13 - Cairnya Segunung Es

37.1K 4.8K 353
                                        

Wattpad udah sehat kan, ya? Saya takut kalau work saya ikut bermasalah.

****

"Sekalipun terlihat seperti pahlawan, aku tetap nggak akan bilang makasih."

Aku menoleh tajam mendengar kalimat yang dicetuskan oleh Marisa. Aku memang sinis. Kuakui, aku tidak seramah sepuluh tahun lalu. Tapi aku tidak lupa dengan kebiasaan berterimakasih untuk semua bantuan yang kuterima. Sekecil apapun, aku harus tetap melontarkan sebuah terima kasih. Papa selalu mengajarkanku untuk jadi manusia yang tahu diri. Papa selalu mengajarkanku untuk jadi manusia yang mengerti akan balas budi.

Rajendra melirik Marisa yang memberikan gestur menantang dengan ringan. Terlihat tak ambil pusing, dia menggulung kemejanya hingga siku. Pria ini mendengus, lantas berbalik pergi meninggalkan aku dan Marisa.

Keras, kutarik lengan gadis itu hingga tubuhnya merapat padaku. Dia mengeluh, aku memberinya tatapan tajam yang tidak kubuat-buat. Aku tidak suka jika adikku bertindak sejauh ini. Dia harus jadi pribadi yang manis. Biar aku saja yang mahal senyum dan tutur kata penuh madu.

"Kapan Mbak ngajarin kamu bersikap tidak sopan kayak gitu?"

"Mbak El belain dia? Hanya gara-gara dia bisa ngurusin satu ular yang gedenya hanya sejempol, Mbak El luluh sama dia?"

"Pelankan suaramu."

"Nggak. Biar sekalian aja dia..."

"Marisa."

"...denger kalau bantuannya ini nggak akan pernah bisa membayar lunas kesalahan dia di masa lalu."

Saat kesabaranku habis, maka hanya jutaan rasa lelah yang menderaku. Tak lagi menghiraukan kekanakan Marisa, aku berlari ke dapur. Sebuah teko dengan beberapa mili air, sekarang sudah duduk menahan panas dari kompor. Sembari menunggu hingga didih, aku menelentangkan sebuah gelas. Kuisi dengan takaran kopi sesuai selera Rajendra.

"Maaf, Mbak El."

Aku diam saja. Kujahit bibir lebih erat, berusaha pula untuk mengabaikan Marisa lebih banyak. Sekarang ini, aku hanya kecewa terhadap sikap Marisa yang bertindak sangat keterlaluan.

Ah, tapi ini mungkin salahku. Keliruku, tatkala tengah melukis.

Karena Marisa hanya kertas dan aku adalah sebuah pena, maka Marisa hanya mengaktualisasi apapun yang pernah kutorehkan dalam lembar putih itu. Jika Marisa bisa bersikap sekasar ini, pasti aku pernah mencontohkannya di masa lalu.

"Mbak El, aku minta maaf."

Aku mengurai desah kasar, "Tahu apa salahmu?"

"Aku nggak salah. Aku ngomong yang sebenarnya. Kesalahan dia terlalu banyak, dia nggak patut dimaafkan meski sudah bantuin kita," jawabnya tetap teguh pada pendirian, "Tapi aku tetap minta maaf, Mbak El."

Marisa menarik-narik blouse putihku. Caranya mengingatkanku pada dia di masa lalu. Kala aku marah, dan dia tidak memiliki teman untuk diajak bermain, maka seperti inilah tingkahnya. Meminta maaf meski dia tidak pernah tahu letak salahnya. Berpura-pura meminta maaf, padahal dalam hati enggan sekali melakukannya.

Kukecilkan kompor berapi biru di hadapanku. Sejenak, kutelisik adikku yang katanya sudah berumur dua puluh tiga tahun. Tinggi, meski syukur tidak melampau tinggiku. Dia terlihat dewasa di luaran sana, namun kembali kekanakan saat berada di dekatku.

(Masih) Yang TerindahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang