"Itu pasti Fero," ucap Zen sambil menatap Lusi.
Lusi terlonjak kaget. Hampir saja gadis itu berteriak.
"Terus gue gimana? Kalo Fero tahu gue ada di sini, dia pasti bakal mikir yang enggak-enggak," ucap Lusi setengah berbisik, ada raut kegelisahan di wajahnya.
Dengan sigap Zen mendekatinya, ia menyahut tas sekolah Lusi dan mulai berjongkok,
"Buruan naik, lo sembunyi aja dulu."
Lusi tak mengatakan sesuatu. Ia menurut dan segera menaiki punggung Zen.
Zen melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua, menaiki anak tangga dengan hati-hati. Sesampainya di kamar, Zen menurunkan Lusi di kasurnya. Tak lupa ia meletakkan tas Lusi di samping gadis itu.
"Fero nggak bakanlan tahu, kan?" Lusi masih gelisah.
Zen menanggapinya dengan tersenyum,
"Jangan bersuara," pesan Zen pada Lusi sebelum berlalu pergi dan menutup pintu kamar.
***
Cyiiit!
Suara rem berbunyi.
Zen menghentikan motornya tepat di depan rumah Lusi.
"Bisa nggak turunnya?" Zen menoleh kebelakang, tak lupa ia memberikan tangannya sebagai pegangan untuk Lusi.
"Kayaknya sih bisa," jawab Lusi sambil berusaha turun dari motor. Digenggamnya tangan Zen dengan erat, berhati-hari supaya tak jatuh lagi.
"Kalo nggak bisa nggak usah dipaksa. Sini gue gendong lagi," Zen sedikit kuatir.
Tapi kekhawatirannya tak terbukti sebab Lusi berhasil mendarat dengan aman,
"Bisa. Gue bisa!" Lusi semringah.
Zen terkekeh,
"Ekspresi lo barusan itu mirip banget sama anak kecil yang baru dikasih permen," ujar Zen. Ia tertawa renyah.
Lusi yang mendengarnya jadi sebal, gadis itu memasang tampang datarnya,
"Nggak lucu. Udah puas ketawanya?"
"Udah," Zen menyunggingkan senyum.
"Oke. Sekarang buruan anterin gue masuk ke dalam," suruh Lusi.
Zen mendengus,
"Elo mau malak apa mau minta tolong?"
Belum sempat Lusi menjawab, tiba-tiba Siska berseru memanggilnya. Tantenya itu tengah berjalan mendekati keduanya. Sesekali dia berlari kecil.
"Ngapain nggak langsung masuk?" tanyanya begitu berdiri di dekat Lusi dan Zen.
Lusi tersenyum kikuk,
"Lagi ngobrol bentaran doang kok, Tante," jawabnya.
Mendengar Lusi memanggilnya dengan sebutan tante, lantas saja Siska melotot. Maklumlah karena masih terlalu muda ia tidak pernah mau dipanggil dengan julukan itu. Menurutnya itu terlalu tua untuk ukuran wajah cantiknya, bahkan dia masih lajang, rasanya dia tidak pantas dipanggil tante. Setidaknya begitu pikirnya. "Apa? Lo panggil gue apa?!"
Lusi dan Zen sampai tersentak mendengar suara Siska yang dirasa terlalu menggelegar.
"Emang dia barusan manggil Tante apa?" tanya Zen heran. Bertanya dengan nada yang sopan tapi Siska tetap melotot kearah keduanya.
Lusi segera tersadar begitu mendengar Zen memanggil Siska dengan sebutan tante. Lusi teringat ucapan Siska yang mengharamkannya untuk memanggil Siska dengan sebutan itu. Terkesan aneh memang tapi Lusi tetap menyanggupinya.
"Lo juga?! Ngapain ikutan manggil gue kayak gitu?!" Siska menautkan alis.
"Aduh!! Aduuhh!" tiba-tiba Lusi memekik kesakitan, ia bermaksud mengalihkan Siska.
Benar saja Siska segera menoleh padanya, raut khawatirnya begitu ketara saat melihat lutut Lusi yang dipenuhi plaster, terlebih melihat pergelangan kaki Lusi yang membengkak, sedari tadi dia tidak melihat keadaan Lusi memang.
"Astaga, Lusi?! Gimana bisa lo kayak gini? Siapa yang udah bikin lo kayak gini? Bilang ke gue?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Choose You[COMPLETED]
JugendliteraturSemuanya berawal dari sikap menyebalkan seorang Zen. Bagi Lusi, dia tak lebih dari seorang cowok yang sangat usil dan menyebalkan. Awalnya Lusi tidak begitu mengenalnya, tapi tetap saja Lusi merasa terganggu dengan keberadaannya. Menariknya setelah...
![I Choose You[COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/145837256-64-k204704.jpg)