RdR - 3

344 49 137
                                        

Romeo sampai di sekolah tepat pada pukul 07.00, aneh tetapi itu nyata, biasanya ia sangat jarang datang di jam seperti ini.

Romeo turun dari mobilnya dan mulai melangkah menuju kelasnya, sebelum itu seperti biasa ia akan melewati koridor kelas 10 agar ia sampai di lantai 2 tempat dimana ruang kelas bagi siswa dan siswi kelas 11 berada.

Saat ia berjalan di koridor yang dekat dengan ruang kelasnya, 11 MIPA 2 terdengar langkah kaki yang terburu-buru dari arah belakang.

Tanpa ada peringatan, dari arah belakang seperti ada yang menabrak dirinya, hingga ia hampir terjatuh.

Untung saja ia memiliki badan yang lebih besar dan tegap dari pada si penabrak, alhasil ia berhasil menyelamatkan dirinya dari insiden tadi.

Kalau tidak mungkin sekarang ia sudah terjatuh bersamaan dengan cewek yang sedang tersungkur di hadapannya sekarang.

"Dari pada pake dengkul mending pake puser gih jalan biar gak nabrak sana sini. Dasar upil koala." ucap Romeo.

"Wah songong lo, bukannya bantu malah ngelucu, lagian gak berbakat ngelucu ya jangan ngelucu" keluh cewek yang bername tag Rinjani Almira itulah.

"Emang peduli gue?" jawab Romeo sembari mengangkat salah satu alisnya.

"Yaudah sih" balas Rinjani singkat.

Romeo menghela nafasnya dalam-dalam, dan berkata "Yaudah sini gue bantuin" katanya sembari menjulurkan tangannya berniat untuk membantu.

"Gak perlu lo bantu, gue juga bisa bangun sendiri kali, lo kira gue nenek-nenek apa yang perlu di bopong kalau jatuh sedikit?Dasar tai onta." balas Rinjani sembari mencoba bangun dari posisinya terjatuh tadi.

"Aww" Rinjani meringis saat mengetahui bagian lututnya sedikit robek akibat terjatuh tadi. Dengan bersusah payah ia mencoba bangun tetapi karena rasa sakit di lututnya membuat ia susah bangun dari posisinya sekarang.

"Dibilangin juga, dasar ngeyel, sini gue bantuin, gue gak bakalan minta lo buat balas budi ke gue kok, kalau gue bantu lo." ucap Romeo jengah melihat kekeras kepalaan yang dimiliki Rinjani.

"Hmm, bener ya? Gak minta balas budi nih? Yakin?"

"Iya koala, bawel lo ah, lagian gue juga gak kenal budi siapa, iya kan?"

"Sialan lo, gue serius, pake ngatain gue koala segala."

"Lagian lo ngatain gue juga kan, pake bilang gue onta segala. Abis mirip sih lo sama koala-dikit."

"Ih, kan lo duluan tadi ngatain gue."

"Huh, jadi dibantu gak nih? Nyaut mulu."

"Hmm, iya deh, maaf ngerepotin"

"Ya" balas Romeo singkat, kemudian ia berjongkok di hadapan Rinjani dan membiarkan Rinjani agar bisa naik ke punggungnya lebih mudah.

Rinjani yang masih bingung atas perlakuan cowok dihadapannya ini terus memperhatikan cowok bername tag Romeo Alfinindra itu dengan seksama.

"Kayaknya gue pernah ketemu deh sama ini cowok, kalau dilihat dari postur tubuh dan gaya bicara cowok ini, tapi dimana ya? Ah paling gue cuma halu, mana pernah gue ketemu cowok ini sebelumnya, lagian dia baik sih, cuma kadang suka judes gitu, hmm cakep juga sih." batin Rinjani.

"Naik woy, dasar koala, bengong mulu, kesambet jin tomang ae lo baru tau rasa, lagian jangan ngelihatin gue terus, gue tau kok gue ganteng." ucapnya karena Rinjani tak kunjung naik di punggungnya dan malah memperhatikan dirinya sedari tadi.

Romeo dan RinjaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang