"Lo takut?" akhirnya Fero bertanya setelah melihat ekspresi Lusi yang berulang kali terlihat ketakutan. Terlebih melihat mata Lusi yang saat ini terpejam rapat, jujur saja Fero hampir tertawa melihatnya karena Lusi terlihat lucu dan begitu menggemaskan.
Lusi yang sedang dalam ketakutannya tanpa sadar meremas erat rok abu-abu selutut yang dikenakannya. Ia begitu takut sampai tak bisa mendengar suara Fero. Di telinganya yang terdengar hanyalah suara menyeramkan yang menurutnya semakin keras sampai membuat bulu kuduknya berdiri.
Fero menggenggam tangan Lusi, mendekat ke telinganya dan berkata, "Lu, kita bisa pulang kalau lo takut."
Suara Fero berhasil menyadarkan Lusi. Ia seolah tersihir mendengar suara lembutnya, bagi Lusi itu bahkan lebih dari sekadar lembut.
Lusi membuka mata dan menyadari jarak mereka begitu dekat.
"Pulang, ya?" Fero masih menggenggam tangan Lusi, senyumnya terukir di bibir.
Lusi yang tadinya ketakutan mendadak merasa jantungnya berdetak tak karuan, "Nggak papa pulang duluan? Film-nya kan, belum selesai."
Fero terkekeh, "Daripada lihat lo ketakutan terus," Fero masih berusaha untuk tak tertawa.
Lusi mengerucutkan bibir, ia terlihat kesal, "Ngeledek, ih."
Lagi-lagi Fero terkekeh, "Udah, sini ikut gue," Fero menarik tangan Lusi, mengajaknya keluar dari tempat menakutkan itu.
"Kita mau kemana? beneran pulang?" Lusi bertanya begitu berada di luar bioskop.
"Makan dulu, ya?" Fero menoleh tanpa menghentikan langkahnya.
Lusi mengangguk, sedari tadi Lusi menatap tangannya yang terus digenggam Fero. Sungguh, gadis itu merasa terlalu senang sampai ingin melompat-lompat rasanya.
Sampai di parkiran Fero membukakan pintu mobil, mempersilakan Lusi masuk.
Lusi tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil Fero.
Begitu Fero menutupnya, dengan segera ia masuk ke dalam mobil. Fero menghidupkan mobil putihnya dan memelesat melewati jalanan yang lumayan ramai, tak menghiraukan hujan yang turun dengan derasnya.
Saat di jalanan Fero merasakan ada yang aneh dengan mobilnya. Perlahan ia menepi lalu menghentikannya di depan sebuah toko yang kebetulan sedang tutup.
"Kenapa?" Lusi bertanya.
"Mobilnya rada nggak enak," Fero melepas jaket lalu menggantungnya di kursi.
"Gue cek bentar, tunggu aja di sini," ujar Fero kemudian keluar dari mobil.
"Tapi di luar hujan," ucapan Lusi tak bisa di dengarnya sebab Fero sudah keluar dan menutup pintu mobil.
Lusi menghembuskan napas panjang, ia memperhatikan Fero dari dalam dengan perasaan tak tega. Saat ini Lusi hanya bisa menatap Fero dari jauh sementara Fero terguyur oleh derasnya hujan.
Fero terlihat membungkuk sepertinya ia melihat ban depan, sesaat kemudian ia mengacak rambutnya kesal. Buru-buru ia menghampiri dan membukakan pintu untuk Lusi.
"Kenapa?" Lusi menatapnya. Ia berusaha keluar namun, ditahan Fero.
"Ambilin jaket gue, gih. Ntar lo kehujanan," Fero menunjuk jaketnya.
Lusi meraih jaket itu dan memberikannya pada Fero.
Fero tersenyum simpul, "Lo aja yang pakai," perlahan Fero menyampirkan jaket itu ke bahu Lusi.
Lusi menatapnya, "Tapi lo lebih butuh ini, badan lo udah kuyup, Fer."
Fero menggeleng, "Udah, ayo!" ia menarik tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Choose You![COMPLETED]
Teen FictionSemuanya berawal dari sikap menyebalkan seorang Zen. Bagi Lusi, dia tak lebih dari seorang cowok yang sangat menyebalkan. Lusi memang tak mengenalnya, tapi Lusi tetap merasa terganggu dengan keberadaannya. Tapi setelah tahu sesuatu dari lelaki itu...