Kencan?

85 30 7
                                        

Di luar hujan begitu deras, sesekali terdengar gemuruh petir. Udara menjadi dingin meskipun berada di dalam rumah, tapi sepertinya itu tak berpengaruh untuk Lusi, ia bahkan hanya mengenakan pakaian tanpa lengan berwarna putih sebatas lutut.

Lusi berada di sofa sambil senyum-senyum sendiri membalas pesan Fero. Seolah terlalu bahagia sampai tak mempedulikan perutnya yang lapar, sudah berulang kali perutnya berontak, tetapi tetap saja tidak segera mengisi perut malangnya.

Kruuuk!
Perut Lusi berbunyi. Kali ini ia mencengramnya, sepertinya Lusi tidak bisa menahannya lagi.

Segera Lusi berlari menuju meja makan. Saat duduk di kursi ia membuka tudung saji, kosong, hanya ada sisa piring kotor bekas menyimpan ikan dan lauk tadi siang. Lusi menelan ludah seakan ingin segera makan.

Lusi melirik jam dinding. Masih menunjukkan pukul 19.27, dan Siska masih belum pulang juga. Sepertinya pulang terlambat karena lembur lagi. Akhir-akhir ini entah kenapa Siska semakin jarang pulang tepat waktu.

Daripada itu Lusi mencoba pilihan lain, beranjak dari kursi menuju lemari es yang hanya berjarak tiga jengkal darinya, ia membukanya dengan tak sabaran. Berharap menemukan sesuatu di sana.

Pandangannya menelusuri isi di dalamnya, "Cuma ada melon sisa kemarin?" Lusi mendengus, "ada sereal sih, tapi bosen," ia meraih kotak sereal dan memandanginya, "coba goreng telur, ah!" Lusi meletakkan kotak sereal dan mengambil satu butir telur.

Ia berjalan menuju dapur.

Lusi mengambil papan penggorengan dan meletakkannya di atas kompor.

Lusi mulai bingung, "Oke, ini gimana caranya?" ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Memang Lusi tidak pernah memasak, selama ini hanya di masakan mendiang Mamanya saja. Saat Mamanya menjanjikan akan mengajarinya memasak, kecelakaan itu terjadi, dengan kata lain Lusi belum pernah memasak. Makanya tantenya selalu kuatir jika meninggalkan Lusi seorang diri di rumah. Takut gadis itu nekat melakukan ekperimen sendiri dengan membakar dapur atau takut Lusi mati kelaparan jika ditinggal seorang diri karena tidak bisa memasak.

Lusi meraih botol minyak goreng, memasukkan sedikit minyak di atas papan penggorengan, "Ini begini, kan? kayaknya sih gini," Lusi bergumam sendiri. Sambil mencoba mengingat bagaimana cara Mamanya memasak.

Lusi meletakkan kembali botol minyak itu serta menyalakan kompor.

Saat kompor menyala dengan segera Lusi memasukkan telur di tangannya, padahal minyaknya belum panas, alhasil telurnya hanyalah tergenang minyak.

"Kok gini?" ia semakin bingung, "kurang panas kali," Lusi memperbesar nyala api. Sesaat kemudian telurnya meletup-letup.

"Aww!" Lusi memekik seraya menjauh. Lengannya terkena letupan itu sampai kulitnya terasa terbakar, buru-buru Lusi membilasnya dengan air mengalir. Memasak ternyata sangat mempertaruhkan nyawa. Tidak cocok tentunya untuk seseorang yang mudah meninggal.

Lusi meringis merasakan lengannya yang terasa terbakar, ia kembali ke penggorengan.

Langkah lusi terhenti di depan penggorengan, ia kaget bukan main saat melihat telurnya hampir hangus, refleks ia mematikan kompor, tak lupa mengambil telur itu lalu meletakkannya di piring. Alhasil telur buatan Lusi hangus dengan sempurna.

Lusi memandangi telur itu, di bagian pinggirnya sudah kering dan menghitam sementara kuning telurnya hanya setengah matang, memang tidak enak untuk di lihat, apa lagi di makan, kendati demikian Lusi berniat ingin memakannya karena lapar. Dengan gontai ia melangkah ke meja makan.

Setibanya Lusi segera duduk di kursi dan mulai berpangku tangan, "Kayaknya nggak enak," Lusi mengerucutkan bibir.

Perlahan Lusi menuangkan nasi ke piring. Mengambil sendok dan mulai menyuapkan ke mulut, Lusi mengunyahnya dengan mata tertutup.

"Umm!" Lusi menutupi mulutnya.  Ia hampir memuntahkannya, tapi buru-buru berlari menuju lemari es dan meraih botol minuman, meneguk air sampai menelan makanan di mulutnya.

"Nggak enak," Lusi mengeluh. Diletakkannya botol itu ke dalam lemari es.

Lusi kembali ke meja makan, ia kembali duduk dengan wajah cemberut merasakan perutnya semakin lapar. Ia berharap Siska segera pulang.

Cklek!
Suara pintu terbuka.

Refleks Lusi menoleh, bergegas menghampiri sebab tahu itu tantenya.

Saat berada di ruang depan ia berpapasan dengan Siska. Siska menenteng tas plastik berisi makanan.

"Makan, yuk?!" Siska mengajak. Tangannya sedikit menaikkan tas plastik itu.

Mata Lusi berbinar, ia mengangguk senang.

Seperti mengerti keadaan Lusi yang kelaparan, buru-buru Siska menggeret Lusi menuju meja makan. Ia segera membuka makanan cepat saji itu setelah duduk di kursi dapur. Keduanya mulai makan bersama.

Lima belas menit kemudian.

Cuur!
Lusi menyalakan air, ia membasuh kedua tangannya setelah makan.

"Daripada masak gosong gini mending besok gue ajarin masak, biar bisa. Besok gue cuti jadi seharian gue free," tutur Siska sambil mengelap tangannya yang basah.

Lusi lantas menoleh, "Beneran?" Ucapnya antusias.

Siska mengangguk pasti.

***

Dengan tergesa-gesa Lusi menuruni tangga, ia merapikan rambutnya dengan jari, melangkah buru-buru sebab di depan rumah ada Fero yang menunggunya.

Melihat Lusi seperti itu lantas Siska mendekat, padahal ia sedang sibuk dengan kegiatan mengecat kuku. Sebenarnya tidak berniat mendekat, tetapi karena melihat Lusi memakai pakaian rapi dan terlihat lebih cantik dari biasanya membuat Siska menaruh curiga tentunya.

"Mau pergi?" tanya Siska saat Lusi menuruni anak tangga terakhir.

"Iya, cuma sebentar kok."

"Kemana?"

Lusi sedikit ragu untuk menjawab, "Ke ... bioskop," jawabnya seraya melihat raut wajah Siska.

"Sama siapa?" Siska menginterogasi.

Lusi menatap langit-langit atap berharap menemukan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Siska, "Sama temen," Lusi kembali menatap Siska.

"Namanya?" Siska masih berusaha mengorek.

Oh God! batin Lusi.

"Sama Fero," Lusi berucap lirih namun, Siska masih bisa mendengarnya.

Tanpa sadar raut wajah Siska berubah berseri, "Fero?" Siska mengulang.

"I-iya," Lusi terbata-bata, "tapi cuma bentar kok, Kak," ia meyakinkan.

Siska mengibaskan tangan ke depan wajahnya, "Duh, jangan ngomong gitu. Lama juga nggak papa."

Lusi tersipu.

***

"Yakin mau nonton ini?" tanya Fero meyakinkan.

Lusi mengangguk, "I-iya." Lusi menanggapi. Ia terpaksa menyetujui sebab itu film pilihan Lusi sendiri.

Mereka segera memasuki studio berukuran besar itu dan mulai mencari tempat duduk.

Setelah duduk keduanya mulai menatap layar besar di depan mereka, menunggu film yang akan di putar.

Sebenarnya dalam hati, Lusi sangat menyesali pilihannya. Sama sekali tidak tahu jika itu termasuk film horor, tapi ia tak bisa menyalahkan siapa pun karena itu kesalahannya sendiri. Jujur saja dia paling takut dengan film horor, tapi sekarang malah menontonnya.

Bodoh! Bodoh! Gue beneran takut. Ngapain coba tadi minta nonton ini? batin Lusi.

"Udah mau mulai bentar lagi." Fero menatap Lusi.

"Iya." Lusi tersenyum simpul mencoba menutupi ketakutannya.

*****

I Choose You[COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang