RdR - 16

261 18 51
                                        

Entah kenapa aku milih lagu itu untuk mulmednya 😂, gak tau kenapa kayaknya cocok aja gitu. Tapi, siapa tahu kalian suka yah! 😋

•••
"Maaf kalau aku banyak bicara. Aku hanya ingin menyampaikannya sekali lagi, bahwa aku mencintaimu hingga akhir waktuku."

🌷🌷🌷

"Sejak saat itu, aku ngerasa kesepian. Belum lagi kabar papa aku yang katanya sempet ngelakuin penipuan gitu ke kliennya. Padahal, itu informasinya salah. Bukan papa aku pelaku sebenarnya. Tapi, semua orang menuduh aku, mama dan papaku sebagai penipu. Itu ngebuat keluarga aku dijauhi orang-orang. Semua enggan berteman dengan aku di sekolah."

Romeo melanjutkan ceritanya dengan sangat berhati-hati, ia terlalu lelah untuk membuka lembaran saat-saat di mana masa sulit menghampiri dirinya sendiri dan keluarganya.

"Saat pertama kali aku kenal dia, Ardilla Putri Maheswari, "Romeo mengarahkan pandangannya ke arah Ardilla. "Entah datang dari mana, Ardilla kecil menghampiri aku yang lagi duduk di pohon rindang dekat danau di sekolah. Waktu itu aku lagi baca buku karena enggak ada yang mau berteman sama aku."

"Dia datang dengan sebuah kotak bekal berisi sandwich buatan mamanya dan mengajak aku untuk makan bersama. Di situ, aku merasa aneh, kenapa dia tiba-tiba mau ngajak aku makan bareng, sedangkan semuanya tengah menuduh aku dan keluargaku."

"Di satu sisi aku senang, akhirnya mendapat teman untuk bermain, tetapi di satu sisi aku merasa aneh aja. Dia dengan tiba-tiba nawarin aku sandwich dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat."

"Aku sangat ingat, dia pernah bilang gini "Hai, nama aku Ardilla. Nama kamu siapa? Kamu tinggal di mana? Apa kamu punya kakak atau adik?" Romeo tertawa mengingat tingkah lugu Dilla saat pertama kali mereka bertemu.

"Aku bingung, dia terus menerus bertanya secara beruntun, belum sempat aku jawab, dia sudah bertanya lagi. Seperti ini, "Bolehkan kalau mulai sekarang kita berteman? Aku hanya ingin menemani kamu saat kamu merasa kesepian. Aku juga merasa kesepian akhir-akhir ini, makanya, kita harus saling menguatkan."

"Sederetan pertanyaaan yang keluar dari bibirnya itu membuat aku tersenyum. Ternyata, masih ada yang mau berteman dengan aku saat itu."

"Mulai saat itu, aku selalu bersama dia, sampai-sampai aku merasakan perasaan berlebih pada lawan jenis yang enggak bias aku rasakan terhadap gadis lain."

"Aku sadar, kalau dia itu cinta pertama aku. Tapi, setelah lulus SMP, aku dan dia pisah karena memilih masuk sekolah yang berbeda karena ingin masuk sekolah yang sesuai keinginan kita masing-masing."

"Yah, namanya remaja labil, ya jelas aku belum bisa terima kalau harus pisah sama dia. Tapi, lambat laun aku udah bisa terima pisah sama dia. Tiba-tiba beberapa minggu yang lalu, bang Arda, kakaknya, ngabarin ke aku kalau Ardilla lagi dirawat di sini."

Romeo kembali menghela nafas, "Dan kamu tau apa yang aku rasain? Rasanya seperti kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupku selain mama dan kamu."

"Waktu itu aku kalut. Akhirnya aku temuin Ardana di rumah sakit dan saat itu Ardilla berhasil siuman. Aku dan keluarganya pasti sangat senang saat itu, akhirnya aku ajak dia jalan-jalan ke mall karena dia memang meminta itu ke aku. Eh enggak taunya ketemu kamu Rin. Akhirnya jadi salah paham gini."Romeo menjelaskan semuanya secara terperinci, sedangkan Rinjani berusaha untuk mendengarkannya dengan baik.

Romeo dan RinjaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang