"Lo ngapain di sini?" tiba-tiba terdengar suara Zen di telinga Lusi.
Lusi terkejut sampai pundaknya menegang, jantungnya berdebar cukup cepat dengan mata membulat. Bisa-bisanya Lusi ketahuan menguntit. Padahal ia pikir Zen tidak mengetahui keberadaannya. Sudahlah menguntit, ketahuan pula! Mau ditaruh mana muka Lusi nantinya?
Karena takut sekaligus malu, Lusi segera mengelak,
"Gue nggak denger apa-apa." ucapnya bohong, ia tersenyum kaku lalu melarikan diri tanpa sempat mendengar ucapan Zen. Setelah ini ia bahkan tidak ingin menjumpai Zen lagi. Memalukan sekali!
Sementara Zen menghela napas sambil terus memandangi punggung Lusi yang kian menjauh hingga tak terlihat. Ia mengusap wajahnya pertanda lelah. Lebih tepatnya putus asa mungkin? Entahlah.
***
Lusi bergumam sendiri di kamarnya. Sedari tadi ia tengkurap dan menutupi kepalanya dengan bantal, padahal tiga puluh menit lagi harus berangkat sekolah tapi sepertinya rasa malunya mengalahkan kewarasannya. Ternyata benar Lusi masih mengingat dan menyesali perbuatannya yang memalukan kemarin siang. Jika ini cerita dalam novel, mungkin ia akan menghapus bagian memalukan itu supaya Zen tidak mempermalukan dirinya atas kejadian itu. Tapi sayang sekali ini bukan novel, apalagi komik! Sudahlah, rasanya Lusi tersiksa dengan ini.
"Duh! Gimana, nih?" Lusi mengubah posisinya menjadi duduk bersila, rambut hitam panjangnya yang bergelombang tampak begitu kusut, "kenapa kemarin gue ketahuan?" Lusi kesal, "tapi salah gue emang, ngapain coba ngintipin Si Maling itu? Nanti kalo ketemu dia gimana? Belum lagi kalau dia marah ke gue, "Lusi mengehela napas, "kemarin kayaknya hal serius kan? Dosa nggak sih gue nguping? Ugh! Bodoh ah, ntar aja dipikirin lagi," Lusi beranjak dari ranjangnya, menuntun kakinya menuju kamar mandi. Meski dalam hati masih merutuki diri sendiri.
Lima belas menit kemudian.
Setelah berpamitan pada Siska, ia bergegas berangkat sekolah. Di perjalanan Lusi masih menggerutu hanya untuk menyalahkan diri sendiri. Bagaimana caranya agar bersikap biasa saja nanti? Seperti melakukan hal yang tidak senonoh saja. Apa perlu Lusi di ruqyah untuk ini?
Ketika melewati taman komplek tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya membulat, bibirnya pun bungkam begitu melihat sosok yang dikenalnnya berada tak jauh darinya. Lusi mengunci pandangannya pada satu titik yaitu di bangku taman yang berada di tepian jalan. Lebih parah lagi, bangku itu sedang diduduki oleh seseorang yaitu Zen. Benar! Ia sedang sibuk memainkan ponselnya hingga tak mengetahui keberadaan Lusi di dekatnya. Demi Tuhan, apakah Zen berniat membegal Lusi kali ini? Demi Dewa jangan lakukan ini!
Merasa situasi cukup aman, Lusi berinisiatif untuk melarikan diri. Pelan-pelan berjalan melewatinya namun, baru beberapa langkah Lusi berjalan, Zen melihat ke arahnya.
Lusi tersentak saat Zen menangkap basah dirinya, meski begitu Lusi tetap melontarkan senyum walau terlihat kaku,
"Hai," Lusi menyapa, sedetik kemudian ia berlari untuk menghindar. Namun, malang nasibnya sebab dengan sigap tangan Zen menarik tas di punggung Lusi, membuat gadis itu tak bisa bergerak apalagi berlari. Lusi tertangkap basah dengan sempurna!
Sementara itu, dengan santainya Zen menarik tas Lusi sampai membuatnya ikut terseret. Badan mungil Lusi seakan begitu ringan hingga bisa semudah itu Zen menyeretnya. Membuat Lusi hanya bisa pasrah kali ini. Begitu Lusi berdiri berdiri di depannya, Zen menyungingkan senyum selebarnya, manis sekali. Tapi terkesan mengerikan untuk ukuran Lusi yang mudah salah sangka.
Meski terpaksa Lusi tetap membalas senyuman Zen. Wajah cantiknnya terlihat lucu, terlalu menggemaskan bahkan untuk Zen. Ternyata dari dekat, Lusi memang semakin terlihat menawan.
"Hai, Lu-ser?" Zen menyapa.
Bukannya membalas, ia malah menepuk dahi,
"Aduh. Gue telat nih, bentar lagi udah masuk. Gue duluan, ya?!" Lusi berusaha lari, tapi lagi-lagi usahanya sia-sia sebab Zen masih memegang erat tas punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Choose You[COMPLETED]
Novela JuvenilSemuanya berawal dari sikap menyebalkan seorang Zen. Bagi Lusi, dia tak lebih dari seorang cowok super jail dan menyebalkan. Awalnya Lusi tidak begitu mengenalnya, tapi tetap saja Lusi merasa terganggu dengan keberadaan Zen. Menariknya setelah menge...
![I Choose You[COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/145837256-64-k204704.jpg)