Palsu

70 27 10
                                        

Lusi tertunduk lesu di kamarnya. Mencoret-coret buku belajarnya dengan berpangku tangan. Ia belum mengatakan pada Siska jika hari ini Si peneror tertangkap basah oleh Lusi sendiri, walaupun sebelumnya pernah berjanji untuk segera mengatakan jika sudah mengetahuinya.

Tenyata selama ini peneror itu Santi, bukan orang lain. Gimana bisa dia lakuin itu ke gue? Padahal selama ini dia selalu baik sama gue, Lusi membatin.

Lusi mengingat kilas balik beberapa kejadian saat mengalami banyak kesulitan, dan menyadari jika saat itu Santi selalu berada di dekatnya. Seakan merasa dibodohi sampai tidak menyadari sejak awal Santi lah pelakunya.

"Lu?" Siska memanggil.

Lusi menoleh, "Ya, Kak?" ia melihat Siska sedang berdiri di ambang pintu.

"Waktunya makan malam," ia tersenyum, "gue masak banyak loh," imbuhnya.

Lusi beranjak dari kasur, "Tumben?" ia berjalan mendekat.

"Temen-temen gue mau dateng."

Lusi terkejut, "Maksud Kakak, aku ikutan makan sama temen-temen Kakak?"

"Iyalah," Siska berbalik hendak menuju dapur, "nggak usah dandan atau ganti baju, udah cantik kok," Siska meninggalkan Lusi yang masih mematung. Seakan tahu jika Lusi selalu kurang percaya diri dengan penampilannya sendiri.

"Tapi aku-"

"Sepuluh menit!" Siska berseru.

Buru-buru Lusi berlari menuju cermin besar yang menempel di lemarinya, ia memutar badan seolah mencari sesuatu yang terlihat buruk di dirinya. Uniknya dia merasa tidak menarik seperti biasanya.

Lusi berkacak pinggang, dahinya berkerut karena berpikir, sesaat kemudian matanya membulat, "Rambut gue awut-awutan! Belum keramas!" Lusi panik.

Dengan sigap Lusi menyahut sisir dan merapikan rambut panjangnya namun, sepertinya masih merasa ada yang kurang. Orang cantik apakah selalu seperti ini?

"Diiket aja deh, biar nggak ketahuan kusutnya," Lusi mengikat rambutnya lalu tersenyum puas.

"Lusi!" Siska berseru dari bawah.

Kontan Lusi berlari menghampiri. Dengan cepat menuruni tangga sampai badannya terhuyung dan,

Buk!
Lusi jatuh di atas badan seseorang. Alhasil keduanya merintih kesakitan.

"Lo nggakpapa?" terdengar suara Fero di telinga Lusi.

Lusi mendongak, "Fero?!" ia terlihat kaget. Demi apapun, kenapa malah Fero yang datang? Disaat Lusi cosplay jadi babu pula. Kenapa tidak diwaktu yang tepat saja seperti ketika Lusi wangi, rapi, dan cantik?! Dalam hati berulang kali Lusi merutuki diri sendiri.

Fero mengulurkan tangan, "Gue bantu berdiri."

Lusi menggenggam tangan Fero,  "Makasih," dia berucap setelah berhasil bangkit di samping Fero.

"Gue nggak dibantu, nih?" celetuk Rei yang masih tersungkur di lantai.

"Berdiri aja sendiri," Fero terkekeh.

Sepertinya Lusi baru mengingat keberadaan Rei, benar-benar lupa jika baru saja menabrak Rei hingga membuat lelaki itu tersungkur. Lusi segera meminta maaf seraya membungkuk.

"Nggakpapa. Gue mau kok ditabrak lagi," Rei berucap seraya berdiri.

"Gue colok mata lo pakai ini?" tiba-tiba Siska sudah berdiri di depannya.

Refleks Rei mundur satu langkah, "Bercanda gue."

Siska memutar bola mata guna menanggapi Rei.

"Sini ikut gue. Waktunya makan malam," Ujar Siska seraya berjalan menuju meja makan mendahului mereka.

I Choose You[COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang