#16-Penjahat-

15.8K 1K 51
                                        

Sisi mematut dirinya di depan cermin. Dia tersenyum dan mengambil tasnya yang dia taruh di meja rias di depannya. Hari ini adalah hari minggu. Dia akan pergi ke panti asuhan Kasih Bunda tempat biasanya dia datang kesana. Sudah lama sekali dia tidak pergi ke sana.

Sisi berjalan riang keluar dari kamarnya. Dan dia melihat digo tengah duduk di depan tv memainkan ponselnya. Luka jahitan digo sudah kering. Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian di kantor waktu itu.

"Digo aku mau ke Panti bolehkan?" Tanya sisi pada digo. Digo menoleh.

"Gak!"

"Apa?" Tanya sisi tidak mendengar ucapan digo.

"Iya sana pergi aja!" Kata digo malas dan kembali memainkan ponselnya. Sisi tersenyum manis dan berjalan keluar dari apartemen digo.

Digo menatap kepergian sisi. Dia menyenderkan badannya ke sofa dan memejamkan matanya. Dia mendegus kesal. Dia sendirian di apartemen ini. Seharusnya dia senang. Namun dia merasa sepi. Biasanya dia akan bertengkar dan adu mulut dengan si mata empat. Tapi sekarang gadis itu pergi. Apa dia ikut saja?

"Gak gak gak! Ngapain gue ke sana?! Kayak gak ada kerjaan lain aja!!!" Kata digo kesal.

Namun nyatanya pemuda itu juga akhirnya mengikuti sisi. Dia melihat sisi yang kini masuk ke dalam bus. Digo berjalan mengikuti sisi. Dia masuk ke dalam bus dan duduk di sebuah kursi kosong. Dia menutupi wajahnya dengan topi dan hodie yang dia pakai. Tatapan digo tidak lepas dari sisi yang kini duduk dengan tenang di tempatnya.

Namun kemudian tatapan digo tertuju ke seorang laki laki yang kini berdiri di samping sisi. Digo memicing melihatnya. Sepertinya orang itu sedang akan mencopet sisi. Digo berdiri dari duduknya dan segera berjalan ke arah sisi dengan sedikit kesusahan karena bus tersebut jalan dengan cepat saat melihat orang itu sudah akan merogoh tas milik sisi. Suasana di dalam bus memang tidak ramai. Hanya beberapa orang yang mengisi bus tersebut.

Brukkhhh...

"Maaf mas saya tidak sengaja! Mbak geseran mbak saya mau duduk di sini!" Kata digo dengan memberatkan suaranya.  Pencopet tadi menggeleng menatap digo. Dia berjalan ke depan meninggalkan sisi. Sisi mendongak dan mengernyit. Dia bergeser dan duduk di samping jendela bus. Tatapan sisi kini tertuju pada jalanan ibu kota.

"Lo bisa gak sih hati hati?! Lo gak sadar kalo tadi orang itu mau copet lo?!"

Sisi menoleh terkejut ke arah sampingnya. Digo menatap sisi dengan wajah datarnya dan membuka hodienya. Topinya masih bertengger di atas kepalanya.

"Di digo? Kok kamu bisa ada di sini?!" Tanya sisi terkejut. Digo hanya menatap sisi dan menghadap ke depan.

"Gue juga gak tau kenapa gue bisa kesini!" Guman digo. Sisi mengernyit.

"Kamu ngikutin aku yah?" Tanya sisi. Digo menegang mendengarnya. Namun kemudian dia menatap sisi datar.

"Ngapain juga gue ngikutin lo!"

"Buktinya kamu disini! Ngapain kalo gak ngikutin aku? Kamukan punya mobil buat apa naik bus ini?" Tanya sisi. Digo mengernyit kesal.

"Oke gue emang ikutin lo. Tapi bukan karena gue suka sama lo. Gue tadi lihat ada orang mencurigakan ngikutin elo." Kata digo kesal. Sisi menaikkan sebelah alisnya.

"Tapi aku gak bilang kalau kamu suka sama aku." Ucap sisi santai tanpa menyadari ruat wajah digo yang berubah.

"Ya gue mau memperjelas aja. Kali aja lo berpikiran kalo gue suka sama lo." Jelas digo. Sisi hanya mengangguk dan kini pandangannya tertuju pada jendela menatap jalanan ibu kota.

Mr. Arrogant My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang