Masih di rumah Fero. Bertempat di taman yang di kelilingi pohon cemara dengan sebuah kolam berukuran besar, Lusi duduk di sana, gadis itu tertunduk lesu dengan tampang murung membingkai wajah cantiknya. Gadis itu duduk bersebelahan dengan Rere di sebuah kursi kayu bercat putih. Seakan meratapi nasibnya yang sia-sia.
"Ayolah, Lu. Masa lo nggak masuk, sih? Udah nyampe sini juga!" Rere berdecak kesal. Entah sudah berapa kali mencoba merayu Lusi agar segera masuk ke dalam rumah Fero.
"Lo masuk aja sendiri," Lusi masih tertunduk.
Rere mengerang sebal, "Lu, lihat gue sekarang!" Rere berdiri di depan Lusi.
Lusi mendongak sambil berdehem.
"Berdiri!" Rere menarik tangan Lusi, membuatnya berdiri.
Lusi menatapnya sayu, ia terlihat begitu tak bersemangat, "Apa?"
Rere mendengus, "Lo takut apa? Lo tuh cantik Lu, pakai banget," ia menatap Lusi sunguh-sunguh, "dan ya, dress hitam yang lo pakai ini beneran kontras banget sama kulit putih lo, tapi itu bagus karena lo makin kelihatan bersinar, jujur itu bikin gue iri." Rere menepuk dada seakan sesak, berlebihan memang tapi ia hanya berniat menghibur Lusi setidaknya.
"Hah?!" Lusi menatapnya bingung. Ia benar-benar tak mengerti arah pembicaraannya.
"Abaikan, bukan itu masalahnya." Rere menggeleng, "maksud gue, apa tadi lo nggak ngaca?! You look so cute, dan cantik banget di mata gue. Apa lagi di mata Fero!"
"Makasih, tapi gue-"
"Cukup!" Rere menunjukan telapak tangannya ke wajah Lusi, "sekarang ayo kita masuk dan kasih kado itu ke Fero." Rere menggandeng tangan Lusi.
Lusi mematung, badannya mendadak kaku, dan mati rasa, sungguh sama sekali tidak ingin menuruti ucapan Rere.
"Apa lagi?!" Rere masih sebal.
Lusi menarik napas lalu membuangnya perlahan, "Ya udah. Lo duluan aja bentar lagi gue nyusul, gue mau nenangin diri dulu," Lusi beralasan.
"Beneran ya?" Rere memastikan.
Lusi mengangguk. Sebenarnya itu hanyalah alasan agar bisa melarikan diri dari keadaan ini. Berpikir kabur adalah jalan keluarnya.
"Jangan lama-lama!" Rere beranjak pergi.
Lusi kembali duduk dan menunduk. Ia sampai meremas keningnya karena gelisah.
Sekitar hampir setengah jam Lusi masih menunduk lesu di kursi itu. Ia merasa putus asa dan akhirnya berdiri, ia memutuskan untuk pulang.
Ponsel Lusi bergetar, menandakan ada yang menghubunginya.
Lusi menatap layar ponselnya, ternyata Zen yang memanggilnya.
Lusi menjawabnya, "Apa?" suaranya terdengar lesu.
Lo dimana?
"Gue di taman rumah Fero, tapi gue mau pulang."
Apa?! Ngapain pulang?!
Zen panik.
Lo tunggu di situ bentar, gue mau ke sana!
Zen mematikan panggilan.
Lusi menatap ponselnya lalu beralih ke kado yang ia bawa, menatapnya begitu lama dan merasa tak berdaya. Tangannya meraih kado itu dan mulai berjalan, langkahnya terkesan gontai. Saat melewati gerbang rumah Fero seseorang memanggilnya.
Lusi tak menoleh, ia tetap berjalan dan mengabaikannya sebab tahu yang memanggilnya tak lain adalah Zen.
"Mau kemana?!" Zen menarik tangan Lusi, membuat mereka saling berhadapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Choose You[COMPLETED]
Teen FictionSemuanya berawal dari sikap menyebalkan seorang Zen. Bagi Lusi, dia tak lebih dari seorang cowok yang sangat usil dan menyebalkan. Awalnya Lusi tidak begitu mengenalnya, tapi tetap saja Lusi merasa terganggu dengan keberadaannya. Menariknya setelah...
![I Choose You[COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/145837256-64-k204704.jpg)