20. Benar Salah

4.3K 212 0
                                        


"Hallo. Kau dimana, Aleeyah?"

"Tentu saja dirumah. Ada apa, Kak ?"

"Bersiaplah aku akan menjemputmu satu jam lagi."

"Kau akan membawaku jalan-jalan?"

"Sure."

"Aww love you so much, Sam!"

"Hahaha.. Love you too, Ale."

Satu jam kemudian klakson mobil Sam terdengar memenuhi halaman rumah nya. Aleeyah bergegas turun dari kamar dan keluar menghampiri sang kakak.

Manis, Aleeyah selalu terlihat menawan di mata Sam. Jika saja gadis itu bukan adiknya, mungkin Sam sudah mengejarnya untuk dijadikan kekasih. Hidup Sam memang tak pernah dikelilingi oleh wanita sebab dia hanya fokus belajar, dia hanya ingin menjadi orang sukses sehingga tak mengecewakan Kevin yang merawatnya sejak kecil.

"Kakak akan membawaku kemana?"

"Kemanapun Tuan Putri ingin pergi." balas Sam menimbulkan rona merah pada pipi Aleeyah.

"Aku ingin ke suatu tempat seperti alam terbuka dimana banyak air dan tanah." kata Ale sambil merangsek ke dada bidang Sam.

"Hmm sepertinya aku tau kita harus kemana. Bersiaplah ini akan menjadi perjalanan yang panjang." balas Sam mengeratkan pelukannya mencium kening adiknya kemudian membuka pintu mobil untuk Ale.

Sam ingin membuat moment yang indah dan tak terlupakan untuk hari pertama Aleeyah berada di Paris sebab kini Aleeyah adalah wanita kedua dalam hidup Sam setelah neneknya, Mom dari Kevin. Ya hanya ada dua wanita dalam hidup Sam.

Destinasi mereka kali ini cukup jauh dari rumah. Sam mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang agar adiknya nyaman.

"Kakak sudah minta izin Daddy?"

"Belum sebaiknya Kau telfon Daddy sekarang."

"Baiklah."

Aleeyah menekan lama panel nomor satu di handphone nya kemudian terhubung dengan sesorang disebrang.

"Hallo Daddy."

"Hallo Sayang. Kau sudah rindu pada Daddy? Kita baru berpisah 3 jam yang lalu."

"Putrimu ini rindu padamu setiap detik Daddy. Ale dan Sam akan pergi ke suatu tempat."

"Kemana?"

"Hmm.. Kakak apa nama tempat tujuan kita?" tanya Ale pada Sam yang sedang mengemudi.

"Côte d'Azur." balasnya yang dpaat didengar oleh Kevin.

"Bukankah itu tempat yang jauh. Kalian akan lelah dijalan."

"Kalau begitu bolehkah kami menginap disana, Dad?"

"Hmm..  Baiklah, nanti malam Daddy akan menyusul."

"Benarkah?" teriak Ale kegirangan.

"Tentu. Daddy tak mau anak-anak Daddy kenapa-napa disana. Sampai bertemu nanti malam nikmati waktu kalian."

"Aku akan menunggu Daddy. Sampai bertemu nanti malam."

----------------

"Dua steak dan dua orange smoothie." seorang pelayan mencatat apa yang dikatakan oleh Kevin.

Kevin berada disebuah restoran bersama Bryan. Setalah menemui relasi bisnis mereka, Bryan ingin makan siang.

"Bagaimana keadaan putriku sekarang." katanya lirih lebih seperti berkata kepada dirinya sendiri.

"Dia pasti akan baik-baik saja. Putrimu anak yang kuat." sahut Kevin. Dia bukan hanya pura-pura menenangkan sahabatnya yang sedang berduka namun karna itu faktanya. Aleeyah hidup baik bersama Kevin.

"Aku menyesal atas semua yang terjadi padanya." lanjutnya dengan suara yang mulai purau.

"Penyesalan selalu datang terakhir, Bryan." balas Kevin. Dia tidak tega sebenarnya melihat Bryan seperti ini namun yang dilakukannya ini demi kebaikan semua orang. Kevin takut bila Aleeyah kembali maka akan disakiti lagi sebab dia tau pada akhirnya Bryan dan Ando sendiri yang tersakiti sebab menyakiti Aleeyah.

Seegera mungkin Kevin mengubah topik pembicaraan mereka. "Bagaimana kabar Armando?"

"Dia baik-baik saja, Ando sedang liburan di sini." jawaban Bryan sedikit mengejutkan Kevin, ada setitik rasa khawatir merasukinya sebab mungkin saja Ando dan Aleeyah akan bertemu.

"Benarkah? Apa dia menginap di rumahmu."

"Tidak, dia menginap di hotel tempat liburannya."

Kevin hanya berdoa dalam hati agar mereka tidak dipertemukan di negara ini. Tapi bila saja mereka bertemu, kemungkinan besar Ando tidak akan membawa Aleeyah mengingat betapa bencinya laki-laki itu pada adiknya dan Aleeyah tak akan mengenali Ando.

"Kau tau, aku sangat rindu padanya, Kevin." kata Bryan sambil memandang jauh jalanan di balik jendela restoran itu.

"Aku berpikir tidak seharusnya Kau seperti ini, Kau harus bisa menikmati hidupmu. Aku tau ini berat tapi, cobalah untuk merelakan Aleeyah." balas Kevin.

Bryan menghela nafasnya. Dulu mungkin ada setitik bisikan bahwa akan bagus bila Aleeyah tidak ada, namun itu dulu karena sekarang hanya ada penyesalan dan rindu yang begitu dalam.

"Aku ayah yang buruk untuknya."

"Aku yakin Aleeyah tidak berpikir seperti itu. Baginya Kau ayah yang sangat hebat."

"Tapi aku belum sanggup untuk menghentikan pencarian putriku."

"Kau bisa terus melakukan pencarian selama yang Kau mau, hanya saja jangan bebani pikiranmu dengan hal ini."

"Baiklah.. Aku akan hidup dengan baik kembali. Terimakasih Kevin."

"That's what friend for."

Tanpa Bryan sadari, sahabatnya itu ingin membuatnya melepaskan Aleeyah untuk Kevin. Entahlah apakah hal ini sudah benar untuk dilakukan atau tidak Kevin pun tak tau, satu hal yang dia tau yaitu dengan seperti ini maka Bryan, Ando, dan Aleeyah tidak akan saling tersakiti.

Ditinggalkan √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang