8. Hukuman

7.1K 240 2
                                        


"Sudah waktunya bangun, Kak."

Aleeyah mengguncang pelan tubuh besar yang masih bergelung nyaman di bawah selimut putih, membangunkannya untuk mandi, sarapan, lalu berangkat ke perusahaannya dengan mengantar Aleeyah terlebih dahulu ke kampus sebab searah.

Aleeyah menjalankan pesan Bryan untuk mengurus Ando dengan baik selama pria itu berada di luar negeri.

Setiap pagi dia akan menyiapkan sarapan, menyiapkan air hangat untuk mandi Ando, menyiapkan bajunya, kemudian membersihkan rumah sembari menunggu Ando sarapan bersama.

Dia menyiapkan makan siang hanya ketika Ando berada dirumah. Lalu ketika malam tiba dia akan menyiapkan makan malam dan air hangat di kamar mandi Ando ketika lelaki itu telah sampai dirumah.

Mobil hitam berhenti di gerbang sebuah sekolah tinggi, "Terimakasih, Kak. Hati-hati di jalan dan jangan telat makan siang. Aku menyayangimu.."

Aleeyah keluar dari mobil kakaknya lalu masuk ke kampus.

Begitulah rutinitas pagi Aleeyah ketika turun dari mobil Ando yang juga selalu dijawab dengan,

"Aku membencimu!"

Ando melanjukan mobil meninggalkan area itu. Supirlah yang akan menjemput Aleeyah nanti sore karena Ando biasa pulang ketika malam hari.

---------

"Kak tolong antar Ale ke supermarket ya, bahan makanan sudah habis."

Pemuda itu mendengus namun tetap berdiri lalu mengambil kunci mobilnya.

Setiap weekend Ando akan mengantarkan adiknya belanja kebutuhan rumah dan makanan untuk satu minggu kedepan.

Ando akan berjalan dibelakang Aleeyah selagi gadis itu memilah-milah barang apa yang akan dimasukkan ke dalam troli.

Mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian disana. Banyak orang menyapa Aleeyah lalu dibalas dengan ramah olehnya namun tidak dengan Ando, tak ada satupun yang berani menegur Ando.

Satu lagi, Ando akan menatap tajam dengan aura gelap kepada siapapun pria yang berani menatap adiknya itu.

-----------

Braakk.....

Pintu kamar Aleeyah terbuka kasar menimbulkan suara yang menggema di ruangan itu. Disusul dengan suara murka seorang Armando.

"Dasar anak sialan!! Apa maksudmu dengan menghilang dari kampus?"

"A-aku pergi ja-jalan-jalan sebentar dengan teman-teman, Kak."

Keringat dingin mengalir membasahi tubuh Aleeyah yang bergetar ketika mengingat apa yang dia lakukan tadi siang.

"Brengsek! Bagaimana bisa aku mengetahui hal ini dari seorang supir!!" suara Ando semakin menggelegar membuat lawannya ciut.

"K-kau pasti ti-tidak mengijinkanku." cicitnya berusaha melawan namun apadaya ketakutan lebih mendominasi.

"Adik sialan!! Masih untung Kau tidak ku buang ke jalanan dan seperti ini balasanmu hah!!!"

Ando mencengkram lengan Aleeyah kuat lalu menyeretnya menuruni kamar menuju ruang tengah.

"K-kakak sakiit t-tolong lepaskan." rintih Aleeyah

"Maafkan Ale Kakak.. Maaf.. ini sakit sekali..Hiks.." lanjutnya disela-sela tangisan.

Lengan gadis itu telah membiru dan pasti akan meninggalkan bekas bila tangan Ando terlepas.

Langkah kakinya pun tak bisa mengimbangi langkah Ando sehingga membuatnya terseret sepanjang jalan.

Brakk!!

Ando melempar tubuh Aleeyah dengan kasar menubruk meja ruang tengah yang keras, membuat hadis itu meringis kesakitan.

"Ahhss.. Sakiit."

Setengah mati Aleeyah merasakan sakit pada punggungnya sembari terisak ketakutan.

Inilah Armando sekarang, sejak setahun kepergian Bryan ke luar negeri dia semakin menjadi-jadi terhadap adiknya.

Gadis itu sendiri tidak pernah mengadu kepada Bryan sebab ia merasa ini sebuah hukuman yang pantas diterima atas kesalahannya pada sang kakak.

Pemuda itu berdiri menjulang di hadapan sang gadis yang meringkuk di lantai.

"Ternyata adik kecilku sudah besar dan berani ya sekarang.." kata Ando dengan penuh penekanan dan sebuah seringaian.

"Ti-dak Kak m-maafkan Ale.." lirihnya.

Tubuh Aleeyah yang bergetar hebat semakin beringsut ke belakang seiring mendekatnya Ando walupun sudah tertahan oleh meja dibelakang.

Kulit kaki jenjang Aleeyah harus merasakan dingin bersentuhan dengan lantai.

Ando menurunkan lututnya untuk mensejajarkan diri dengan Aleeyah kemudian mencengkram rahang gadis di depannya menghadap wajah Ando.

"Katakan.. Apa Kau sudah bosan berada disini sehingga tak mematuhi aturanku lagi?" kalimat Ando yang lirih, tajam dan mengintimidasi membuat Ale tak berani mentap mata lawannya sambil menggelengkan kepala.

"Jawaab!!!" bentak Ando tepat di depan wajah Aleeyah.

"A-ku ti-dak bosan K-ak."

"Lalu apakah benar bila Kau pergi tanpa ijin dariku?"

"Sa-lah, A-ale salah."

"Kau harus dihukum, benar?"

Tubuh Aleeyah menengang, suasana hening beberapa detik hingga dirasakannya cengkaraman itu menguat.

"Y-ya Ale ha-rus dihukum." jawab Aleeyah.

Ando melepas cengkramannya dari rahang Aleeyah membuat gadis itu memekik.

Belum hilang sakit dirahangnya, Ando kembali mencengkram bahu Aleeyah membawanya berdiri lalu mendorong kasar tubuh adiknya hingga terlentang di sofa dan menumpu badannya sendiri diatas Aleeyah.

"Nikmati hukumanmu adik kecil." wajah Ando menyeringai lebar penuh kemenangan dan,

"Aaaaargghhh! sakiiiiitt Ando!!!"

Ditinggalkan √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang