Ardan baru pulang ke rumahnya keesokkannya. Ia mulai memasuki rumahnya yang sepi itu, karena kedua orang tuanya sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Keluarga Ardan merupakan keluarga yang berasal dari kalangan menengah atas. Tidak heran jika ia jarang berjumpa dengan kedua orang tuanya itu karena jadwal pekerjaan yang saling berlawanan. Namun walaupun demikian, hubungan kekeluargaan diantara mereka tetaplah harmonis, karena setiap saat Ardan selalu memberikan kabar kepada kedua orang tuanya melalui pesan ataupun telepon. Begitu juga sebaliknya.
Ardan sudah terlalu disibukkan oleh berbagai macam kasus. Padahal Ardan hanyalah seorang polisi, namun tugas yang harus dilakukannya itu bagaikan tugas yang biasa dikerjakan oleh seorang detektif. Sungguh membuat kepalanya pening.
Seperti yang kalian ketahui bahwa tugas umum dari seorang polisi yaitu untuk menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Namun pada kenyataannya tidak sesederhana yang kalian pikirkan.
Begitu banyak tugas polisi yang bahkan tidak kalian ketahui. Sebagaimana Ardan yang menjabat sebagai Kapolsek di daerahnya tersebut, tugas yang harus dilakukan olehnya bukan hanya seperti yang telah disebutkan seperti diatas tadi.
Melakukan penyidikan dan penyelidikan merupakan salah satu dari tugasnya. Namun entah kenapa dari sekian kasus yang pernah ia tangani hanya kasus Gita lah yang membuatnya harus memutar otaknya berulang kali. Kasus yang kelihatannya simple itu tidak ada yang menyangka bahwa Ardan menaruh curiga terhadap apa yang ada di balik kasus itu.
Ardan sudah terlalu pusing memikirkannya, akhirnya ia memutuskan untuk menyegarkan pikirannya sambil membersihkan tubuhnya di bawah pancuran shower.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ardan segera berpakaian lalu ia pun mulai naik ke atas ranjangnya. Merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah itu.
Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi sedang tergeletak dengan manis di atas nakas. Kemudian ia pun mulai mengecek pesan-pesan yang belum sempat dibaca olehnya.
Ardan terlalu sibuk untuk sekedar berchating ria dengan teman-temannya. Di kala waktu senggangnya saat di kantor, ia hanya membalas pesan masuk dari keluarganya saja. Selebihnya ia biarkan. Dan kini, dia baru sempat membacanya.
Ketika dia sedang sibuk-sibuknya membaca dan membalas pesan-pesannya, tiba-tiba ada sebuah pesan yang baru saja masuk dan muncul dalam notifikasi ponselnya.
Malik
Dialah orang yang baru saja mengirimkan sebuah pesan kepada Ardan. Lantas Ardan pun segera membukanya.
-Aku sedang berada di depan rumahmu, cepat bukakan gerbangnya-
Tanpa bertanya tentang kebenaran pesan itu terlebih dahulu, Ardan langsung bangkit dari kasurnya lalu ia segera menuju ke balkon kamarnya untuk melihat secara langsung apakah benar si Malik alias sahabat karibnya itu telah tiba di rumahnya.
Dan benar saja, dari atas balkon kamarnya ia melihat sebuah mobil yang nampaknya masih menyala itu sedang terparkir di depan rumahnya.
Malik yang melihat sosok Ardan dari dalam mobil tersebut langsung mengklaksonkan mobilnya, memberi tanda bahwa itu adalah benar-benar dia.
Tin... Tin... Tin..
Kepala Malik keluar melalui jendela mobilnya.
"Ardan! Cepatlah buka!" teriaknya kepada Ardan
Ardan menggeleng. "Ada perlu apa kau kemari? Pulang sana!"
Sangat tidak sopan. Sahabatnya sendiri yang bahkan baru saja tiba di rumahnya bukannya di persilahkan masuk tapi malah di usir olehnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
ISSUES
Romance"Mereka bilang cinta bisa dimulai dalam 0,2 detik. Yang aku butuhkan adalah 0,2 detik untuk jatuh cinta. Ini disebut cinta pada pandangan pertama. Makanya aku akan mengaku bahwa aku mencintaimu. Bahwa kau adalah hadiah, cinta, dan takdirku." -Noh Ji...