#20-Duka-

15.6K 1K 42
                                        

Sisi membuka matanya perlahan. Dia menerjabkan matanya dan hal pertama yang sisi rasakan adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya. Gadis itu mendesis kesakitan dan berusaha untuk mendudukkan dirinya.

"Udah tau masih sakit mau duduk! Udah tidur aja!"

Sisi menoleh ke arah digo yang kini duduk di samping ranjangnya. Dia mengernyit dan memegangi kepalanya. Dia berdecak kesal mengingat dia baru saja di keroyok fans fanatik digo. Ratna benar benar ganas. Bukan mbak mbak menor itu juga sama saja.

"Kenapa lo bisa di keroyok sama mereka tadi?!" Tanya digo dingin. Sisi mendegus.

"Mereka tau hubungan kita." Kata sisi sebal. Digo menaikkan sebelah alisnya.

"Kok bisa?" Tanya digo santai. Sisi menatapnya kesal.

"Kamu. Kenapa waktu itu bisa ketahuan sama tika?! Dia itukan mulutnya ember! Udah deh! Aih... gimana nih?! Mereka udah tau hubungan kita?!" Tanya sisi bingung.

"Yaudah sih. Biarin aja. Itu gak penting!" Jawab digo. Sisi menatapnya sinis.

"Gak penting?! Malu maluin aku tau! Nanti kalau kita cerai gak akan ada yang mau sama aku! Pasti mereka ngiranya aku ini janda. Terus aku ini bukan cewek baik baik!" Omel sisi.

"Emang iyakan. Kalau lo cerai sama gue yahh... jandalah." Jawab digo santai.

"Enak aja! Aku masih perawan ting ting! Mana ada janda perawan?!" Katanya kesal.

"Ada kali gak lo aja. Di tv banyak." Ujar digo santai. Sisi hanya mendegus kesal.

"Pokoknya aku harus ngomong sama rama. Kali aja dia mau sama aku kalau-"

"Kata siapa kita bakal cerai?! Udah gak usah ngomongn itu lagi! Yang harus lo pikirin itu kesehatan lo! Baru kena masalah mikirin hal lain!" Ucap digo kesal. Sisi merengut mendengarnya.

"Aku gak papa kok." Jawab sisi. Digo menghela nafas panjang manatap sisi sendu.

"Bener lo gak papa? Soalnya ada hal penting yang harus gue omongin sama lo!" Kata digo. Sisi mengernyit.

"Apa? Penting banget?" Tanya sisi. Digo mengangguk.

"Tentang ibu lo."

Sisi menatap ibunya yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Air mata jatuh mengalir di pipinya. Sisi memegang tangan ibunya yang dingin. Dia menghapus air matanya dan menatap ibunya sedih.

"Ibuu..." guman sisi sedih.

"Biarin dia istirahat dengan tenang si. Lo harus relain dia. Tanda tangan untuk pencabutan semua alat bantu dan ibu lo akan tenang."
Sisi menoleh menatap digo tajam. Dia menggeleng keras.

"Gak aku bisa biarin ibu.... gak ibu bilang dia gak akan ninggalin aku sendirian! Ibu bangunn... sisi di sini!" Ujar sisi dan menggoyangkan ibunya agar. Digo menatap sisi sendu. Dia mendekati sisi dan memegang lengan sisi.

"GAK! AKU GAK MAU DIGO!!!" Seru sisi dan menyentak tangan digo. Dia menatap ibunya.

"Ibuuu... hiks... jangan tinggalin sisi! Ibu bangun! Ibu masih hidup sisi yakin!" Serunya. Tubuh sisi meluruh ke lantai tidak sanggup melihat ibunya.

"Ibuu... hikss... jangann... tinggalin sisi buu... hikss... ibu... ibuu.... jangan tinggalin... sisi..." gumannya dengan air mata yang mengalir deras. Menangis hanya itu yang bisa sisi lakukan.

Digo berjongkok dan memeluk sisi. Sisi menyenderkan kepalanya dan memukul dada digo. Gadis itu menggeleng.

"Aku gak mau kehilangan ibu digoo..."

Mr. Arrogant My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang