Blur

10.8K 386 1
                                        

Felice mengangguk dan tersenyum menanggapi jawaban Alister. Ia merasa bingung tiba-tiba. Apakah ia harus bertemu dengan Alister lagi atau malah menjauhi Alister. Memang sampai sekarang ia belum mengetahui apa tujuan dan maksud Alister kembali lagi mendekatinya. Bisa saja Alister hanya ingin mempermainkannya dan menyakitinya lagi. Felice tidak ingin disakiti lagi untuk kedua kalinya. Cukup sekali ia merasa sangat sakit ketika kehilangan seseorang yang ia cintai.

Felice memasuki lift dan berjalan menuju penthousenya. Sejak dari ia bermakan malam dengan Alister sampai sekarang, ia belum ada memegang ponselnya sama sekali. Setelah membersihkan tubuhnya barulah ia mengecek ponselnya itu. Di layar terpampang jelas notifikasi line dari sahabatnya dan Sebastian. Seperti biasa, percakapan diantara dirinya dan kedua sahabatnya itu tidak terlalu penting. Bahkan kadang bisa dibilang tidak penting. Karena apa yang dibahas semua mengenai lelaki, film, wattpad atau apapun itu yang bisa dibahas mereka. Sedangkan Sebastian, lelaki itu hanya menanyakan kabar Felice dan mengajak Felice untuk makan siang besok.

Felice sengaja tidak membalas Sebastian. Ia tidak tahu caranya menolak Sebastian. Ia juga tidak mau terlihat kasar dengan cara menolak ajakan orang lain secara mentah-mentah. Jadinya ia memutuskan untuk tidak membalasnya. Disamping itu, ia hanya membaca percakapan antara kedua temannya. Ternyata mereka sedang membahas sebuah film.

Disaat Felice akan meletakkan ponselnya diatas nakas, masuklah sebuah pesan dari Alister. Felice menarik bibirnya keatas sedikit disaat ia melihat nama Alister.

Alister galen

goodnight Felice. Have a sweet dream

langsung tidur ya kamu

Felice langsung membalasnya setelah membaca pesan itu.

Felice mourino

iya

okay. goodnight

Cara Felice membalas Alister memang keliatan dingin dan cuek. Tapi dibalik itu hatinya sedang berbunga-bunga. Ia memiliki alasan kenapa ia lebih memilih membalas dengan cara seperti itu. Felice tidak mau terlihat masih menyimpan rasa yang dalam untuk lelaki itu. Ia akan mencoba bersikap secuek mungkin. Karena jika lelaki itu tahu kalau Felice masih menyimpan rasa untuknya, ia pasti akan bersikap sesukanya terhadap Felice. Dan itu menambah kemungkin Felice untuk disakiti lagi. Itu yang ia pikirkan semenjak kembalinya Alister. Selain itu, Felice juga sangat yakin jika sikap bipolar lelaki itu masih melekat dalam dirinya. Suatu saat lelaki itu pasti akan bersikap dingin lagi kepadanya.

Alister memutar lagu kesukaannya selama ia menuju penthousenya. Sama seperti Felice, ia juga merasa sangat bahagia. Ia bahagia karena akhirnya ia dapat kembali berdekatan dengan Felice setelah sekian lama hanya melihatnya melalui foto-foto hasil jepretan mata-matanya.

Selama di New York ia juga sempat menjalani terapi untuk menghilangkan
sikap bipolarnya. Tapi setelah beberapa bulan menjalani terapi tersebut, ia tidak merasa adanya perubahan sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidak menjalaninya lagi. Semua itu ia lakukan demi Felice.

Ia tahu selama ia berpacaran dengan Felice dulu, Felice sangat tersiksa dengan
sikap bipolarnya itu. Dan disaat ia kembali nantinya, ia tidak mau Felice tersakiti hanya karena sikapnya itu. Ia akan mencoba sebisanya untuk menahan dirinya untuk tidak bersikap dingin terhadap Felice. Tetapi ia juga tidak menjamin jika sikapnya itu tidak akan kambuh meskipun ia yakin hanya Felice yang mampu menghilangkan sikap bipolarnya itu.

Kembalinya Alister ke kehidupan Felice itu semua karena Alister tahu jika Felice akan dijodohkan oleh orangtuanya. Ia tidak akan membiarkan Felice mejadi milik orang lain. Ia tidak ingin melihat orang lain menjadi alasan dibalik senyuman Felice setiap harinya itu. Alister memang seorang lelaki yang posesif terhadap sesuatu yang ia sayangi. Oleh karena itulah Alister kambali mendekati Felice.

Tetapi dimata Felice, semua tentang kembalinya Alister masih abu-abu.

Seperti pagi-pagi di hari lainnya, Felice bersiap untuk pergi ke kantor. Ia juga masih saja menerima paket dari Alister. Lelaki itu tiddak pernah kehabisan ide dengan barang apa yang akan diberikannya kepada Felice. Yang beda dari pagi lainnya adalah Felice mempunyai kebiasaan baru. Beberapa hari ini ia sering meminum caramel machiato. Felice adalah seorang penyuka caramel. Karena kebiasaan barunya itu, ia sampai mempekerjakan seorang barista dirumahnya untuk mebuatkannya segelas caramel machiato setiap pagi. Bartender tersebut boleh pulang setelah membuatkan Felice secangkir minum itu. Memang terdengar berlebihan, tetapi daripada ia harus singgah ke Starbucks hanya untuk segelas minum akan sangat membuang waktunya. Akhirnya ia lebih memilih mempekerjakan seorang barista. Toh kalau dihitung - hitung, harga mempekerjakan seorang barista dengan biaya untuk membali minum itu selama sebulan sama saja biayanya. Paling hanya sedikit lebih mahal untuk gaji barista itu.

Ayah Felice meneleponnya pagi ini, setelah sekian lama ia tidak meneleponnya setelah makan malam perjodohan itu. Jika ayahnya sudah sampai meneleponnya itu artinya hal yang dibicarakan akan sangat penting.

"iya halo"

"halo"

"kamu lagi dimana?" tanya papanya basa-basi.

"masih dirumah. Bentar lagi mau ke kantor"

"selasa nanti kamu ke restoran yang kemarin yang kita pakai untuk makan malam"

"ngapain? emang ada acara?"

"kita akan makan malam dan membahas perjodohan kamu lagi"

MY SAVIOR BILLIOANIRE [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang