Chapter 37 - Perang

3.2K 395 30
                                        



Chapter 37
Perang

"Kau juga, lebih baik besok tidak usah ikut ke medan perang."

"Apa?!"

"Apa perlu aku ulangi perkataanku lagi?" Antasena menatap Tiwa dengan lekat. Ia tahu bahwa pemuda itu pasti sudah mendengar perkataannya.

"Apa kau bodoh?! Aku seorang calon tabib. Aku ingin menolong orang-orang yang terluka. Kalau aku tidak ikut ke dalam medan perang, bagaimana aku bisa mengobati mereka? Sudah jelas aku harus ikut!"

Antasena menghela nafas. Sepertinya ia mendapat masalah yang sama dengan Gantara, "Kalau kau terluka atau bahkan sampai mati di medan perang, kau sama sekali tidak akan bisa menolong orang lain."

Tiwa terdiam sesaat, pemuda manis itu memikirkan perkataan Antasena. Ia sempat merasa perkataan Antasena ada benarnya. Akan tetapi, kalau dirinya tidak ikut ke dalam medan perang, tentunya ia tidak akan bisa menolong satu orang pun yang terluka di sana. Berbeda kalau dirinya ikut, ia akan bisa menolong orang-orang yang terluka dan ilmu pengobatan yang sudah ia pelajari selama ini tidak akan sia-sia sekalipun mungkin dirinya akan terluka atau bahkan mati di medan perang seperti yang Antasena katakan, "Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap ikut!" Tiwa segera meninggalkan Antasena, ia tidak ingin berdebat lagi.

"Keras kepala," gumam Antasena sambil menatap Tiwa yang semakin berjalan menjauh darinya.

***

Gantara duduk dengan gagahnya di atas Beliung. Pancasona tersampir di punggung lebar dan tegapnya. Tidak terlihat keragu-raguan maupun rasa gentar sedikit pun dalam sosok Sang Panglima.

Aura Sang Panglima besar Kertalodra menguar memberi keberanian pada pasukan yang berdiri di belakangnya. Orang-orang yang siap berjuang dan bertempur bersamanya untuk merebut kembali kerajaan Kertalodra dari tangan para pemberontak yang melakukan kudeta.

Sedangkan Ruarendra, Tiwa dan Ling Hua, mereka tetap ikut ke dalam medan perang setelah menjalani perdebatan yang panjang dan akhirnya diambil sebuah keputusan yang berat. Ruarendra, Tiwa dan Ling Hua tetap boleh ikut ke dalam medan perang, namun mereka ditempatkan di barisan paling belakang dengan penjagaan yang cukup ketat dan kuat. Alasan Antasena tidak terlihat di samping Gantara pada barisan depan adalah karena ia mendapat tugas untuk memimpin satu kelompok pasukan kecil untuk melindungi Ruarendra, Tiwa, dan Ling Hua.

Gantara menatap lurus langsung pada patih Gandatala di sisi seberangnya.

Patih Gandatala memimpin langsung pasukannya. Sang patih pemberontak juga terlihat sudah siap berperang di atas kudanya.

Gantara mencabut Pancasona dari sarungnya lalu mengangkatnya lurus ke atas seperti menantang cakrawala. Mata pedang sakti itu berkilauan saat sinar matahari menerpanya seolah pedang itu haus akan darah musuh-musuhnya.

"SAUDARAKU, AYO KITA REBUT KEMBALI TANAH KERTALODRA DARI PARA PEMBERONTAK!" seru Gantara dengan lantang yang langsung mendapat jawaban teriakan-teriakan penuh semangat dari pasukannya, jelas itu menandakan bahwa orang-orang di belakangnya sudah sangat siap untuk berperang. Gantara mengayunkan pedangnya ke arah depan, tepat menunjuk ke arah di mana patih Gandatala dan pasukannya berada, "SERAAAANG!!!" raung Gantara dengan tenaga dalamnya yang mengalir melalui suaranya, membuat keberanian para prajuritnya berkobar dan bertambah berkali-kali lipat, namun sebaliknya akan membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan.

Kedua pasukan, baik pasukan Gantara maupun pasukan Patih Gandatala bergerak maju secara bersamaan diiringi dengan teriakan-teriakan pembangkit semangat dan emosi hingga akhirnya dua lawan itu bertemu di titik tengah.

[BL Ver.] Runaway (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang