Tiga minggu sisi tinggal di rumah keluarga Syarief. Yeah dia kembali tinggal di rumah itu. Hanya saat dia sakit. Setelah satu minggu berada di rumah sakit akhirnya siai pulang ke rumah itu tidak ke apartemen. Kakek marah pada digo karena menurutnya dia tidak bisa menjaga sisi hingga dia terluka. Dia memaksa digo untuk kembali tinggal di rumah. Namun digo menolak. Hingga dia memutuskan untuk tinggal di rumah itu sampai lukanya sembuh.
Malam ini sisi sedang tidur di kamar digo sendirian. Lagi lagi mimpi itu datang. Selama empat minggu ini sisi selalu di hantui oleh mimpi itu. Sisi sangat takut. Biasanya dia akan melihat digo tidur di sampingnya. Sisi sedikit merasa lega. Namun kini. Malam ini sisi sendirian. Mimpi itu semakin membuat sisi takut. Dia merasa seperti berada di dalam mimpi itu.
Lampu kamar yang mati membuatnya semakin takut. Sisi berjongkok di pojok kamar dengan memeluk kakinya. Dia menangis menyembunyikan kepalanya di kakinya. Dia terisak ketakutan. Tubuhnya gemetar dan matanya terpejam dengan air mata yang mengalir.
"Ayahh... ibuu... kakekk.... sisi takuuttt...." gumannya berkali kali. Tidak ada siapapun di dalam kamar ini. Dia hanya sendiri. Tidak ada siapapun di sana. Teringat saat waktu kecilnya dulu. Menangis di dalam lemari bersembunyi dari bahaya yang sedang menimpanya. Pintu kamar terbuka membuat sisi semakin bergetar ketakutan. Tubuhnya semakin merapat di pojok ruangan dan menyembunyikan dirinya.
"Kok gelap sih? Katanya si mata empat ada di kamar?" Digo mengernyit bingung melihat keadaan kamar sangat gelap. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamarnya mencari sisi. Kakinya berhenti berjalan saat tiba tiba dia ingat jika sisi mengalami trauma.
'Jangan jangan dia....' digo mengedarkan pandangannya mencari sisi. Dia merasa sangat panik saat tidak melihat sisi di dalam kamar. Dan kini digo terpaku menatap sisi yang meringkuk ketakutan di pojok kamar di samping ranjang. Digo menghela nafas panjang. Pemuda itu berjalan cepat menghampiri sisi.
"Heii..." ucap digo. Dia menyentuh sisi. Namun belum menyentuhnya tiba tiba saja tangannya di sentak oleh sisi. Digo terkejut.
"Enggak! Jangan! Kakek! Ibu ayah! Sisi takut!" Guman sisi ketakutan dan bergetar. Digo terenyuh melihatnya. Dia bergerak semakin mendekati sisi. Dengan perlahan digo memeluk sisi dengan lembut.
"Arrrggghhhh.... tolooonggg..... ayaaahhh ibuuu kakeeeekkkkk!!!" Pekik sisi memberontak. Digo memeluk sisi semakin erat dan mengelus kepalanya.
"Ssttt... ssssttt... heii... ini akuu... sisiii... aku digo bukan penjahat. Kamu aman sama aku. Maafin aku udah ninggalin kamu." Tenang digo pada sisi. Gadis itu masih saja memberontak ketakutan. Digo merasa kesal.
"SISI?! LO BISA DIEM GAK?!" Seru digo kesal dan melepaskan pelukannya pada sisi. Sisi tersentak kaget mendengar bentakan itu. Gadis itu mendongak menatap digo yang kini menatapnya kesal. Tanpa dia rasa tiba tiba saja air mata sisi mengalir dari mata beningnya. Lagi lagi digo tertegun melihat itu. Di memeluk sisi kembali dan gadis itu kembali menangis terisak.
"Ssstt... maaf udah bentak kamu." Ucap digo dan mengelus punggung sisi. Sisi memeluk digo dengan sangat erat.
"Digo aku takut! Mereka mau bunuh aku!" Ucap sisi sambil menangis. Digo memejamkan matanya dan menaruh dagunya di atas kepala sisi.
"Mereka gak akan bisa nyentuh kamu. Kamu akan aman sama aku." Jawab digo. Merasa sudah baikan digo menggendong sisi dan membaringkannya ke atas ranjang lalu menyalakan lampu. Sisi menatap digo intens. Sedari tadi tatapannya selalu menatap pemuda itu dengan pandangan sendu.
"Digo?!" Panggil sisi saat pemuda itu bergerak akan meninggalkan sisi. Digo menatap sisi dengan pandangan bertanya.
"Kamu ja jangan pergi." Pinta sisi. Digo menghela nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Arrogant My Husband
Romance"Aku tidak akan pernah mau jika aku harus di jodohkan dengan cowok sepertimu yang gayanya terlalu sok keren dan sombong! Apalagi kelakuanmu yang menyebalkan itu membuatku semakin muak!" - Sisi Oliviani "Lo harus terima perjodohan ini! Gue gak mau ka...
