{21} Peace

395 38 8
                                    

Hari ini adalah hari ketiga Gita bekerja di rumah bu Nayla. Ia masih tidak percaya kalau Ardan ini benar-benar anaknya bu Nayla. Atau jangan-jangan dia hanya mengaku-ngaku saja? Lebih baik ia tanyakan langsung saja kepada bu Nayla.

Lantas, Gita segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, dan mulai menelepon bu Nayla.

Beberapa detik kemudian, panggilan itu langsung diterima.

"Halo Assalamualaikum Gita. Ada apa ya? Apa kamu mengalami kesulitan?"

"Umm-- Tidak bu. Bagaimana keadaan ibu dan suami disana?"

"Alhamdulillah baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?"

"Saya juga disini baik-baik saja bu,"

"Oh syukurlah kalau begitu. Apa ada masalah disana?"

"Saya juga tidak yakin. Tapi ibu tenang saja. Sejauh ini keadaan disini masih aman terkendali kok bu."

"Baiklah. Apa anak-anak saya nakal-nakal?"

Gita berpikir sejenak, memikirkan perkataan bu Nayla yang membahas tentang anak-anaknya. Apa anak yang di maksud itu si polisi annoying itu?

"Dia memang sangat menyebalkan,"

"Benarkah? Apakah semua kucing-kucing saya menyebalkan?"

"Eh?! Kucing?! Oh jadi anak-anak yang ibu maksud itu kucing-kucing ibu itu?"

"Iya, memangnya kamu kira siapa? Atau jangan-jangan kamu sudah bertemu dengan anak saya yang sesungguhnya?"

"Apakah nama anak ibu itu Ardan?"

"Iya, dia anak sulung saya."

"Anak sulung? Memangnya anak ibu yang sesungguhnya ada berapa?"

Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang telepon.

"Ah tidak, tidak.. Sebenarnya saya hanya bergurau saja. Ardan itu anak saya satu-satunya. Benar kata kamu, dia terkadang memang suka menyebalkan."

"Oh saya baru paham. Ardan itu anak sulung ibu, sedangkan anak-anak ibu yang lain yaitu kucing-kucing ibu. Benarkan?"

Bu Nayla terdengar tengah terkekeh geli. "Lebih baik tidak usah dipikirkan lagi. Oh ya, jika Ardan terus menganggumu, kau bisa meneleponku lagi. Anak itu memang sangat jarang berada di rumah, tapi sekalinya dia sedang di rumah, maka ia akan selalu menggangu saya. Apabila kamu merasa tidak tahan akan perilakunya, silahkan kau pukul saja dirinya, atau kau bisa jewer telinganya itu. Begitulah yang biasanya saya lakukan ketika ia terus menggangu."

"Baiklah," kata Gita sambil tertawa pelan.

"Selalu jaga kesehatanmu sendiri ya. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengurusi kucing saya, sehingga kamu lupa untuk mengurusi dirimu sendiri."

"Baik bu."

"Kalau sudah selesai, saya tutup teleponnya ya?"

"Iya bu, maaf jika saya menganggu."

"Tidak usah sungkan-sungkan untuk menelepon saya. Baiklah, Wassalamualaikum."

ISSUESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang