Ada beberapa jalan untuk melupakan suatu kenangan pahit. Dan kamu memilih hal yang paling tidak kusukai. Meninggalkan.
***
Qian kembali dari apartement Patra, tetapi tidak ke rumahnya melainkan ke galeri. Namun sesampainya di sana justru ia mendapati Tio yang sudah duduk persis seperti gembel di depan galerinya.
Qian terkekeh. Bermodalkan kaos polos, celana pendek, dan sendal ye-ye. Ditambah kelakuan Tio yang menggores-gores tanah dengan sepotong lidi, yang entah ia temukan dimana. Ya, dia memang pantas disebut gembel.
"Heh gembel!"
Tio pun mendongak dan melihat Qian yang sedang melepas helmnya.
"Kapan nyampenya elo? Kok gak kedengeran suara motor lo?"
"Yaiyalah. Karna halusnya mesin motor gue ngalahin halusnya doi lo." Dan ucapan Qian tadi berakhir membuat Tio melempar sepotong lidi tadi ke arahnya.
Qian terus menertawai Tio puas. Ia lalu melangkah membuka kunci pintu galerinya kemudian langsung menutup kembali tanpa mempersilahkan Tio masuk. Ya, memang kelakuannya sudah seperti itu sejak lahir. Tio sudah maklum lahir batin.
Tio pun menyusul Qian masuk usai merapalkan doa agar dosa Qian diampuni, karena ia tidak tahu apa yang ia perbuat.
"Jadi ceritanya si sebleng udah sehat nih," nyinyir Tio.
Qian menatapnya dengan tatapan sengit. "Maksud lo?"
Tio menyengir, "Udah galak lagi. Nggak mewek-mewek lagi."
Ucapan Tio kali ini dihadiahi lemparan kuas dari tangan Qian yang entah kapan Qian mengambilnya. Tio mulai berpikir sepertinya Qian bukan manusia biasa.
"Dari mana aja sih lo? Nyuruh gue dateng ke sini tapi orangnya malah nggak ada," protes Tio sembari mengambil duduk di kursi.
Qian membawa kanvas-kanvas yang sudah dilukisnya ke hadapan Tio.
"Apaan?" Tanya Tio tidak mengerti dengan maksud Qian.
"Liatin. Udah bagus belom?"
Tio menoyor kepala Qian. "Eh sebleng. Manusia berbakat kayak gue lo suruh ke galeri lo cuman buat ngeliatin lukisan-lukisan ini?"
Qian mengangguk antusias. Sedang Tio menggeleng tak mengerti kelakuan temannya itu.
Kemudian Tio mulai melihat satu per satu hasil tangan Qian. "Jadi lo dari mana tadi, Q?" Tanya Tio tanpa melihat Qian.
"Kepo deh."
"Nggak. B aja."
"Beneran mau tau?"
Tio lantas melirik Qian sebentar lalu kembali mengamati lekat-lekat lukisan Qian di depannya.
"Abis ketemu mantan. Kejar-kejar orangnya terus sujud-sujud minta ampun," cerocos Qian asal yang berhasil membuat Tio tersedak. Dan Qian pun tertawa puas melihatnya.
"Sebleng!"
"Nggaklah. Beneran abis ketemu mantan kok."
Tio menyingkirkan kanvas di depannya dan menatap Qian kali ini. "Si Patra-patra itu?"
Qian mengangguk. "Gue salah selama ini, Yo."
Tio tak ingin mengorek sesuatu yang bisa menjadi luka untuk Qian. Oleh karena itu ia diam dan menepuk pundak Qian dua kali.
"Oh iya. Ada info baru paling panas di kampus, Q." Tio mengalihkan pembicaraan.
Qian mengerutkan dahinya. "Ngalahin berita tentang gue dong?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FETCH [Completed]
RomanceMenghilang adalah keahlianmu. Keahlianmu tentu bukan keahlianku. Aku tak ahli menghilang. Aku juga tak ahli mencarimu. Alih-alih mencari, melihatmu saja sudah hampir di ujung garis nihil. Kamu adalah sosok yang terlalu misterius namun tak juga musta...
![FETCH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/141851347-64-k341339.jpg)