Matahari sudah menampakkan dirinya menandakan bahwa pagi sudah tiba. Semua orang sudah mulai dengan kegiatan pagi mereka masing masing. Ada yang berolahraga, memasak, pergi ke kantor, dan berangkat sekolah. Namun ada dua orang yang masih saja menikmati tidurnya dengan saling memeluk satu sama lain. Kamar tersebut terlihat gelap karena matahari tidak bisa masuk ke dalam kamar tersebut. Gorden kamar yang menutupi jendela kamar membuat matahari tidak bisa menembus ke dalam kamar.
Kedua insan itu adalah digo dan sisi. Sisi tidur sambil memeluk digo dan menjadikan dada digo sebagai bantal. Sedang digo menjadikan sisi sebagai gulingnya untuk tidur. Digo pemuda itu menggeliat dan membuka matanya perlahan. Dia menerjabkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya.
Hal pertama yang dia rasakan saat bangun tidur adalah rasa sakit di kepalanya. Pemuda itu memukul kepalanya pelan untuk menghilangkan rasa pusingnya. Dia berdecak kesal. Pasti kemarin dia kebanyakan minum. Jadinya seperti ini. Dia beranjak bangun untuk minum. Namun dia tidak bisa menggerakkan badannya. Tubuhnya terasa berat. Sesuatu menindih badannya.
Digo mengernyit bingung dan melihat ke arah dadanya. Dan matanya terbuka lebar saat melihat sisi tertidur di dadanya dengan nyenyak. Dia merasa heran. Kenapa gadis ini bisa ada di dalam kamarnya? Apa yang di lakukan gadis ini? Digo berdecak kesal dan berusaha menyingkirkan sisi.
Berhasil. Gadis itu kini terlelap dengan tenang di sampingnya. Digo menoleh menatap sisi yang tertidur. Lucu. Gadis itu terlihat imut dan lucu saat tertidur. Digo tersenyum. Namun lagi lagi tatapannya tertuju pada bibir sisi yang ternganga.
'Apa aku bisa mencium gadis ini? Kenapa tidak? Dia istriku! Iya. Tidak. Aku benci mereka. Benci perempuan. Semua perempuan itu sama saja. Yang di butuhkan hanya uang dan uang! Aku benci mereka semua termasuk si mata empat!' Batin digo. Dia mendudukkan dirinya. Namun kembali menoleh ke arah sisi.
'Sekali saja bolehkan? Aku janji ini terakhir. Setelah itu tidak lagi!' Batinnya. Dia kembali mendekatkan dirinya ke arah sisi dan sudah siap untuk menciumnya.
Tiba tiba saja mata sisi terbuka dan menatap digo yang kini berada dekat dengannya. Melihat mata sisi yang terbuka seperti itu digo tersikap dan langsung menjauhkan dirinya. Dia mengalihkan pandangannya dari sisi dan menatap yang lain. Tangannya terkepal merasa kesal karena gagal mencium gadis itu.
"Jam berapa sekarang?" Tanya sisi saat dia sudah sadar dari tidurnya. Digo menoleh ke arah jam yang ada di atas nakas.
"Jam sembilan kurang lima belas menit." Jawab digo. Sisi mengangguk dan duduk. Dia menatap digo heran. Kenapa pemuda ini tidak ke kantor. Apa memang dia sedang libur? Sisi hari ini tidak ada kelas. Jadi dia bisa santai. Tapi digo? Ini hari rabu, apakah ada kantor libur hari rabu? Kecuali jika tanggal merah pasti libur.
"Digo kamu gak ke kantor? Libur yah?" Tanya sisi hati hati. Digo melirik ke arah sisi kesal. Dia lagi kesal tapi sisi malah mempertanyakan hali itu? Menyebalkan! Kerja? Bagaimana dia bisa kerja jika dia terus mengganggu pikirannya! Di kantor digo tidak pernah tenang. Lagipun kantor masuk jam 8.
Dan digo tersentak kaget. Dia kembali menoleh ke arah jam. Benar jam sembilan kurang. Dia sudah sangat terlambat. Dia langsung turun dari ranjang dengan cepat dan langsung ke kamar mandi. Dia benar benar terlambat.
Melihat itu sisi menggeleng. Aneh. Kenapa tadi digo diam lama sekali? Bukannya langsung mandi dia malah bengong dulu. Sisi menghembuskan nafasnya panjang. Dia akan menyiapkan pakaian dan sepatu untuk digo. Untuk kali ini dia akan membantu digo.
Sisi berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah lemari pakaian digo. Dia mengambil jas berwarna abu abu dan kemeja putih polos. Lalu mengambilkan dasi abu abu dan sapu tangan. Setelah itu sisi menaruhnya di atas ranjang. Dia menatap ruang kamar digo. Sudah rapi. Ranjang sudah dia bersihkan sebelum menaruh pakaian itu. Sisi tersenyum senang dan langsung keluar dari kamar digo menuju kamarnya. Kemarin malam adalah malam yang membahagiakan bagi sisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Arrogant My Husband
Romance"Aku tidak akan pernah mau jika aku harus di jodohkan dengan cowok sepertimu yang gayanya terlalu sok keren dan sombong! Apalagi kelakuanmu yang menyebalkan itu membuatku semakin muak!" - Sisi Oliviani "Lo harus terima perjodohan ini! Gue gak mau ka...
