Jangan menyembunyikan rasa. Itu saja.
***
Kita semua memiliki hati masing-masing. Yang artinya, juga memiliki perasaan masing-masing. Dimana hanya kita sendiri yang tahu seperti apa dan untuk siapa perasaan kita.
Namun nyatanya, seseorang bisa kesulitan untuk mengetahui dan peka terhadap perasaannya sendiri.
Aku pun merasakannya. Rasanya menyesakkan. Hati ini milikku sendiri, tapi sulit untuk bisa kulihat dengan jernih siapa yang ada di dalamnya.
Walau selalu dada ini berdetak saat bersamamu, kenyataanya aku milik dia. Pahit.
Pahit saat kamu tahu tetapi justru harus menyembunyikan perasaan itu, hingga kamu kesulitan melihat mana perasaan yang sebenarnya kamu sembunyikan dan tidak kamu sembunyikan.
Oleh karena itu, jangan pernah menyembunyikan rasa. Itu saja.
- Fetch -
Seusai makan siang, Qian, Meirlin, Dheo, dan Patra justru berakhir memasuki gedung bioskop ternama, yang cara bacanya adalah twenty one. Padahal tadinya mereka sudah sepakat untuk memilih pergi ke tempat makan dan tidak ke bioskop.
Namun nyatanya Qian yang merupakan pelopor nonton bareng itu pun tidak terima jika hanya makan siang saja. Niatnya memang bulat untuk pergi menonton film yang sudah ditunggu-tunggunya: Milly dan Mamet.
Setelah melalui tahap permintaan, merajuk hingga berdebat, akhirnya keinginan Qian tersampai juga.
"Awas aja ya lo Q kalo sampe filmnya jelek. Buang-buang duit gue aja," ucap Dheo sarkas.
Qian berdecak, "Jangan banyak protes deh. Nonton aja dulu baru komen, pak ce."
Meirlin datang menghampiri Qian, Dheo dan Patra setelah memesan tiket. "Ini tiketnya. Tapi jadwalnya masih dua jam lagi. Masih lama banget. Kita tungguinnya sambil ngapain?" Tanya Meirlin sambil membagi-bagikan tiket.
Qian melirik Patra yang berdiri di sampingnya, kemudian melirik Dheo di sampingnya Patra lagi. Qian tampak berpikir kemudian menepukkan kedua telapak tangannya. "Kita ke Timezone aja," serunya nyaring kemudian melenggang dahulu, meninggalkan tiga orang dibelakangnya sambil berjalan kegirangan.
Meirlin menyenggol lengan Dheo, "Tuh anak kenapa sih?"
Dheo menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Lalu Dheo menyenggol lengan Patra dan menanyakan hal yang sama. "Tuh anak kenapa sih?"
Patra menatap Dheo dan Meirlin yang sedang menatap punggung Qian yang kian menjauh. "Mana saya tau," jawabnya lalu menyusul Qian.
Dheo dan Meirlin saling bertatapan, dan kompak berkata, "Tuh dua orang kenapa sih?"
Lalu keduanya tertawa bersamaan dan akhirnya menyusul Qian dan Patra yang sudah menghilang.
Tepat di depan mbak-mbak kasir di wahana permainan Timezone, Qian sibuk mengantongi koin-koin yang baru saja dibelinya. Saat semua orang sudah memilih memakai kartu, Qian justru masih gemar memakai koin sebagai 'alat pembayaran' untuk bermain. Sangat tradisional sekali dia ini. Iya, katanya lebih seru dan terlihat nyata jika ia memegang sekantong koin dibandingkan kartu tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
FETCH [Completed]
Roman d'amourMenghilang adalah keahlianmu. Keahlianmu tentu bukan keahlianku. Aku tak ahli menghilang. Aku juga tak ahli mencarimu. Alih-alih mencari, melihatmu saja sudah hampir di ujung garis nihil. Kamu adalah sosok yang terlalu misterius namun tak juga musta...
![FETCH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/141851347-64-k341339.jpg)