Ada beberapa hal di dunia ini yang tak perlu diucapkan. Itu berarti ada pula beberapa hal yang perlu diucapkan. Entah lewat cara apapun untuk itu.
***
Keadaan Patra tak kalah kacau dibandingkan Qian. Entah sudah berapa lama Patra berada di dalam bar kecil yang tampak sudah tua itu. Ya, hanya sebuah bar dengan alunan musik klasik yang menciptakan suasan sendu. Bukan seperti bar di club malam dan sebagainya.
Tempat favorit Patra apabila ia sangat ingin menumpahkan keresahannya. Salah satu alasan Patra menyukai tempat itu karena ia tidak perlu repot memikirkan pengunjung lainnya apabila ia mabuk hingga bicara melantur. Karena memang tempat itu nyaris tak ada pengunjung di setiap kali Patra mendatanginya.
Patra sudah menghabiskan botol kelimanya malam ini. Sejak petang tadi, saat ia diputuskan oleh perempuan yang amat dicintainya, Patra memang berada di bar kecil ini.
Sang pemilik bar yang sudah tampak berumur itu bahkan sampai tak tega menyaksikan betapa menyedihkannya keadaan Patra saat ini. Patra yang memang sering ke tempatnya hingga membuat ia paling tidak tahu sedikit tentang Patra.
Ia selalu siap sedia menjadi teman curhat Patra di kala mabuk, walau Patra mungkin tidak pernah mengingat itu. Ia sendiri pula yang menjaga bar miliknya. Hebatnya lagi, Patra juga menjadi satu-satunya alasan mengapa bar tua dan lusuh di sudut kota besar ini tidak ditutup.
Lelaki tua itu berinisiatif mengambil duduk di hadapan Patra, serta menahan gerakan Patra yang hendak menuangkan minuman keras itu di gelasnya.
Patra mendongak saat tangannya ditahan oleh seseorang. Ia mengerutkan keningnya.
"Kamu sepertinya lebih membutuhkan teman cerita dibandingkan alkohol-alkohol ini." Lelaki tua itu bersuara terlebih dahulu.
Tepat sekali. Patra justru menertawakan perkataan Pak Tua tadi. Satu-satunya manusia yang berada di dekatnya saat ini. Satu-satunya manusia yang dapat menolongnya jika tiba-tiba Patra tidak sadarkan diri di tempat tak berpengunjung ini.
Pak Tua itu masih tidak bergeming sembari menatap Patra yang perlahan merubah ekspresinya dari tertawa menjadi sebuah isakan yang tertahan. Ia mengeluarkan sapu tangannya yang juga tampak kuno. Tua sekali tampaknya laki-laki ini, batin Patra setengah sadar. Namun tak ragu-ragu Patra menyambarnya begitu saja dan menghapus bulir-bulir air matanya.
Iringan musik klasik yang terdengar semakin membuat batin Patra terenyuh hingga tak mampu menahan tangisnya.
Patra terus terisak tanpa suara. Sedang Pak Tua tadi masih tetap duduk dihadapannya. Seolah sedang mendengarkan luapan isi hati anak muda di depannya melalui tangisan anak muda itu.
Ia menepuk pundak Patra seraya berkata, "Ada hal-hal di dunia ini yang tak perlu kamu ucapkan. Tapi itu berarti ada pula beberapa hal yang harus kamu ucapkan. Entah lewat cara apapun." Pak Tua itu lantas meninggalkan Patra di tempatnya.
Sulit meredakan sesak di dadanya. Namun ucapan Pak Tua tadi hinggap dengan sempurna di kepala Patra. Padahal ia sudah masuk kategori mabuk.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Patra merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang.
- Fetch -
Dheo berlarian seolah ia berburu dengan waktu. Begitu mendapat telepon dari Meirlin bahwa Qian dan Patra putus, Dheo segera datang ke rumah Qian.
Begitu sampai di rumah Qian, Robi langsung mempersilahkannya masuk dan terus ke kamar Qian. Dheo juga sempat melihat sepatu Meirlin di depan teras tadi. Yang artinya sudah ada Meirlin di dalam sana. Dengan tapak pasti Dheo melanjutkan langkahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FETCH [Completed]
RomansaMenghilang adalah keahlianmu. Keahlianmu tentu bukan keahlianku. Aku tak ahli menghilang. Aku juga tak ahli mencarimu. Alih-alih mencari, melihatmu saja sudah hampir di ujung garis nihil. Kamu adalah sosok yang terlalu misterius namun tak juga musta...
![FETCH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/141851347-64-k341339.jpg)