"Sayang, kaki daddy pegal sekali."
"Maksud Daddy, Aleeyah berat?!"
"Bukan seperti itu, badanmu seperti kapas hingga daddy bisa menggendongmu dari halaman ke kamar. Bangunlah sebentar saja."
"Hmm.."
Aleeyah mengangkat kepalanya dari pangkuan Kevin kemudian mendudukkan badannya di sofa. Kevin meregangkan badan yang sejak pagi menjadi bantal putrinya. Hari ini Kevin tidak ke kantor karena Aleeyah merengek meminta Kevin untuk menemaninya dirumah sepanjang hari.
"Nah sudah kemarilah."
Aleeyah menyender di dada Kevin sambil melanjutkan acara menonton film.
"Hmm.. Maafkan Ale, Daddy jadi tidak pergi ke kantor."
"Everything for you, Sweetheart."
"Benarkah? Apapun?" dia mendongakkan wajahnya dengan tatapan penuh harap.
"Tentu saja."
"Aleeyah ingin tinggal di apartemen sendiri yang dekat dengan kampus nanti, Dad."
"...."
Kevin terdiam setelah mendengarkan permintaan gadis dipelukannya.
"Sorry, I can't Baby."
"But I wanna-"
"No!"
Tidak, Kevin tidak membentak Aleeyah dia hanya berkata sedikit tegas namun itu cukup untuk membuat Aleeyah tersenyum kecut lalu bangkit meninggalkan Kevin sedirian.
Kevin tak bisa membiarkan Aleeyah tinggal sedirian seperti permintaannya barusan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Aleeyah duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jendela besar kamarnya dengan lampu kamar yang padam. Merapatkan kaki dalam pelukannya.
"Mengapa aku rindu kalian semua...,"
"yang telah menyakitiku."
Sebuah senyuman miris terukir indah di bibir manisnya.
"Hmhh.. Mungkin memang harus seperti ini. Semua orang yang penting bagiku akan selalu menyakitiku. Ando, Papa, Sabian..."
"Aku hanya tinggal menunggu giliran kalian berdua yang memberikanku rasa sakit sekali lagi kan?" muncul wajah Kevin dan Sam dalam benaknya.
"Sepertinya aku yang terlalu berharap tinggi kepada orang lain, terlalu naif hingga menjatuhkan diriku sendiri"
"Aku tidak akan berekspetasi lagi setelah ini."
Ya, mulai saat ini, Aleeyah sudah memandang dunia dengan cara yang berbeda....
Tokk.. Tokkk!!
Cklekk..
"Hai Sweetheart bagaimana keadaanmu?" Suara berat seorang pemuda menggema dalam kamar sunyi itu.
Sang gadis tak bergeming sedikitpun, wajahnya menjadi dingin dan matanya masih menatap lurus ke arah jendela seperti enggan berbicara.
"Kau masih marah padaku?" Sam melangkah mendekati Aleeyah lalu duduk bertumpu lutut di hadapan Aleeyah.
"...."
"Aleeyah sudah berapakali aku minta maaf padamu..." kata Sam selembut angin kemudian mengulurkan tangannya meraih wajah Aleeyah agar mentap matanya.
"I'm so sorry Aleeyah.. " mohon Sam.
"Kau meninggalkanku... membiarkan lelaki itu membawa dan melukai tubuhku..." tersirat kekecewaan dalam wajah datar Aleeyah, nada bisiskan yang keluar dari bibirnya pun menyayat telinga Sam.
"Aku tau.. Aku tau Aleyaah.. Tolong jangan katakan itu lagi karna akan sangat menyakitiku."
"Akan menyakitimu? Huh.. Lalu bagaimana denganku? Aku sudah sakit!"
Senyuman itu.. Tidak, Sam benci melihatnya. Itu senyuman kecewa dan mengejek.
"Baby kumohon maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi hal itu." Sam meraih tangan Aleeyah namun dengan cepat dihempaskan oleh sang empunya.
"Kau meninggalkan aku, Sam. Aku sendirian... Aku benci ditinggalkan!" wajah cantik itu telah berlinang air mata namun masih tetap tak mengekspresikan apapun.
"Maaf maaf maafkan aku. Aku memang bodoh. Cukup sekali saja aku bodoh seperti kemarin."
.
.
"Aku pikir Kau berbeda tapi nyatanya kalian sama saja." batin Aleeyah sambil tersenyum miris.
.
.
"Forgive me please. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." mohonnya sekali lagi.
Suasana menjadi hening. Aleeyah masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Entah mengapa dia tidak bisa lagi sepenuhnya percaya pada Sam.
"Ternyata susah sekali untuk bisa percaya sepenuhnya lagi padamu." batin Aleeyah.
"Baiklah aku memaafkanmu kali ini-"
"Terimakasih, Sayang!" tanpa babibu lagi Sam mengecup kening adiknya.
"tapi Kau harus membantuku."
"Anything for you, Babe.."
.
.
.
.
--------
Tempat tinggal yang elegan namun simpel seperti favorit kaum millenial sekarang. Bercorak abu gelap, hitam, dan putih serta sentuhan rose pada beberapa furniturenya.
Aleeyah menginjakkan kaki pada lantai apartemen barunya yang bercorak marble berwarna cream.
Dingin...
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi Daddy."
"Yes, Dad." memeluk erat pria dewasa itu.
"Goodnight, Sweetheart." Kevin mengecup kening putrinya dengan berat hati meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen barunya.
Berkat bantuan Sam, gadis ini mendapat apa yang diinginkan. Bukan tanpa alasan Aleeyah minta tinggal sendirian.
Semenjak mengingat semua masalalunya, dia mengalami perubahan cara berpikir dan cara pandang terhadap kehidupannya sekarang.
Mulai sekarang Aleeyah menganggap bahwa dia hanya sendirian hidup di dunia ini. Semua keluarga dan orang terdekatnya sudah mati. Bryan, Ando, Sabian, bahkan Kevin dan Sam.
Sebenarnya dia sangat menyayangi Kevin. Baginya Kevin adalah malaikat penyelamat namun dia berpikir nanti pasti ada saatnya ketika Kevin juga meninggalkannya sendirian. Jadi daripada merasakan sakit yang teramat sangat ketika nanti ditinggalkan, bukankah lebih baik bila Aleeyah yang meninggalkan Kevin sekarang juga.
"Sorry Daddy, I love you so much but I think, this is the best way."
Tentu saja Kevin dan Sam akan sering datang nanti tapi Aleeyah akan menganggapnya seperti tamu dan berpura-pura tetap menjadi anak yang baik dan manja hanya di depan Kevin, sementara hatinya ia paksa untuk membuang rasa sayangnya terhadap Kevin.
Malam ini dalam kesendiriannya dikamar dengan pendar lampu yamg redup, gadis cantik itu meluapkan kembali seluruh rasa sakit hati, rindu, marah, dan sedih dalam bentuk air mata.
"Biarkan aku menangis sekali ini saja.. Untuk yang terakhir."
Air mata membanjiri wajah cantiknya yang memerah. Isakan dan rintihan terdengar sangat pilu menggema di kamar itu bahkan mungkin binatang kecil dikamar itu ikut menangis bersamanya.
Tanpa Aleeyah sadari ada sosok lain di kamar itu, sosok tak terlihat. Tangannya berusaha meraih tubuh Aleeyah lalu merengkuhnya namun urung. Sosok itu hanya berdiri menatap punggung sang gadis yang selalu ditemaninya setiap malam ketika tidur atau menangis.
Selamat menjalankan ibadah puasa yaaa teman-temancuuu.. Semangaattt!!!
Doakan uasku lancar minggu depan 😭
KAMU SEDANG MEMBACA
Ditinggalkan √
Ficção Adolescente"Ketahuilah Aleeyah.. Aku sangat membenci keberadaanmu dan itu tak akan pernah berubah!!!" "Ya.. Aku tau benar.. Dan tak akan berubah pula rasa sayangku padamu Armando.." ---------- "Jangan takut. Aku janji nggak akan pergi lagi. Aku akan terus disi...
