#22-Kesakitan-

14.9K 1K 44
                                        

Tiga hari berlalu. Selama itu digo tidak tidur karena mencari sisi. Pemuda itu hampir frustasi mencari gadis itu karena tidak kunjung menemukannya. Digo merasa marah saat tau jika tikalah yang membuat sisi hilang seperti ini. Tika membantu penjahat itu untuk menculik sisi. Digo berjanji jika dia bertemu dengan tika dia akan melemparnya ke kandang singa saja. Benar benar menyebalkan!

Digo kini tengah mengemudikan mobilnya ke tempat orang suruhannya untuk mencari sisi. Sampai di tempat itu dia langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang sedikit kumuh.

"Gimana?!" Tanya digo saat sudah berada di dalam. Pemuda itu menatap seseorang yang kini sedang duduk di depan komputer. Pemuda itu menoleh. Ke arah digo.

"Gue gak nemuin apa apa." Jawabnya. Digo mengepalkan tangannya marah.

"Argh... sial! Kenapa bisa gak ada?!" Teriaknya. Pemuda itu menatap digo dan menghela nafas.

"Tapi ada satu hal yang terlihat dari cctv yang ada di depan gedung kampus itu. Kemungkinan besar kita bisa menemukan istri lo dari situ." Jelasnya lagi. Digo menatapnya dengan pandangan terkejut.

"Apa?!" Tanyanya dan langsung mendekati komputer di depan pemuda itu.

"Gue lihat ada mobil yang mengangkut istri lo sama temen lo." Jelasnya lagi. Digo mengangguk.

"Iya! Lo bisa lacak mobil itu sekarang ada di mana?!" Tanya digo. Pemuda itu mengangguk.

"Tapi mobil itu sudah di hancurkan dengan meledakkan bom di dalamnya." Ucapnya. Digo mendelik kesal.

"Jadi maksud lo kita gagal lagi gitu?!" Teriak digo kesal. Pemuda itu hanya menampakkan cengirannya.

"Tenang boss... kita masih bisa mencarinya dari alat pelacak yang lo taruh di kalung istri lo."

Flashback~

Saat itu sisi sedang fokus pada tugas kuliahnya yang sangat banyak karena sudah dua minggu dia tidak masuk kuliah karena kejadian di panti waktu itu. Sisi mendesis kesakitan saat punggungnya lagi lagi terasa nyeri. Luka itu benar benar membatasi gerak badannya.

"Luka lo masih sakit?!"

Sisi menoleh ke arah belakang di mana pintu masuk kamarnya berada. Di sana di ambang pintu digo sedang menatapnya dengan bersendekap dada. Sisi mendegus kesal.

"Gak kok gak sakit. Cuman nyeri aja. Tapi nyerinya kebangetan!" Kata sisi kesal. Digo berjalan mendekati sisi dan menarik kursi rias yang ada di samping meja belajar sisi. Pemuda itu menariknya dan mendudukkan dirinya di samping sisi. Sisi menatapnya heran.

"Mau apa?!" Tanya sisi. Digo hanya diam menatap sisi dengan wajah datarnya. Di tatap seperti itu membuat sisi risih.

"Apaan sih?! Kenapa natapnya gitu banget?!" Ujar sisi kesal. Digo menatap mata sisi dan menghela nafas. Dia merogoh sakunya dan memberikan sisi kalung di telapak tangannya. Sisi hanya diam menatap kalung yang ada di tangan digo.

"Apa itu?"

"Kalung." Jawab digo. Sisi berdecak.

"Yah tau kalung tapi buat apa?!" Tanya sisi kesal.

"Karena lo udah nyelamatin nyawa gue jadi gue kasih kalung ini sebagai hadiah! Nih! Harus di pakai jangan sampai hilang atau lepas! Ini barang mahal!" Jawab digo memerintah dan mengambil tangan sisi lalu menaruh kalung itu di telapak tangannya.

Sisi menatap kalung itu. Kalung yang indah. Sisi tersenyum dan menatap digo. Tatapan senangnya kemudian berganti rasa curiga. Bagaimana mungkin digo mau memberinya kalung begini. Tidak mungkin hanya karena hal itu. Kalau karena itu digo bisa memberinya uang. Tidak biasanya digo memberinya perhiasan seperti ini.

Mr. Arrogant My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang