Cahaya sang surya menembus memasuki celah jendela sebuah kamar yang terlihat manis namun dingin.
Sudah seminggu sejak kepergian Sabian, Aleeyah tak kunjung keluar dari kamarnya. Gadis itu sangat terpuruk.
Keputusan terakhirnya untuk mengenang Sabian sebagai sebuah luka benar-benar gagal.
Meskipun baru sesaat bersama namun gadis ini telah jatuh cinta terlalu dalam. Sehingga kepergian Sabian membuatnya sedikit depresi.
Aleeyah hanya merebahkan badannya sambil menangis. Dia sama sekali tak menyentuh makanan yang setiap pagi dan malam disiapkan oleh Ando di dalam kamar.
Bukan.. bukannya Ando peduli, hanya saja tak mau adiknya itu cepat mati. Ada kesenangan tersendiri bagi Ando melihat Aleeyah dengan keadaan seperti sekarang.
Pagi ini Ando membawa sarapan dan mengambil makanan semalam yang masih utuh.
"Tak kau sentuh lagi huh? Apakah kau takut makanan ini kuberi racun?" ejek Ando yang sama sekali tak mendapat tanggapan dari Aleeyah.
Gadis itu tetap berbaring menghadap jendela besar dan membelakangi Ando, hal itu berhasil membuat emosi Ando naik.
Diraihnya tubuh kurus dan lemah Aleeyah dan mencengkram pundaknya. Tak ada raut kesakitan di wajah Aleeyah, hanya ada tatapan kosong dan dingin.
Ando membelai rambut dan wajah Aleeyah. Manik mereka saling bertubrukan mencoba menyelami masing masing.
"Lihatlah.. adik kecilku yang cantik sekarang sudah seperti zombie." sebuah smirk muncul di wajah Ando.
Aleeyah tak mengeluakan ekspresi apapun membuat Ando mendekatkan bibir ke telinga adiknya.
"Sadarlah.. semua orang meninggalkanmu. Tidak ada yang peduli denganmu Aleeyah.."
Kalimat itu berhasil membuat luka dihati Aleeyah kembali terbuka hingga dia memalingkan wajahnya dari pandangan Ando.
"Mama, Papa, Sabian, bahkan teman-teman Sabian tak ada yang menemanimu sekarang ketika keadaanmu seperti orang gila!"
Kalimat tajam Ando berhasil menghujam tepat di jantung Aleeyah membuatnya berhenti berdetak. Air mata mulai mengalir membuat Ando tersenyum licik.
"Sadarlah hanya aku yang tidak meninggalkanmu, Aleyaah." bisiknya Ando.
"Aku yang selalu ada untukmu saat kau terluka... bahkan jika luka itu karenaku.." lanjutnya.
"Aku tak meninggalkanmu seperti mereka." ucapnya dengan penekanan disetiap kata dan berhasil menarik perhatian Aleeyah.
Kini Ando tau kelemahan adiknya. Gadis itu memalingkan wajah menatap Ando dengan tatapan berharap.
"Kau hanya harus tunduk dan mengikuti semua perintahku maka aku tak akan pernah sekalipun meninggalkanmu." kata Ando terdengar sangat meyakinkan.
Hening menyelimuti keduanya. Aleeyah yang sedang mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Ando mencari mana yang tepat dan tidak untuk diambil, dan Ando yang hanya mentap tajam Aleeyah.
Dan pada akhirnya Aleeyah memilih untuk terbuai dan percaya pada moster dalam wujud malaikat itu.
Mata sang gadia berbinar, "Benarkah?" tanya Aleeyah penuh harap.
Ando menyeringai namun tak dapat dilihat oleh lawannya.
"Tentu saja. Jadilah milikku Aleeyah.." bisiknya lalu mencari jawaban dari bibir gadis dihadapannya.
Aleeyah masih diam, hati dan pikirannya sedang menentukan pilihan. Dia hanya ingin seseorang yang tak pernah meninggalkannya dan Ando dengan senang hati menawarkan diri. Tapi bagaimana bila dia sama seperti Sabian yang mengingkari janjinya.
.
.
.
"Aku milikmu." ucap Aleeyah mantap.
Pemuda iti tersenyum penih kemenangan, "Aku tak dengar Aleeyah.."
"Aku, Aleeyah Zach adalah milik Armando Zach." bisik Aleeyah ditelinga Ando dengan wajah berseri.
Dia sangat senang ada seseorang yang tak pernah meninggalkannya tanpa tau apa yang akan datang padanya suatu saat nanti akibat keputusan ini.
Aleeyah memilih menyerahkan hidupnya pada manusia seperti Armando merupakan sebuah kesalahan besar.
Ya.. Aleeyah mungkin sudah gila. Depresi membuat pikirannya tak bisa bekerja dengan baik.
Seseorang tolonglah gadis ini...
----------
"Gantilah pakaianmu lalu ikut denganku."
Aleeyah sedang duduk manis disofa sambil menonton film ketika Ando turun dari tangga.
"Kau membawaku kemana?"
"Hanya jalan-jalan malam, kau pasti bosan."
Wajah gadis itu berseri, "Baiklah tunggu sebentar."
"Berpenampilanlah yang manis Sweetheart." bisiknya di telinga Aleeyah.
Ando sangat berbeda sekali sejak malam itu. Sikapnya sangat manis meskipun disela-sela itu tangan kekarnya masih saja melukai tubuh Aleeyah
Tak berselang lama sang gadis telah keluar dari rumah. Ando yang bersandar di mobilnya menghampiri Aleeyah.
Dia memasangkan sebuah syal sutra navy di leher jenjang adiknya, "Hanya aku yang boleh melihat luka ini Sweetheart." bisik Ando.
Leher jenjang seputih salju itu berhiaskan bekas luka yang beberapa hari lalu dilukis oleh Ando dengan sangat indah.
Suara berat Ando dan hembusan nafasnya membuat bulu kudu Ale berdiri antara geli dan takut.
Ia sangat takut dengan suara Ando yang serak, berat, dan mengintimidasi. Itu adalah suara yang terdengar seriap kali Ando mengukir luka baru di tubuhnya.
Mobil Ando berhenti disebuah pinggiran pantai. Dia keluar dahulu kemudian menghampiri sisi Ale, membukakan pintu lalu mengulurkan tangan. Dengan senang hati Ale menyambut uluran tangan itu.
Dituntun Ale berjalan ke salah satu gubuk kecil dipinggir pantai namun terlihat elegan dengan tirai putih dan bantal-bantal yang empuk. Banyak lilin dan kudapan tersaji di dalamnya. Aleeyah sangat terkejut melihat pemandangan indah cahaya cahaya kecil di tengah gelapnya malam diiringi angin dan deburan ombak pantai.
"Armando.. " ucap Ale terperangah.
"This is special for you, Princess.. " ucapnya sambil mencium punggung tangan Ale.
"Thank you so much." balas Ale kemudian mencium pipi sang kakak denaan senyum yang semakin terkembang.
"Can I asking for something?" tanya Ando
"Anything for you."
"Berjalanlah kesana." tunjuknya pada sisi pantai yang deburan ombaknya cukup kuat.
"A-apa mak-sud mu Ando? "
"Masuklah ke air pantai itu Aleeyah... "
"Ta-tapi ini sudah malam dan dingin. "
"Aku tak menerima penolakan, Sweetheart..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ditinggalkan √
Teen Fiction"Ketahuilah Aleeyah.. Aku sangat membenci keberadaanmu dan itu tak akan pernah berubah!!!" "Ya.. Aku tau benar.. Dan tak akan berubah pula rasa sayangku padamu Armando.." ---------- "Jangan takut. Aku janji nggak akan pergi lagi. Aku akan terus disi...
