18. Mendapat Hilangmu

713 67 11
                                        

PATRA SPESIAL PART

Mendapatkanmu sudah kuperkirakan. Kehilanganmu sungguh jauh dari jangkauan pikiranku.

***

Semua orang memiliki target tertentu dalam hidup mereka. Ada yang memiliki banyak target, sedikit target, target yang tinggi, target yang tak terlampau tinggi, atau target yang rendah.

Masing-masing orang mematokkan target sesuai yang mereka inginkan. Hal yang justru akan menghancurkan target mereka karena bukan membuat target sesuai kemampuan diri mereka.

Aku salah satu dari sekian juta manusia di dunia ini yang sedang menantikan kehancuran duniaku karena target yang kubuat.

Ya, aku meyakinkan diri ini bahwa kamu akan menerimaku kembali. Mutlak untuk itu. Sayang, aku tak mempersiapkan diri ini untuk kemungkinan tak terlihat dan tak terbayangkan dari kepekaanku yang luar biasa di luar batas itu.

Aku tak pernah memperhitungkannya.

Kehilangan setelah mendapat.

Kepergianmu yang tak tergenggam.

- Fetch -

Patra menaiki satu per satu tangga menuju balkon rumah sakit. Sebelumnya ia datang ke kamar di mana ayah Qian dirawat namun tak mendapati Qian di sana. Robi pun memberitahukan Patra bahwa anaknya sedang berada di balkon rumah sakit.

Patra menatap punggung Qiandra. Ia tersenyum sesaat. Namun senyumnya kilat menghilang saat bahu gadis yang sedang berada tepat di depannya itu terguncang perlahan. Hebatnya adalah kaki Patra seolah membeku di tempatnya. Ia ragu untuk melangkah. Ia memilih diam tanpa melepas sedetik pun pandangannya dari gadisnya itu.

Tak ada pemikiran aneh yang melintas di pikiran Patra. Ia hanya merasa waktunya kurang tepat untuk dia berada di samping gadisnya itu. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok sambil terus melirik sesekali ke arah Qiandra.

Ponselnya yang bergetar, membuat Patra terpaksa mengalihkan pandangannya. Nomor tak dikenal. Patra sungguh malas meladeni nomor-nomor yang tak dikenal. Namun, rupanya sudah ada dua panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Akhirnya Patra memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

“Halo,” ucap Patra dengan nada normal.

"Gue relain Qian kali ini. Tapi, sekali lagi lo nyakitin Qian, gue gak bakal biarin Qian ngeliat elo lagi, bangsat !" ucap si penelpon yang langsung mengakhiri panggilan itu pula.

Patra mengepalkan tangannya seusai panggilan dari nomor tak dikenal itu diputuskan secara sepihak oleh si penelpon. Dari suara dan topik pembicaraannya, Patra jelas mengetahui siapa yang baru saja menelponnya. Raut wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Datar seperti biasanya.

Ia menyimpan ponselnya kembali dan menatap sekali lagi punggung yang tak terguncang lagi. Ia menciptakan senyum di wajahnya yang dingin tadi dengan mudahnya, lalu melangkah menghampiri gadisnya itu.

“Hei, Qiandra.”

Yang disapa itu pun menoleh dan mendapati Patra sudah berdiri sambil tersenyum di sisinya. Wajah Qiandra tak berubah. Masih dengan sisa-sisa rona tangis dan air mata yang membuat kelopak matanya membengkak, ia tak membalas senyum Patra. Hal yang tak diduga oleh Patra tentunya.

FETCH [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang