Nyatanya, menggapai pun tidak semudah yang dibicarakan kebanyakan orang. Terutama jika ada tambahan "mu" dibelakang kata "menggapai".
Ya, menggapaimu.
•••
Banyak orang menganggap meraih sesuatu tidak sesulit mempertahankannya. Atau dengan kata lain mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan saat meraihnya.
Lantas, bagaimana dengan aku yang justru berpikir terbalik dengan pernyataan tersebut?
Ya. Aku tak mempersalahkan pernyataan itu. Aku hanya mencoba berpikir dari sudut pandang lainnya.
Baik meraih maupun mempertahankan, keduanya melalui sebuah proses yang sama berat dan panjangnya.
Hanya saja banyak yang suka menganggap enteng sesuatu bila ia sudah menggapainya. Sehingga akibat terlena, ia tak sanggup mempertahankannya.
Aku ingin kalian tahu dan mengingat hal itu. Bahwa untuk mempertahankan sesuatu, juga seberat dan sesulit bagaimana kalian menggapainya dulu.
- Fetch -
Derap langkah kaki di koridor kampus saat ini mendominasi keramaian yang tengah diciptakan banyak variabel pemicunya.
Salah satu diantara banyaknya derap langkah kaki itu diciptakan oleh sesosok wanita berambut pendek sebahu, yang tengah berlari menerobos kerumunan-kerumunan yang menghalangi jalannya.
"Permisi. Permisi," ucapnya terus menerus sambil memeluk erat sekumpul kertas di tangannya.
Semua orang memandangnya aneh. Bahkan ada yang mencibir karena tingkahnya itu.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan ia tersentak, lalu berhenti berlari. Napasnya berhembus tak beraturan mengikuti irama detak jantungnya yang tak beraturan pula.
08.01
Waktu tersebut yang baru saja dipertontonkan oleh jam tangan miliknya.
Ia mendongakkan kepalanya lagi. Pintu yang seharusnya ia ketuk dan buka satu menit yang lalu berada sekitar delapan sampai sepuluh langkah lagi jauhnya.
Ia bimbang. Tapi akhirnya ia mengambil sebuah keputusan yang sangat mengerikan.
Ya, ia berlari lagi dan dengan nekatnya membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Kamu terlambat satu menit lima puluh tiga detik, nona Qiandra Putri."
Kedatangannya yang sudah terlambat itu disambut dengan hangat oleh tatapan sinis wanita berkacamata yang kira-kira usianya tiga puluh tahunan.
Masih dengan deru napas yang berhamburan, ia, Qiandra, meletakkan setumpuk kertas di meja milik wanita berkacamata itu.
"Maaf, ibu Ratna. Saya sudah berusaha untuk secepat mungkin tiba di sini," tuturnya sambil menunduk, tak berani menatap balik lawan bicaranya.
"Tidak perlu meminta maaf. Ambil kembali berkas ini dalam tiga hari," ucap Ratna.
"Dan, jangan terlambat. Lagi !" tambahnya tegas.
Qian mengangguk samar, "Baik ibu. Terima kasih sebelumnya," ucap Qian sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
- Fetch -
KAMU SEDANG MEMBACA
FETCH [Completed]
RomansaMenghilang adalah keahlianmu. Keahlianmu tentu bukan keahlianku. Aku tak ahli menghilang. Aku juga tak ahli mencarimu. Alih-alih mencari, melihatmu saja sudah hampir di ujung garis nihil. Kamu adalah sosok yang terlalu misterius namun tak juga musta...
![FETCH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/141851347-64-k341339.jpg)