut musuhnya hingga lawannya itu jatuh berlutut tanpa daya dan mengerang kesakitan. Setelahnya dengan lihai Gantara menghindari sabetan kapak yang tertuju pada lehernya dari pendekar terakhir yang masih berdiri, setelah kapak itu melewati lehernya dengan cepat Gantara menangkap pergelangan tangan si pendekar lalu mematahkan pergelangan tangannya hingga bunyi "kreeek" terdengar cukup keras diiringi teriakan kesakitan si pendekar, kemudian tanpa ragu Gantara menusukan pedangnya ke perut pendekar yang baru saja ia patahkan tangannya, "ohok!" Pendekar itu segera memuntahkan seteguk darah, ketika Gantara mencabut pedangnya darah segar segera menyembur dari dalam perut lawannya, pendekar itu segera tersungkur jatuh ke tanah sambil memegangi lubang diperutnya.
Gantara memang tidak menusuk titik vital yang bisa membuat lawannya seketika mati, namun dengan luka tusuk sedalam itu sudah dipastikan luka itu akan membunuh secara perlahan karena musuh akan kehabisan darah.

"Cukup sampai disitu!"

Mendengar suara asing menginterupsinya, Gantara segera memalingkan wajahnya ke arah sumber suara dan seketika wajahnya menjadi kaku.
Disana ia melihat seorang pria asing --yang Gantara bisa pastikan adalah satu komplotan dengan empat pendekar yang menyerangnya--, pendekar itu berdiri dibelakang Ruarendra dengan mata pedangnya berada tepat didepan leher Ruarendra.
Ruarendra terlihat gemetar ketakutan, wajahnya pucat pasi seputih kapas, keringat dingin mengucur deras. Ia menatap pedang dilehernya lalu beralih menatap Gantara dengan mata penuh permohonan untuk diselamatkan.
Gantara merasa ceroboh, kini ia tahu  kalau sejak awal ini sudah rencana kelima pembunuh itu, empat diantara mereka menjadi umpan untuk menjauhkan Gantara dari Ruarendra dan membuat Gantara lengah, setelahnya satu rekan mereka yang bersembunyi akan dengan mudah menyergap Ruarendra yang sudah tanpa perlindungan.

"Kalau kau ingin dia selamat, cepat buang pedangmu!" Perintah si pendekar dengan tatapan mengancam, Gantara hanya diam dan mencoba membaca situasi, "aku tidak main-main!" Si pendekar menekan sedikit mata pedangnya pada kulit leher Ruarendra hingga menimbulkan sedikit luka dan kemudian darah segar mengalir dileher putih Ruarendra. Ruarendra memejamkan matanya erat merasakan tajamnya pedang menggores lehernya hingga menimbulkan perih yang amat sangat.

"Baiklah," Gantara melemparkan pedangnya jauh-jauh bahkan musuhnya tidak melihat dimana pedang itu jatuh.

Melihat keadaan yang seolah berbalik, pendekar yang berlutut karena kakinya dilukai Gantara segera tertawa licik, "kerja bagus adik seperguruan. Cepat bunuh mere--" belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ia bisa melihat sebuah pedang dengan cepat melesat dibelakang adik seperguruannya lalu pedang itu menusuk dan bersarang di punggung kiri pendekar yang sedang menyandra Ruarendra, pedang itu tepat menembus jantungnya hingga pedang yang ia pegang dileher Ruarendra jatuh setelahnya tubuhnya sendiri yang roboh ketanah tanpa nyawa.
Pedang itu diterbangkan dan ditusukan dengan akurasi yang sangat tepat, menusuk dalam jantung lawan namun sama sekali tidak sampai menembus melukai tubuh Ruarendra, untuk sesaat Ruarendra hanya bisa tertegun kaku dengan nafas yang tertahan.

Gantara segera berjalan mendekati Ruarendra dengan kekhawatiran, "kau tak apa-apa?"

Perlahan Ruarendra menatap Gantara yang kini berdiri dihadapannya dengan mata yang bergetar, sedetik kemudian ia menghambur memeluk Gantara dengan erat sambil menangis, "bagaimana aku bisa baik-baik saja, aku sangat ketakutan bodoh!" Ucapnya sambil sesenggukan, lalu ia menunjuk pada mayat pendekar yang menyanderanya, "bagaimana kalau pedangmu itu juga ikut menembus menusukku? Apa kau ingin membunuhku?!" Setelah mengatakan itu ia kembali membenamkan wajahnya didada Gantara dan kembali terisak.

[BL Ver.] Runaway (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang