Chapter 36
Akhir perjalanan
"Wakil ketua, aku menemukan sesuatu!"
"Menemukan apa?"
"Ini," pendekar rekan Antasena itu berlari ke arahnya dengan membawa sebuah sangkar burung berisi seekor burung elang jantan yang gagah.
Antasena menggosok dagunya sambil mengamati burung elang dalam sangkar milik antek-antek Patih Gandatala yang baru saja mereka bunuh, "Ini pasti burung pembawa pesan."
Kedelapan pendekar rekan Antasena yang tersisa saling pandang lalu mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Antasena.
"Lalu harus kita apakan burung elang ini?" tanya pendekar yang masih memegang sangkar burung temuannya.
"Kita bawa dan perlihatkan pada Panglima Gantara," putus Antasena akhirnya. Setelah berhasil menjalankan tugas, rombongan Antasena segera kembali berkuda dan mengejar ketertinggalan mereka dari rombongan utama.
Menjelang malam, rombonan Antasena baru bisa menyusul rombongan utama yang sudah beristirahat dan mendirikan tenda.
Tidak menunda waktu, bahkan hanya untuk sekedar beristirahat dan menarik nafas, Antasena segera menamui Gantara yang sedang berjaga di depan tenda Ruarendra.
"Panglima," panggil Antasena begitu menghampiri Gantara yang terlihat sedang memeriksa keamanan sekeliling tenda Sang Pangeran.
Gantara menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah sumber suara. Jelas Sang Panglima mengenali pemilik suara itu, "Kau sudah kembali Antasena? Bagaimana?"
Antasena berhenti tepat di hadapan Gantara. Ia mengangguk lalu menarik nafas sebelum mulai menjelaskan keadaan, "Kami berhasil membunuh semua antek Patih Gandatala yang berjumlah lima orang. Sayangnya kita kehilangan satu pendekar dari pihak kita."
Setelah sekian lama, akhirnya Gantara kembali merasakan duka kehilangan prajuritnya. Ia sudah sering berperang dan entah sudah berapa nyawa prajuritnya yang melayang di medan perang, namun rasa duka itu tidak akan pernah menjadi biasa bagi Gantara. Selalu terasa dalam dan menyakitkan, akan tetapi Sang Panglima tidak pernah menampakan duka pada ekspresi wajahnya sehingga sering kali ia dianggap berhati dingin.
"Hmm... begitu," Gantara langsung memfokuskan pandangannya pada sangkar burung yang Antasena bawa, "Lalu apa itu?"
"Ah... ini," Antasena mengangkat sangkar burung yang ia bawa, menampakan seekor burung elang jantan yang gagah, "ini yang kami temukan di sekitar lokasi saat kami membunuh antek-antek Patih Gandatala."
"Sepertinya itu burung pembawa pesan," Gantara langsung menyimpulkan dengan cepat. Sekalipun orang-orang lebih mengenal burung merpati sebagai pembawa pesan, namun rakyat Kertalodra lebih memilih menggunakan elang karena elang lebih unggul, secara fisik mereka lebih kuat dan terbang lebih cepat.
Antasena mengangguk, "Aku pun berpikiran begitu. Lalu apa ini berguna?"
Gantara melipat tangannya di depan dada sambil menatap elang dalam sangkar yang masih dipegang Antasena, "Tentu saja berguna."
"Untuk?" Antasena benar-benar merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sang Panglima dengan burung elang yang ia bawa.
"Tentu saja untuk mengirim 'surat cinta' kepada pemilik burung itu."
"Surat cinta?" Antasena mengerutkan keningnya dengan bingung atas maksud perkataan Gantara.
Dan kini setelah Gantara memberikannya secarik surat berukuran kecil, Antasena akhirnya mengerti maksud 'surat cinta' yang dikatakan Gantara setelah membaca surat yang dibuat Sang Panglima sebelum menggulung surat itu dan mengikatkannya di kaki burung elang.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL Ver.] Runaway (Complete)
Historical FictionWarning 18+ content! Karena ulah Patih Gandatala yang melakukan pemberontakan, kerajaan Kertalodra dalam prahara. Lalu bagaimana nasib panglima besar Gantara Wisesa yang sangat tampan dan kuat, ditakuti musuh-musuhnya di medan perang dan juga digila...
![[BL Ver.] Runaway (Complete)](https://img.wattpad.com/cover/126813511-64-k944875.jpg)