Tega

72 29 0
                                        

"Kamu nggak pulang? Nggak ganti baju?" Lusi berbisik, saat ini keduanya sedang berjalan di belakang Siska dan Zoey.

"Pakai baju ini nggakpapa kok," Zen menjewer kaos putih yang dikenakannya.

"Mau dihukum? Atau mau ngunjungi ruang BK lagi?" Lusi memutar bola mata jengah.

"Boleh juga idenya," senyumnya melebar.

"Dih, dasar!" Lusi mencubit pinggang Zen.

"Aww!" Zen mengadu pelan sambil meringis kesakitan. "Dicium aja, jangan dicubit. Sakit." Zen merangkul Lusi dari samping, ia memegangi tangan Lusi membuatnya tak bisa lagi bergerak.

"Lepasin nanti dilihat sama-"

Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi Lusi, membuat gadis itu berhenti meneruskan ucapannya.

"Kena!" Zen melepaskan Lusi, berjalan mundur sambil memasukkan tangannya ke saku celana, ia melengkungkan senyum khasnya. Dengan sengaja Zen membiarkan Lusi membeku di tempatnya. Sedetik kemudian Lusi berbalik menghadapnya, matanya membulat menatap Zen tak percaya.

"Nyebelin!" Lusi menautkan alis.

"Lucu banget pacarku," Zen terkekeh, ia berhenti berjalan mundur. "Nanti sepulang sekolah aku tunggu di taman."

"Bolos lagi?" Lusi mendelik.

Zen hanya membalasnya dengan seulas senyum, senyum yang sulit diartikan. "I love you!" Lagi-lagi dia mengatakan itu, seolah-olah takut tidak bisa mengatakannya lagi.

Kamu kenapa, sih? Lusi membatin, entah kenapa gadis itu merasa resah. Sepertinya perasaannya benar, ada sesuatu yang sedang dipikirkan Zen.

***

Seperti biasa Lusi berjalan sendirian, tadinya di persimpangan jalan Lusi berpisah dengan Rere maklum saja rumah keduanya memanglah berlawan arah.

Lusi berjalan sambil menundukkan kepala, menatap jalanan yang ia lewati dengan perasaan resah, mungkin karena terlalu memikirkan Zen hari ini. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Lusi secara otomatis berhenti melangkah, ia melihat nomor kontak itu, tertera nama Ruoy Evol di sana.

Tunggu?! Ini nomor siapa? Perasaan nggak pernah save nomor dengan nama ini, Lusi membatin.

Meski ragu, Lusi tetap menggeser tanda hijau di layar ponselnya lalu menempelkan benda canggih itu ke telinga.

I love you, my little Lu.

Deg!
Suara Zen terdengar di telinganya, membuatnya membeku sedetik. Bersamaan dengan itu kini ia tahu yang mengubah nama kontak itu memanglah Zen sendiri.

Turn around.

Lusi langsung berbalik badan, dan mendapati Zen tengah berdiri di depannya, berjarak sekitar tiga jengkal darinya. Perlahan tangan Lusi turun ke bawah, ia menatap Zen lama.

Zen mendekatinya sambil melengkungkan senyum. Begitu berdiri di depan Lusi, ia segera menangkup wajah Lusi, menatap matanya lekat, "Lu, aku harus pergi, jaga diri baik-baik, jangan deketin Fero, jauhin Santi, jangan lupa untuk tersenyum dan bahagia-"

"Tunggu!" Lusi memotong. "Pergi? Maksudnya?" Lusi mulai resah sekaligus takut, sekilas mengingat perilaku Zen saat di rumah sakit dan juga hari ini. Ketakutannya seakan menjadi nyata, menganggap perilaku Zen seperti itu karena Zen memang akan pergi.

"Maafin aku," Zen menarik Lusi, mendekapnya erat, sangat erat sampai Lusi menjadi sesak, "aku pasti kembali."

Lusi meronta, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya, "Enggak! Bilang kalau kamu bohong!" Lusi memukuli punggung Zen. "Kamu bohong!"

I Choose You[COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang