Gadis itu berjalan seorang diri dalam kegelapan malam.
Tubuhnya berjalan pelan tanpa tenaga, matanya menatap kosong ke depan.
Mungkin orang lain akan memandangnya sebagai wanita tak waras yang terlampau cantik apabila orang tersebut tak tau mengenai keluarga Zach.
Langkah kaki membawa dirinya menuju sebuah pantai yang tak jauh dari tempatnya berada semula.
Byurr..
Deburan ombak mulai terdengar oleh indra pendengaran Aleeyah. Hamparan laut yang luas pun telah terjangkau oleh netranya.
Angin yang dinginnya menusuk tulang tidak mengehentikan langkah gadis itu untuk mendekati bibir pantai.
Hingga air telah menyentuh kulit telapak kaki Aleeyah yang entah sejak kapan kehilangan alasnya.
Dia berhenti ketika kakinya mulai terendam air laut yang dingin.
Memandangi lautan dihadapannya.. luas.. gelap... dan sepi...
Sama seperti dirinya sekarang..
Sepi..
Dia berteriak kepada laut dihadapannya, "Aku tau Kau kesepian.. Aku juga kesepian sekarang. Kupikir kita bisa berteman dan saling mengisi kekosongan..."
Mungkin Aleeyah terlalu lelah hingga menjadi seperti ini.
Kakinya mulai melangkah untuk masuk semakin dalam ke lautan yang pikirnya akan menjadi seorang teman.
Air sudah sampai pada pinggang gadis itu namun dia benar benar seakan mati rasa terhadap dingin dan terus melangkahkan kaki.
Tepat ketika Aleeyah akan menjatuhkan diri ke dalam air, dia dikejutkan oleh sepasang tangan yang merengkuh tubuhnya lalu menarik ke tepi pantai.
"Lepaas!! Lepaskan aku!!"
Gadis itu meronta mencoba melepaskan diri dari seorang pemuda yang mencoba menyelamatkannya.
"Hey! Hey! Tenanglah!!" kata pemuda.
"Lepaskan!! Mengapa kau menyentuhku dan membawaku ke tepi!!"
"TOLONG SADARLAH!!!" teriak pemuda itu membuat Aleeyah tersentak diam.
Keheningan menyelinap diantara keduanya kemudian,
"Hiks.."
Aleeyah mulai terisak membuat pemuda dihadapannya bingung dan merasa bersalah telah bersikap kasar terhadap perempuan.
Isakannya berubah menjadi raungan yang memilukan. Pemuda itu menatap iba sekaligus bingung apa yang harus dilakukan.
Dengan perlahan pemuda itu merengkuh tubuh Aleeyah, membawanya ke dalam dada bidangnya ragu-ragu.
Namun ternyata Aleeyah memeluknya sangat erat, menangis menumpahkan segala emosi yang ada pada dirinya membuat pemuda itu mengelus punggungnya perlahan mencoba menyalurkan rasa aman.
Cukup lama Aleeyah menangis disana lalu melepas pelukannya.
Dia melihat pemuda yang berada dihadapannya. Pemuda tampan yang mungkin masih berumur belasan tahun dan, dia mengenakan seragam SMA.
"M-ma-afkan aku." kata Aleeyah.
"It's ok. Kakak tidak apa-apa?" tanya pemuda itu.
"Y-ya."
"Namaku Sabian." katanya sembari mengulurkan tangan.
"A-aku Aleeyah Zach." gadis itu menyambut uluran tangan Sabian dengan malu-malu.
"Sabian tau kok, siapa yang tidak tau Aleeyah Zach." Sabian terkekeh mencairkan suasana tapi gadis itu tak bergeming.
"Ayo ku antar Kakak pulang."
Namun Aleeyah diam tak bergerak malah menundukkan wajahnya dalam.
"Kakak?" panggil Sabian.
"A-aku tidak mau pulang." jawab Aleeyah lirih.
"Kak Armando pasti mengkhawatirkan Kak Aleeyah." kata pemuda itu.
Aleeyah mencerna kalimat itu dan tersenyum getir. Mungkinkah Ando mengkhawatirkannya?
Tidak..
Mendongak menatap dengan harap, "Tolong bawa aku pulang bersamamu.."
Suara lembut membuat Sabian tertegun.
Hening untuk beberapa detik lalu sang remaja sadad dan tergagap, "Ti-dak bisa. A-ku akan mengatar Kakak pulang." balas Sabian lalu berdiri mengulurkan tangan.
Aleeyah diam tidak menyambut uluran itu, memutus tatapan mereka dengan menghadap ke arah laut.
"Pergilah. Tinggalkan aku disini." jawabnya dingin.
Sabian bingung sekali, apa yang harus dilakukan. Bila dia membawa pulang Aleeyah bisa-bisa dia dibunuh oleh Armando mengingat bagaimana laki-laki itu over protective terhadap Aleeyah.
Tapi sebagai laki-laki yang beranjak dewasa tidak mungkin dia meninggalkan seorang wanita dengan keadaan seperti ini disini sendirian.
Dia kembali berjongkok di sebelah Aleeyah, mentap gadis itu sejenak dan mendapatkan wajah lelah serta tatapan mata yang kosong.
Dia mengangkat tubuh Aleeyah membuat gadis itu kaget namun beberapa saat kemudian dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sabian mencari kenyamanan.
Sabian berjalan menuju mobilnya, meletakkan Aleeyah di kursi penumpang. Mengambil jaket dan selimut di jok belakang lalu memakaikan pada Aleeyah.
Kemudian mengendarai mobil tersebut menuju ke rumahnya sendiri bersama Aleeyah yang telah terlelap disampingnya.
------------
Seorang laki-laki mengendarai mobilnya dengan frustasi. Beruntung jalanan sedang tidak padat sehingga tak menimbulkan kekacauan.
Masuk ke dalam rumah mewah bergaya modern dengan amarah yang meluap.
Dia membanting dan melempar apapun yang ada disekitarnya sebagai pelampiasan amarah yang berhasil mengambil kendali atas dirinya.
"Sialaaan!! Arrgghhh!!" teriaknya menimbulkan suara menggelegar.
Nafasnya menderu dan keringat mengalir di pelipisnya.
"Gadis sialaaan!!!"
"Kau tidak boleh mati rasa terhadapku seperti ini brengsek!!"
"Kau harus merasakan sakit yang lebih lagi Aleeyah.."
"Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku adik kecil .. Hahaha."
Tawanya menggelegar mengerikan. Lalu mengubungi seseorang disebrang sana.
"Cari dimana Aleeyah dan awasi dia!"
"Baik Tuan."
Catatan:
Foto di mulmed adalah Sabian yang identik dengan penampilan badboy SMA super kece namun sangat lembut dan dewasa bila bersama Aleeyah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ditinggalkan √
Teen Fiction"Ketahuilah Aleeyah.. Aku sangat membenci keberadaanmu dan itu tak akan pernah berubah!!!" "Ya.. Aku tau benar.. Dan tak akan berubah pula rasa sayangku padamu Armando.." ---------- "Jangan takut. Aku janji nggak akan pergi lagi. Aku akan terus disi...
