♡♡♡
Sisi bingung. Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus datang ke belakang kantor apa tidak? Namun jika dia datang sisi takut. Dia takut tidak sanggup untuk menangis saat digo memeberinya surat cerai. Namun sisi juga ingin tau apa yang sebenarnya digo bicarakan nanti.
Gadis itu hanya diam di dalam ruangannya melamun. Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Datang atau tidak? Sisi menggeleng. Dia tidak akan datang. Lagipula apa memang digo tadi bicara padanya? Tidak semoga saja tidak. Sisi menghela nafas kesal dan mengacak acak rambutnya kesal. Dan membenturkan kepalanya ke atas meja. Merasa bodoh.
"Sisi?!"
Sisi mendongak mendengar seruan gea dan suara langkah kaki terburu masuk ke dalam. Dia melihat gea dan beberapa karyawan masih ke dalam ruangan divisi itu dan berjalan ke meja masing masing membereskan barang mereka lalu keluar membawa beberapa barang. Gea menghampiri sisi setelah mengambil beberapa berkas dari mejanya. Sisi merasa bingung.
"Kenapa sih?" Tanya sisi.
"Ayo kita harus cepat cepat ke lantai 6. Ada rapat mendadak untuk divisi kita. Pak manager tadi telpon marah marah." Kata gea. Sisi terbelak dan segera mengambil berkas yang menurutnya penting. Dia berdiri dan berjalan cepat menyusul gea yang berjalan di depannya.
Sisi panik dan sibuk membawa berkas miliknya yang sedikit banyak. Hingga dia tidak berhati hati dan tersandung kakinya sendiri. Beruntung dia tidak jatuh karena sisi bisa menjaga keseimbangannya. Namun berkas berkas miliknya berserakan di lantai. Gea menoleh dan menghela nafas.
"Si! Ayo cepet!" Seru gea. Gadis itu berhenti berjalan dan melihat ke depan lagi melihat teman temannya yang lain. Sisi berdecak kesal dan berjongkok untuk mengambil berkasnya. Namun belum juga jongkok tiba tiba ada seseorang yang menariknya ke dalam lift. Memang kebetulan sekali sisi berhenti di depan lift. Sisi terpekik kaget saat dia merasa ada tarikan keras hingga dia masuk ke dalam lift itu.
Sisi mendongak untuk melihat siapakah yang menariknya dan sisi terkejut melihat jika digolah yang menariknya. Pemuda itu kini tengah menatap sisi tajam dengan jarak dekat karena tangannya masih di pegang oleh digo.
"Dig- Pak digo? Kenapa anda menarik saya ke sini?! Maaf pak tapi saya harus mengikuti rapat-"
"Kenapa gak dateng?!" Sela digo. Sisi terdiam menatapnya. Digo menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tanya kenapa gak datang?!" Ulang digo. Sisi mengedipkan matanya beberapa kali. Dia bingung harus menjawab apa.
"Aku tanya kenapa kamu gak datang tadi?!" Tanya digo lagi.
"Aku tadi sibuk." Jawab sisi singkat. Sisi mengadahkan tangannya ke arah digo. Digo menatapnya bingung.
"Apa?!" Tanya digo. Sisi menghela nafas.
"Kita sekarang sudah bertemu. Mana suratnya? Biar aku tanda tangani. Dan kita akan resmi pisah." Jawab sisi. Digo menggeleng.
"Gak gue gak akan cerai sama lo." Kata digo.
"Kenapa?"
"Si..."
Sisi menatap digo yang memanggilnya lembut. Pemuda itu memegangi kedua tangan sisi dan menatapnya dalam. Sisi terpaku pada mata itu.
"Ajari aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersama kamu. Aku gak mau pisah dari kamu. Jadi ajari aku mencintaimu." Kata digo. Sisi terdiam. Ajari mencintai? Sisi menggeleng.
"Aku tidak bisa digo. Cinta datang dari hati. Aku nggak maksa kamu buat cinta sama aku." Kata sisi menjawab.
"Si... aku pengen kita hidup bersama. Aku ingin menjalin keluarga dengan kamu. Punya anak bersama. Bahagia." Kata digo. Sisu terdiam tidak bisa menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Arrogant My Husband
Romance"Aku tidak akan pernah mau jika aku harus di jodohkan dengan cowok sepertimu yang gayanya terlalu sok keren dan sombong! Apalagi kelakuanmu yang menyebalkan itu membuatku semakin muak!" - Sisi Oliviani "Lo harus terima perjodohan ini! Gue gak mau ka...
