{29} Worried

296 15 2
                                    

Suara derap langkah sepatu Salsa terdengar gusar memenuhi koridor sekolah yang masih lenggang.

Ia datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sebab ia tidak ingin terlambat di hari yang sangat penting ini.

Hari ini adalah hari senin. Namun bukan hari senin nya yang membuat hari ini menjadi hari penting, karena tepat di hari ini ia akan melaksanakan Ujian Nasional, ujian yang katanya paling ditakuti oleh seluruh siswa selain ujian tes masuk PTN.

Tak hayal juga bagi Salsa. Sebenarnya ia juga takut, tapi dibalik ketakutannya itu terdapat sebuah kepercayaan diri yang besar.

Salsa memasuki ruang ujian, disana masih nampak sepi. Hanya baru ada tiga atau empat orang yang sudah berada di dalam ruangan. Lantas Salsa pun segera mencari tempat duduk sesuai nomor ujiannya, dan setelah Salsa berhasil menemukannya, ia langsung mendudukan bokongnya diatas kursi tersebut.

Waktu ujian dimulai masih terbilang cukup lama, kini Salsa menyempatkan dirinya terlebih dahulu untuk mengulas kembali materi-materi yang sudah ia pelajari. Namun sejatinya, Salsa sudah cukup menguasai materi-materi yang dikiranya akan keluar di UN nanti.

Beberapa menit kemudian, satu per satu para siswa mulai berdatangan. Kondisi sekolah yang tadinya hening, kini menjadi bergemuruh oleh suara obrolan para siswa, begitu juga dalam ruang ujian Salsa. Ada yang berkelompok di depan ruangan duduk di lantai membuat sebuah bentuk lingkaran, untuk sekedar saling sharing tentang materi yang belum mereka kuasai.

"Salsa, mau gabung gak?" ajak salah satu temannya yang tergabung dalam kelompok belajar itu.

"Ah enggak. Aku belajar sendiri aja."

"Oh yaudah kalau begitu. Semangat ya Sal!" kata temannya itu yang Salsa balas dengan seulas senyuman.

Salsa bukannya tidak ingin bergabung, atau ia tidak merasa tidak nyaman dengan teman-temannya itu. Justru Salsa sendiri termasuk orang yang supel, namun kalau dalam urusan belajar seperti ini, ia lebih nyaman jika sendiri, memahami jalan keluarnya sendiri. Karena menurutnya, dengan cara seperti itulah materi pelajaran tidak akan cepat pudar dari otaknya.

Bel berbunyi. Menandakan bahwa ujian akan segera dimulai.

Salsa mulai mengeluarkan laptop dari dalam tas nya. Karena sistem Ujian Nasional tahun ini menerapkan sistem baru, yaitu UNBK alias Ujian Nasional Berbasis Komputer. Tidak ada lagi papan jalar, tidak ada lagi ljk. Semua sudah di-setting oleh pemerintah sehingga nanti ia cukup memasukan username serta password pada sebuah aplikasi CBT.

Siswa diperkenankan menaruh tasnya masing-masing di depan ruang ujian. Para siswa yang tadinya tidak beraturan kini kembali duduk di tempatnya masing-masing. Tak berselang lama, pengawas ujian pun tiba di ruangannya. Pengawas mulai membacakan beberapa peraturan dan ketentuan sebelum akhirnya ujian pun dimulai.

Salsa mulai mengerjakan soal ujian dengan cukup lancar. Walaupun soal-soal tersebut terbilang cukup sulit bagi kebanyakan orang, lain hal bagi dirinya. Namun, ia juga tidak bilang bahwa soal ujian itu terbilang mudah.

Soal-soal tersebut berhasil dikerjakan oleh Salsa dengan cukup lancar, walaupun terkadang dia merasa ragu terhadap jawabannya. Namun, ia tetap percaya diri.

Begitu juga di hari-hari ujian berikutnya. Hingga tanpa sadar hari ini adalah hari terakhir ujiannya. Mata ujian terakhir pun juga dapat dikerjakan dengan lancar oleh Salsa.

Baru saja keluar dari ruang ujian, pemandangan pertama yang diihatnya yaitu raut muka kesedihan, ketakutan, serta kekhawatiran yang melukis wajah teman-temannya itu.

Salah satu temannya yang juga baru saja keluar dari ruang ujian tersebut langsung menghampirinya. "Ya ampun Sal, kok kayaknya kamu tenang-tenang aja sih?" ujar salah satu temannya kepada Salsa.

Lantas Salsa menjawab dengan tenang. "Apa yang perlu aku khawatirkan?"

Temannya itu hanya bisa menggeleng melihat sikap Salsa. Tidah heran juga sebenarnya, karena Salsa ini termasuk salah satu murid yang rajin dan terbilang cukup cerdas. Pantas saja ia dapat mengerjakan ujian dengan lancar.

Baru saja Salsa hendak pulang, di depan gerbang sekolah nampak Adit yang sedang menyenderkan tubuhnya di sebuah pilar.

Salsa hanya meliriknya, lantas ia melanjutkan langkahnya menuju persimpangan jalan untuk naik angkutan umum.

Belum jauh langkah kakinya dari hadapan Adit, si cowok yang penampilannya sangat buruk di mata para murid yang menyukai kedisiplinan itu pun lantas berseru kepada Salsa. "Sombong banget dilirik doang."

Salsa langsung menghentikan langkahnya, ia jengkel. "Kamu mau aku sapa? Baiklah..."

Salsa mendesah berat, kemudian ia melanjutkan ucapannya. "Halo Adit, apa kabar? Gimana ujiannya tadi? Lancar 'kan?" ujar Salsa dengan intonasi suara yang dilebih-lebihkan.

Adit terkekeh kemudian ia tersenyum getir. "Tidak buruk."

Entah itu jawaban atas pertanyaannya atau sapaannya, Salsa tidak tahu pasti.

"Kamu mau langsung pulang?" tanya Adit.

"Ya iyalah, memangnya aku mau kemana lagi?"

"Gimana kalau aku ajak kamu makan siang bareng?"

Salsa mengernyitkan dahinya heran. "Kamu serius ngajak aku?"

"Enggak, aku cuman bercanda doang kok," jawab Adit santai.

"Oh yaudah kalau gitu." Salsa segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi. Namun, tiba-tiba Adit menghampirinya dan berhenti tepat di hadapan Salsa.

"Kalau aku serius, kamu mau?"

Salsa memutar bola matanya. "Kalau enggak, kamu mau apa?"

Adit mengangkat sebelah alisnya sambil berpikir.

"Tidak usah kelamaan mikir begitu, ayo cepat jalan!" ucap Salsa tiba-tiba.

Adit langsung sumringah dan mereka berdua pun segera berjalan menuju parkiran terlebih dahulu untuk mengambil motor Adit.

"Menurutmu ujian tadi sulit tidak?" tanya Adit kepada Salsa.

"Lumayan," jawab Salsa singkat.

"Aku tau kamu pasti jawab begitu. By the way, makasih ya. Berkat kamu, aku jadi merasa tidak terlalu sulit menjawab soal ujian tadi."

"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah kepada dirimu sendiri."

"Kenapa pada diriku sendiri?"

"Kalau kamu tidak punya niat untuk belajar, pastinya kamu akan merasa kesulitan menjawab soal-soal tadi."

Tanpa sadar mereka pun telah tiba di parkiran yang dimana kebanyakan kendaraan disini adalah milik para siswa di sekolahnya.

Adit mulai mengenakan helm nya, telah bersiap di tempat kemudinya, lalu ia menyuruh Salsa untuk naik. "Naiklah."

Tanpa disuruh dua kali, Salsa langsung duduk di jok belakang motor Adit. Untuk cari aman, Salsa memutuskan untuk duduk dengan menyamping, kemudian ia menaruh tasnya dalam sebuah pangkuannya, lantas memeluk tasnya yang cukup terbebani karena ada sebuah laptop di dalamnya.

"Berpeganganlah," tukas Adit kemudian ia mulai melajukan kendaraannya menuju sebuah restoran.

Tangan yang satu digunakan Gita untuk memeluk tasnya itu sedangkan tangan yang satunya lagi digunakannya untuk mengenggam besi belakang motor Adit.

Motor Adit pun telah melesat meninggalkan parkiran.

***

Ternyata cuman sampe disini aja gais. Mianhae~

Just for your information, aku ini army sama exo-l loh guys hehehe. Coba itu aku jadi 2 fandom besar yg terkenal suka banget war. Hehehe maaf yorobun, just kidding.

Cukup sampai disini aja gais.
Annyeong~

Oh iya kalau kalian mau tau aku, atau mau kenalan bisa follow ig aku @maykagnii. Kalian bisa dm dengan bilang kalo kalian tau aku dari wattpad. Pasti auto follback kok hehehe.
Goodbye~

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 30, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ISSUESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang