Chapter 17 - Menyadari

4.7K 625 89
                                        

Chapter 17 - Menyadari

Pada dasarnya Tiwa adalah pemuda yang baik, malam itu ia terlebih dulu mengantarkan Ling Hua ke kamarnya, setelahnya membantu Ruarendra berbaring didalam pondok lalu menyelimuti pemuda ayu itu agar tidak kedinginan.

Tiwa sangat tahu kalau Ruarendra adalah saingan cintanya tapi tidak sedikitpun ia membenci Ruarendra apalagi berniat mencelakainya.

Barulah setelah itu Tiwa memapah tubuh besar Gantara dengan susah payah kedalam kamarnya (dirumah Ling Hua).

Pagi itu Gantara membuka matanya perlahan, mengerang lalu memegang kepalanya yang terasa pening.

Pendekar tampan itu duduk lalu mengatur nafasnya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ketika pandangan matanya yang semula buram perlahan menjadi jelas ia melihat sekeliling ruangan, ruangan ini jelas bukan kamar dari pondok kecilnya dan Ruarendra.

Begitu pandangan Gantara jatuh pada orang disampingnya matanya terbelalak lebar, ia mendapati Tiwa yang masih tertidur dengan tubuh polos penuh tanda kemerahan, diselakangan pemuda itu terlihat cairan inti sari dan darah yang sudah mengering.

Dengan mata yang memerah marah, dengan cepat Gantara menggerakan tangannya dan mencekik leher Tiwa dengan kuat.

Tiwa yang tengah tertidur dan mendapatkan cekikan tiba-tiba dilehernya segera terbangun dengan paksa, ia dengan reflek memegang tangan yang tengah mencengkram lehernya kuat. Pemuda itu meronta karena kesulitan bernafas, "akhh!"

"Apa yang kau lakukan?!" Gantara mendesis marah, dalam ingatan samarnya semalam ia bercumbu dengan Ruarendra lalu bagaimana bisa dipagi hari itu bisa berubah menjadi Tiwa. Jelas ada yang tidak beres telah terjadi.

"K-kau ma-buk," Tiwa berkata dengan susah payah, wajahnya sudah terlihat merah keunguan akibat cekikan Gantara yang memutus pasoka oksigen ke paru-parunya.

Tiwa sadar konsekwensi akan perbuatannya, Gantara akan marah atau yang terburuk pendekar tampan itu akan membunuhnya.

Menyadari dirinya juga dalam keadaan telanjang bulat, Gantara segera melapaskan cekikan pada leher Tiwa, ia segera mengumpulkan pakaiannya yang berserakan dan mulai memakainya kembali.

Dalam hatinya Gantara tidak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

Alkohol...

Mungkin itu jawabannya, tadi malam memang bukan pertama kalinya Gantara meminum arak tapi ia tidak pernah meminum minuman keras seperti itu lagi semenjak pertama kali ia mencicipinya dan tahu bahwa tubuhnya kurang mentolerir alkohol jadi ia akan cepat mabuk sekalipun hanya meminumnya sedikit.

Tubuhnya yang semakin kuat, ilmu beladiri dan ilmu kanuragannya yang tinggi bahkan tenaga dalamnya yang besar tidak mampu membuat tubuhnya mentolelir alkohol. Itu seperti alergi yang susah disembuhkan. Seperti harga mati yang diciptakan Sang Maha Kuasa untuk menjadi kelemahan dalam tubuhnya.

Gantara pernah mengeluhkan hal itu pada gurunya dan Empu Indrayana hanya tertawa dan mengatakan, "Sekuat apapun dirimu tapi kau tetaplah manusia biasa, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan setiap manusia punya kelemahan. Contohnya diriku sendiri, pernafasanku kuat tapi setiap mencium serbuk bunga aku tetap akan bersin-bersin tanpa henti karena tubuhku tetap tidak mentolerir serbuk bunga sekalipun aku melatih pernafasanku dengan baik. Ingat anakku, sebaik-baiknya tupai melompat pasti akan jatuh juga, tapi kau bisa menghindari hal yang bisa membuatmu menjadi tupai yang jatuh, ya alkohol itu. Hindari dan rahasiakan kelemahanmu," Pada saat itu Empu Indrayana menasehatinya dengan kekehan kecilnya lalu mencibir muridnya dengan nada bercanda, "kelemahan itu harusnya ya harta, tahta atau wanita, kenapa harus Alkohol hahaha.." lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak menertawai muridnya --yang sudah seperti anaknya--, dan melupakan fakta bahwa dirinya juga alergi dan lemah terhadap hal sepele seperti serbuk bunga.

[BL Ver.] Runaway (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang