Ivan pov
Acara reuni ini membosankan. Sebenarnya niat awal akhirnya aku mau datang adalah untuk memastikan kedatangan dia. Semalam Tari menghubungiku lewat sms kalau akan ada kejutan buat reuni kali ini, Tari memang seorang mantan fans yang durhaka. Bahkan sekarang sama sekali ia tidak senang ketika aku mengungkit kegilaannya jaman dulu.
Hal yang membuatku bosan apalagi kalau bukan karena kehadiran Cello. Muak rasanya menyebut namanya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tetaplah anggota kami. Aku heran kenapa dia terlihat baik- baik saja bertemu denganku seperti ini? Atau dia mau pamer karena telah melakukannya? Sahabat macam apa dia? Tiba-tiba saja ku mengingat hari itu. Hari yang membuat persahabatan kami perlu di pertanyakan.
13 februari 2004
Author pov
Imel sedang asyik membantu Wulan merapikan rambutnya. Wulan punya kebiasaan yang aneh, Anak itu suka sekali memilin rambutnya ketika sedang gugup. Sehingga mengakibatkan rambutnya sering kusut
"Besok valentine 'kan, Iv?" Wulan sengaja mengeraskan suaranya agar Reno mendengar, aku tahu dia ingin memancing reaksi Reno agar kemarahan Reno mereda. Sudah seminggu ini Reno menjauh, hal itu terjadi karena dengan lancang Wulan mempermalukan Reno di kantin.
"Kamu udah minta maaf sama Reno?" Imel masih asyik memisahkan rambut yang saling mengait.
"Buat apa?" jawab Wulan cuek, tapi Imel tahu hati Wulan tidak tenang.
"Kalau kalian diam diaman terus, jadi nggak Asyik. Ayolah, baikan."
"Ini kamu mau ngerapiin atau malah ngacak acak ih, Iv?"
"Gimana kalau besok kamu kasih hadiah buat dia Lan, sekalian Valentine." usul Imel, yang sukses mendapat jitakan dari Wulan.
"Sakit, Lan!"
"Harus ya? Perempuan yang ngasih hadiah dulu." gerutu Wulan, Imel tersenyum karena dia tahu Wulan mempertimbangkan usulnya.
"Tari kemana ya?" gumam Imel.
"Halah...paling dia lagi sibuk mempersiapkan hadiah valentine buat Vano." jawab Wulan asal. Mata nya sesekali melirik ke arah Reno yang tengah asyik mendekati fita. Wulan tidak sadar jawabannya membuat reaksi Imel berubah sendu dan menunduk.
Selama ini Imel tidak pernah merayakan Valentine karena dalam kepercayaan yang Imel anut hal itu tidak di benarkan, tapi sejak masuk SMA ini mau tidak mau Imel sering merasakan euforia moment seperti itu. moment yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Seperti Moment perayaan menyambut tahun baru kemarin, sekolah mereka mengadakan party sederhana dengan menggelar doa bersama, Imel yang awalnya ogah sedikit mulai dapat memahami bahwa perbedaan itu tidak selamanya menimbulkan pertikaian dan semacamnya.
"Kira kira ada nggak cowok yang bakal ngasih coklat atau bunga buat aku besok?" celetuk Wulan sambil senyum-senyum sendiri.
"Kalau kamu Iv, aku yakin banyak."
"Kok tahu?" teriak Tari yang tiba-tiba datang lalu menyuruh Wulan kembali ke bangkunya. "Jangan-jangan?
Imel baru sadar kalau sebelum ini salah menganggap Tari adalah gadis pendiam, sepertinya harus Imel ralat.Tari sudah kena sindrom cerewet milik Wulan. Buktinya sekarang temannya itu tengah tertawa, menggodanya.
"Kalian lagi ngobrolin apa selama aku pergi?" selidik Tari kemudian bergantian menatap Imel dan Wulan.
"Nggak ada." jawab Imel datar.
"Eit, pasti bohong?" goda Tari lagi kali ini sambil menaik kan alisnya di barengi tersenyum penasaran. "Aduh..." teriaknya tatkala Wulan memukulnya dengan buku yang sejak tadi tergeletak di meja Reno. Imel tertawa pelan melihat tingkah mereka."Sakit, Lan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
reply 2000
Fiksi Umumkarya pertama yang saya persembahkan buat para shipper bangbangcouple. mungkin masih banyak kekurangannya. "Bagaimana aku menyianyiakan masa remajaku seperti ini,mengagumi seseorang yang sama sekali jauh dari tipe idealku.Dia sangat narsis,sangat pl...
