"Assalamualaikum," salam Gita ketika kembali pulang ke rumahnya.
"Waalaikumsalam, Gita. Kata papah tadi kamu habis dari kantor polisi ya?" tanya mamahnya to the point.
Gita menuju ke sofa dengan malas dan langsung duduk dan menyender disitu yang diikuti dengan mamahnya. Namun mamahnya itu hanya duduk saja, tidak ikut menyender seperti apa yang dilakukan oleh Gita.
Gita menghela nafasnya berat. "Iya, mah," jawabnya singkat.
"Ada masalah apa lagi sih? Kenapa akhir-akhir ini kamu suka banget mengunjungi kantor polisi ya? Apa jangan-jangan benar dugaan mamah kalau kamu punya hubungan khusus dengan polisi ganteng itu."
"Udah deh, mah. Jangan bahas itu lagi! Gita bosan dengarnya!"
Mamahnya hanya menatapnya sambil tersenyum meledek.
"Yaudah Gita ke kamar dulu ya, mah," pamitnya dan kemudian dia langsung bangkit dan beranjak menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Gita langsung menelepon papahnya untuk meminta pertanggung jawaban.
"Halo papah!"
"Kalo telepon tuh ucap salam dulu atuh, Git."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam. Ada apa Gita anak papah yang cantik?"
"Papah kenapa ganti kartu atm papah yang papah kasih ke Gita kok tidak bilang-bilang Gita dulu sih?"
"Kemarin papah ingin memberi tau ke kamu tapi lupa. Maaf ya sayang."
"Yaudah deh kalau seperti itu. Lain kali langsung kabarkan Gita ya, pah."
"Oke deh. Tapi masalah kamu tadi sudah selesai kan?"
"Udah pah. Yaudah assalamualaikum, pah."
"Waalaikumsalam."
Gita mematikan sambungan teleponnya dan langsung meletakkan smartphonenya itu diatas nakas, kemudian dia menghempaskan dirinya ke atas kasur.
"Sial banget sih aku akhir-akhir ini."
"Kenapa semenjak bertemu dengan polisi itu hidupku jadi tidak tenang?"
"Gara-gara polisi itu aku selalu ditimpa banyak masalah."
"Kenapa polisi itu harus muncul dalam kehidupanku sih?"
Tok... Tok... Tok...
"Git, mamah mau ke pasar dulu ya. Kamu jaga rumah dan jaga adikmu baik-baik," ucap mamahnya daru balik pintu kamar Gita.
"Iya mah," teriak Gita menurut. "Hati-hati."
Setelah dirasanya mamah telah pergi, Gita langsung keluar dari kamarnya untuk menuju dapur. Sudah lama dia tidak makan mie instan, saat seperti ini lah merupakan surga dunia baginya. Karena orang tuanya itu sangat membatasi kedua anaknya memakan mie instan. Dan hanya diberi jatah maksimal sebulan 2 kali. Sungguh tega, bukan?

KAMU SEDANG MEMBACA
ISSUES
Romance"Mereka bilang cinta bisa dimulai dalam 0,2 detik. Yang aku butuhkan adalah 0,2 detik untuk jatuh cinta. Ini disebut cinta pada pandangan pertama. Makanya aku akan mengaku bahwa aku mencintaimu. Bahwa kau adalah hadiah, cinta, dan takdirku." -Noh Ji...