Sisi membuka pintu apartement digo dengan lega. Dia benar benar lega akhirnya bisa sampai ke tempat ini. Dia mendegus kesal. Bagaimana bisa dia lupa nama tempat apartement milik digo ini. Yang membuatnya tersesat dan tidak tau jalan. Bodoh.
Itulah yang terjadi saat dia akan pulang. Dia harus menunggu lama angkutan umum yang lewat dan ternyata angkutan umum itu tidak melewati tempat alamat apartemen digo. Angkutan umum itu berlawanan arah dari apartemen digo. Dia harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh. Pasalnya dia harus bertanya tanya di manakah dia sekarang dan juga uang yang di berikan digo sudah habis.
Sebenarnya sisi hampir saja akan menghubungi digo. Namun dia merasa gengsi pada digo. Bagaimana mungkin setelah dia menolak ajakan digo kini malah akan meminta jemput karena tersesat.
Sisi selalu bertanya di manakah kantor Sf. Group pada setiap orang yang dia temui. Beruntung semua orang tau dimana kantor itu. Sisi sudah merasa lega akhirnya dia telah sampai di kantor itu. Namun dia masih harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh.
Sisi menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di sana. Dia menidurkan dirinya benar benar merasa sangat lelah. Hingga tanpa sadar dia terlelap. Namun belum beberapa menit dia tertidur suara digo membuatnya kembali membuka mata.
"Kenapa lo baru dateng?!" Tanya digo dingin. Gadis itu membuka matanya dan menatap digo dengan mata sayunya. Pemuda itu berjalan menghampiri sisi dan duduk di depannya.
"Aku capek." Guman sisi. Digo yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya kesal.
"Dari mana aja lo?!"
Sisi membuka matanya dan mendudukkan dirinya menatap digo. Dia membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot. Dia tersenyum.
"Aku habis dari kampuslahh... terus pulang. Aku capek soalnya tadi aku ngerjain tugas banyaakk... banget! Udah akh... aku mau istirahat." Ucap sisi bangga. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Digo menatap sisi yang berlalu. Dia tersenyum miring. Sebenarnya dia tadi mengikuti dari belakang. Gadis keras kepala itu harus dia lindungi jika tidak kakeknya pasti akan marah besar padanya dan masa depan digo juga ada di tangan gadis itu.
Digo menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya dia bisa sampai di apartemennya. Dia benar benar lelah mengikuti sisi kemana mana. Digo menyendekan tubuhnya dan terpejam. Dalam keadaan duduk dia tertidur.
●
Seorang anak kecil berumur 3 tahun tengah duduk di sebuah kursi kayu di depan rumah sederhana nan asri itu. Anak laki laki itu menatap bunga bunga berwarna warni serta kupu kupu yang berterbangan di pekarangan di depan rumah itu.
Dia yang masih kecil belum tahu apa apa merasa penasaran dengan apa yang dia lihat. Dengan mudah anak laki laki itu turun dari kursi kayu itu. Dia berjalan ke arah pekarangan bunga itu. Saat dia sudah sampai di pekarangan itu tiba tiba dia mendengar suara tangisan bayi. Mata anak kecil itu mengedip kedipkan matanya beberapa kali. Dia menoleh ke belakang.
"Ada dedek ayi naniss? Cenapa?" Kata anak kecil itu cadel.
Dia kembali berjalan ke rumah dan masuk ke dalam. Saat sudah di dalam rumah anak kecil itu melihat kakeknya tengah menggendong seorang anak bayi berusia satu tahun yang tengah menangis. Melihat itu anak laki laki itu merasa kesal. Dia tidak mau kakeknya menggendong orang lain selain dirinya.
Dia menangis keras dan berjalan menghampiri kakeknya dengan tangan ke atas minta di gendong. Sang kakek hanya tertawa melihat cucunya seperti itu. Dia berjongkok menjajarkan tubunya dengan cucunya.
"Digo jangan gitu nak. Ini adiknya lagi nangis kasian kalau gak di gendong. Lihat. Adiknya cantik gak?" Tanya kakeknya. Anak laki laki itu berhenti menangis dan menatap bayi itu. Bayi mungil berpipi chubby sangat menggemaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Arrogant My Husband
Romance"Aku tidak akan pernah mau jika aku harus di jodohkan dengan cowok sepertimu yang gayanya terlalu sok keren dan sombong! Apalagi kelakuanmu yang menyebalkan itu membuatku semakin muak!" - Sisi Oliviani "Lo harus terima perjodohan ini! Gue gak mau ka...
