#33-Kebenaran-

15.6K 1K 12
                                        

Sisi berjalan berdampingan dengan digo masuk ke dalam kantor. Keduanya berjalan dengan tangan bergandengan. Digo pemuda itu terus saja menatap sisi yang berjalan di sampingnya dengan senyum di wajahnya. Dia bahagia sisi ada bersamanya.

"Selamat pagi pak." Sapa semua karyawan yang melihat digo. Digo mengalihkan pandangannya menatap karyawan yang menyapanya dan tersenyum lalu menatap sisi lagi.

"DIGO?!"

Digo mengernyit melihat raut wajah sisi berubah masam saat mendengar suara panggilan itu. Pemuda itu menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilnya. Digo tersenyum dan dia menghentikan langkahnya. Sisi ikut berhenti karena tangannya di pegang oleh digo. Dengan kesal sisi menghadap ke belakang ke arah pintu masuk kantor.

"Salsa? Kenapa?" Tanya digo ramah. Salsa tersenyum dan berjalan menghampiri digo.

"Digo aku duluan yah..." Ucap sisi merasa kesal melihat salsa. Digo menoleh ke arah sisi tidak suka di tinggal.

"Di sini aja bentar." Kata digo. Sisi menghela nafas. Mendengar itu digo tau jika istrinya sedang kesal. Digo langsung merengkuhnya dari samping. Tangan digo merangkul pinggang sisi seakan menenangkan gadis itu. Sisi terkejut dan mendongak menatap digo yang menatap salsa. Sisi tersenyum dan merangkul digo di pinggangnya.

"Ada apa?" Tanya digo.

"Yahh... kan aku sering kesini digo. Kamukan tau kalau di indo aku gak ada keluarga-"

"Kalau gitu kenapa kamu masih tetap di Indonesia?" Tanya sisi menyela salsa. Salsa menatapnya kesal. Sisi hanya tersenyum.

"Apa salah kalau aku kesini?" Tanya salsa pada digo.

"Gak kok gak salah lo kan customer hotel kami." Jawab digo. Salsa tersenyum. Sisi mendegus kesal.

"Digo aku mau ke ruangan aku aja." Ucap sisi dan berusaha melepaskan tangan digo dari pinggangnya.

"Oke oke ayo kita pergi." Ucap digo pada sisi. Pemuda itu menoleh ke arah salsa.

"Gue pergi dulu." Kata digo dan berjalan pergi bersama sisi.

Salsa mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap sisi dan digo yang berjalan menjauhinya dengan pandangan marah. Matanya memerah menahan tangis. Dia langsung menyeka air matanya kasar saat air matanya jatuh. Salsa berjalan keluar dari kantor itu dengan menahan amarah.

'Lo udah rebut digo dari gue si! Gue harus lenyapin lo dari hidup digo. Lo harus menjauh dari hidup digo. Digo satu satunya cara biar gue tetap hidup. Gue udah gak punya apapun. Reno keparat! Lihat aja digo lo akan jatuh ke tangan gue. Lo akan jatuh cinta lagi sama gue.'

●○●

Malam telah tiba. Digo dan sisi sedang bersantai di kamarnya sambil menonton televisi. Sisi bersandar nyaman di dada digo. Digo yang ada di belakangnya memeluk sisi dan mencium pucuk kepala sisi sayang. Digo menikmati wajah senang sisi yang fokus pada televisi di depannya. Dia lega istrinya kini telah kembali bersamanya meskipun dia telah menyakiti sisi entah berapa kali.

Suara dering telepon dari handphone digo menyentak mereka berdua. Dia mengambil handophonenya dengan malas. Sisi cemberut kesal saat melihat nama salsa di sana. Melihat itu digo terkekeh dan mencium bibir sisi yang mengerucut kesal.

"Halo?" Ucap digo saat sudah mengakat panggilan itu. Digo mengernyit mendengar salsa.

"Lo kenapa? Owhh... sakit. Makanya kalau sakit jangan keluar dari hotel." Nasehat digo. Sisi semakin kesal. Gadis itu beranjak dari sandarannya akan pergi. Namun digo menahannya dengan memeluknya dengan erat.

"Apa? Ke hotel? Gak gue gak bisa. Eh sorry yah sal istri gue lagi ngambek nihh... bye!" Ucap digo dan mengakhiri telepone secara sepihak.

"Kenapa?!" Tanya sisi jutek. Digo tersenyum.

Mr. Arrogant My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang