25. Melangkah Maju

579 56 18
                                        

Aku telah mencoba maju saat pilihan untuk mundur itu ada. Tak peduli harus dipukul mundur, aku akan coba melangkah maju.

***

Setelah melalui hari yang cukup panjang dan melelahkan kemarin, Qian bahkan tidak bisa dibangunkan oleh alarm yang sudah ia pasang sendiri. Padahal nada alarmnya saja sudah dipastikan mampu membangunkan penduduk satu komplek perumahannya. Apalagi kalau bukan bunyi tertawanya kuntil anak, yang kalau diketik maka seperti ini, “Hi hi hi hi hi”.

Tania dengan langkah rusuhnya segera membuka pintu kamar Qian yang memang tidak dikunci dan memukul bokong Qian kuat-kuat. “QIAN TEMANNYA MBAK KUNTI. MATIIN KUNTINYA CEPAT!” pekik Tania.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa tidak ada alarm yang lebih sempurna dibandingkan suara ibu kita. Dengan pasti seperti sudah diatur secara otomatis, Qian langsung memelekkan kedua matanya dan bangkit mengambil posisi duduk. Hingga mengakibatkan kepalanya terasa sangat pusing.

“Ah,” ringis Qian sambil memegang kepala kanannya.

Sementara Qian masih mengerjapkan matanya berusaha mengumpulkan nyawa yang entah sudah berceceran dimana, Tania dengan sigap mengambil handphone Qian yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidurnya itu dan mematikan alarm dengan nada luar biasa tadi.

Namun Tania jadi tak bergeming sambil terus menatap layar handphone Qian yang sedang berada di genggamannya. Qian yang heran pun melirik mamanya yang tengah menganga. Otaknya ia paksa berpikir cepat untuk memahami keadaan yang tengah terjadi.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Sadar, Qian segera merebut handphonenya dari tangan Tania dan melempar ke sembarang arah. “Mama, Qian laper banget nih. Dari malem belum makan. Aduh duh,” ecoh Qian.

Cemas. Qian sangat cemas. Bagaimana reaksi Tania setelah ini. Dia cemas bukan main. Apalagi Tania masih belum merespon ucapannya. Apakah mamanya sudah membacanya tadi?

“Ma?”

Tania menoleh pada Qian sambil tersenyum. “Iya, mama buatin sarapan di bawah. Kamu cuci muka dulu.” Kemudian Tania melangkah keluar dari kamar Qian.

Qian menghela napas legah setelahnya. Ia segera mengambil handphonenya kembali dan menatap Subyek Alarm yang tertera jelas di layar handphonenya: Papa keluar RS.

- Fetch -

Usai sarapan, Qian kembali ke kamarnya dan tak lupa mengunci pintu kali ini. Ia membuka kontak di ponselnya dan mencari sebuah nama di sana. Patra. Qian menghubungi Patra. Ia ingin meminta tolong agar Patra bisa menemaninya membawa pulang papanya, Robi. Suara dering masuk terdengar, namun panggilan itu sama sekali tak diangkat oleh Patra.

Berulang-ulang Qian menelpon Patra namun hasilnya sama. Parahnya, dipercobaan yang entah sudah keberapa puluh kalinya justru nomornya sudah tidak aktif lagi.

Apa Patra sedang sibuk? Sampai-sampai ia harus mematikan ponselnya dan menghindari panggilan dari Qian.

Tanpa sadar, Qian mencari kontak lainnya dan langsung menghubunginya begitu saja. Hingga suara tak asing itu terdengar dari ujung sambungan teleponnya, barulah Qian sadar bahwa ia ternyata menghubungi Dheo. So weird.

“Ha...halo Dheo," sahut Qian.

“Iya, Q. Kenapa? Pagi-pagi udah kangen gue aja nih,” sahut Dheo yang membuat Qian terkekeh geli.

FETCH [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang