Takut

54 27 14
                                        

Byur!
Lusi tercebur ke dalam kolam.

Untuk beberapa saat Lusi tenggelam sampai Zen berhasil menarik Lusi ke dalam pelukannya membuat kepalanya kembali bebas ke permukaan, "Uhuk, huk!" Lusi terbatuk-batuk, ia sampai menelan air kolam dan sekarang dadanya terasa sesak, kerongkongannya terasa tak nyaman sepenuhnya. Hampir saja dia meninggal. Setidaknya begitu pikiran Lusi terbentuk.

"Lo nggakpapa?" Zen bertanya. Tangan Zen menyingkirkan rambut panjang Lusi yang menutupi wajahnya, memastikan gadis itu tidak perih karenanya.

Lusi terbatuk lagi, "Nggak lucu! Gua udah bilang, uhuk!" ia kesusahan bicara, "gue nggak bisa berenang, masih aja maksa!" ia menutupi hidungnya, hidungnya terasa mampet.

"Sorry," Zen meminta maaf.

Lusi melihat ke sekeliling sambil terbatuk-batuk, ia mengusap wajahnya, kini mulai menyadari semua orang sedang memperhatikan. Berpikir semua orang menatapnya aneh padahal sama sekali tidak.

Ia kembali menatap Zen, dan segera sadar jika Lusi berada dipelukannya, kontan ia mendorong dada bidang Zen, mulai meronta berusaha menjauh.

"Ngapain peluk-peluk!"

"Mau dilepasin biar tenggelam lagi?" Zen berujar, ia menatap Lusi teduh.

Iya juga! Lusi membenarkan.

"Yaudah sekarang bantuin gue naik," Lusi meminta.

"Kalo gue nggak mau gimana?"

"Ih, rese!" Lusi melirik Fero yang sedang memandanginya, lelaki itu mencoba mendekat. "Buruan, Fero lagi ke sini. Gue malu."

Zen menoleh, "Emang kenapa? Gue cuma bantuin."

Sekali lagi Lusi memukul dada Zen, "Cepetan!"

Zen menuruti dengan ogah-ogahan. Perlahan mulai menaikkan Lusi, "Puas?" ia berenang menjauh.

Fero yang baru tiba di depan Lusi segera bertanya, "Lo nggakpapa?"

"Nggakpapa," Lusi menggeleng.

"Lo nggak bisa renang?"

Lusi mengangguk.

"Mau gue ajarin?" Fero mengulurkan tangan.

Lusi menatap tangan Fero ragu, "Gue nggak bisa, gue takut."

"Nggakpapa. Ada gue kok," ia meraih tangan Lusi.

Lusi masih ragu, tapi mencoba menuruti Fero. Perlahan ia menceburkan diri ke kolam, sedikit pun tak berniat melepaskan tangan Fero. Atau akan tenggelam lagi kali ini.

Untuk beberapa saat Lusi belajar berenang bersama Fero, sepertinya merasa sangat senang sampai melupakan keberadaan Santi, Rei, dan Zen yang juga di sekitarnya, hal itu bisa dilihat dari senyum manisnya yang tak pernah pudar. Sesekali Lusi bersorak gembira karena mulai bisa berenang walau sedikit. Di sisi lain kebahagiaan Lusi malah membuat Santi merasa iri seakan tersaingi, merasa tidak tahan Santi bergegas keluar dari kolam guna meninggalkan yang lain, lebih tepatnya meninggalkan Fero bersama Lusi.

Sementara Zen yang melihat itu hanya bisa menatap sayu. Seolah merasa cemburu melihat Fero bersama Lusi.

Akhirnya lo bisa deket juga sama Fero, batin Zen.

Ia menepi untuk duduk di pinggiran kolam, Rei mengekor di belakangnya.

"Woi, balapan lagi sini sama gue! " tantang Rei percaya diri.

Zen mendengus, "Nggak, ntar Kakak kalah," Zen mencibir.

"Songong lo, ya! Tadi gue belum siap makanya kalah, gue sekarang udah siap. Ayo tanding ulang!"

I Choose You[COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang