8. Marry

6.6K 260 33
                                        

Lima hari. Bukan waktu yang cukup untuk memulihkan diri dari trauma besar yang sulit diterima oleh jiwa Marisa. Keperawanannya telah terenggut paksa oleh pria yang bahkan sama sekali tak dikenalnya.

Lima hari ia tak pergi kuliah. Ia juga tak tahu kalau Tante Hani belum pulang dan toko tutup. Tapi hari ini Kayla menemuinya. Membawakan sebungkus ketoprak kesukaannya.

"Kamu kelihatan beda banget, Ris." Ada nada prihatin yang kentara dari ucapan simpatik Kayla yang melihati sahabatnya makan ketoprak dengan lahap.

Marisa mengangkat wajahnya dari piring, tersenyum getir. Lalu menunduk lagi. Berusaha menikmati sisa santap siangnya.

"Tante Hani barusan telepon. Ibu mertuanya meninggal pagi ini. Jadi kemungkinan dia belum bisa pulang dalam waktu dekat."

Marisa terdiam sesaat. Agak kaget mendengar berita duka itu. Tapi juga merasa diri tidak bisa berbuat apa-apa.

"Toko juga terpaksa tutup sampai Tante Hani pulang."

Masih menekuri sisa ketoprak di piringnya, Marisa menggangguk lagi.

"Ris, sakit kamu serius, ya? Kok aku dari tadi dicuekin terus."

"Aku baik-baik saja, Kay. Sudah mendingan dari kemarin." Sumpah. Apa yang diucapkan Marisa itu sama sekali bukan bualan. Setidaknya, butuh tiga hari untuk memulihkan cara berjalannya. Tiga hari untuk meredakan iritasi di sekitar salangkangan. Empat hari untuk menghilangkan seluruh bekas kissmark dan lebam-lebam di seluruh tubuh terutama bagian leher, lengan, payudara, dan bibir. Lima hari untuk mengembalikan kepercayaan dirinya berinteraksi dengan oarang lain termasuk Kayla. Serta entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan Marisa untuk menyingkirkan traumanya.

"Habis ini aku antar ke dokter ya."

Marisa melotot. "Aku sudah bilang baik-baik saja. Enggak perlu ke dokter."

"Ya Sudah. Kalau begitu, enggak apa-apa kan bila Marvel dan Sandi datang ke sini? Mereka mau—"

"Kayla!"

"Dengerin dulu, Ris!"

"Aku lagi enggak mau ketemu siapa-siapa. Kamu pikun, ya?"

"Risa! Mereka cuma mau menjenguk kamu. Mau tahu keadaan kamu. Mereka itu care sama kamu." suara Kayla naik satu oktaf. "Dan satu lagi. Aku enggak pikun."

Marisa menarik napas. Menyadari dirinya yang ternyata begitu cepat emosi pasca insiden malam itu. "Aku enggak perlu reaksi simpatik dari mereka." ucapnya lirih.

"Terserah."

Detik berikutnya, Kayla melenggang pergi. Tidak sabar menghadapi sikap Marisa yang berubah drastis.

***

Sudah dua minggu Marisa kembali aktif di kampus. Melewati UAS dengan tenang. Sedikit-sedikit ia mulai bisa melupakan insiden lima minggu lalu. Oh, bukan melupakan. Tapi mengabaikan.

Sebab Marisa tak kuasa untuk melupakan suatu momen yang benar-benar membekas dan melekat dalam kepalanya. Bahkan sampai sekarang, ia masih bisa merasakan setiap perlakuan kasar pria itu. Bahkan ia masih hafal bagaimana rasa sakitnya. Bagaimana ia merasa tubuhnya begitu penuh dan sesak. Bagaimana ia merasakan darah segar mengalir dari organ intimnya.

Ya Ampun! Bahkan rasa-rasanya ia tak bisa mengenyahkan semua itu. Pikirannya bagai dipaku permanen pada bayangan-bayangan satu malam.

"Boleh saya duduk di sini?"

Marisa menoleh. Satu lesung pipi yang selalu menawan hatinya itu kembali memamerkan diri dengan percayanya. Yang diam-diam ia kagumi. Lalu, Marisa mulai berandai...

"Mar?!"

Eh. Marisa mengerjap cepat. Tersenyum kikuk dan mempersilakan Sandi untuk duduk di kursi di depannya. Suasana kantin siang ini cukup ramai menjelang libur panjang.

"Kamu ikut camping bareng anggota DPMF, kan?"

"Eh, em... belum tahu, Kak."

"Kok belum tahu? Acaranya lima hari lagi lho. Oh, atau kamu mau pulang kampung?"

Pulang kampung. Sekarang kenapa kalimat itu mendadak jadi begitu menyeramkan bagi Marisa? Rasanya ia belum siap menghadapi keluarga dengan kondisi kejiwaan yang hampir gila.

"Kok melamun lagi, Mar? Kamu masih sakit ya?"

Marisa tersenyum. "Enggak kok. Kali ini saya tidak berencana untuk pulang kampung. Kemungkinan Mama dan Papa yang akan datang ke sini."

Bahkan membayangkan bagaimana reaksi orangtuanya saat tahu seperti apa rupa Marisa saat ini, pun itu terasa bagai kesuraman tak bermuara.

Sandi mengangguk-anggukkan kepalanya. "O ya, Marry. Ups... boleh saya panggil Marry?"

"Marry?"

"Iya. Dobel 'r' dan pakai 'y'."

"Kenapa?"

"Enggak apa-apa. Suka saja."

Marisa tersipu. Ia menunduk sesaat. Kemudian tak ada satu pun yang memulai kembali percakapan. Mereka sama-sama canggung. Ditambah beban pikiran Marisa yang kembali datang menghantui.#

Pernikahan Mendadak [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang