PLM 22 ~ Miss You

1.4K 75 4
                                        

"Adakah yang lebih sakit dengan rasa rindu ini? Merindukannya adalah hal tersakit yang pernah aku alami. Dan dia adalah suamiku."

-Joanna Carey-

❤️❤️❤️

Joanna memandang langit yang sangat cerah itu di jendela kamarnya. Sudah sebulan ia tinggal bersama kedua orang tuanya di Bogor. Walau rasa rindu itu terus menghantuinya hingga saat ini, tapi ia berusaha melawannya dengan ketegaran yang tersisa.

Joanna teringat akan suaminya. Ia teringat ketika harus berada diposisi sulit, yaitu melawan perasaannya sendiri. Perasaan yang tak sanggup ia lenyapkan, dan tak terbalas. Ia sangat rindu ketika Oliver memarahinya.

Aku merindukanmu batin Joanna berbicara, sambil tangannya memegang perutnya yang tiba-tiba bergejolak.

Tak butuh waktu lama, ia berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan semua makanan ke dalam wastafel. Namun, yang keluar hanya salivanya. Tapi Joanna merasakan mual yang menghantamnya keras.

Ia memandang wajahnya yang pucat dan sedikit tirus itu di cermin yang ada dihadapannya. Seketika ingatannya kembali pada kejadian sebulan yang lalu, yang membuatnya harus pergi meninggalkan cintanya.

Tak terasa air matanya mengalir deras tatkala ia sadar, bahwa ia sudah telat. “Apa aku hamil?” lirihnya pada diri sendiri. Kemudian, ia mengelus perutnya yang masih rata itu dengan perasaan yang tak menentu. Rasa senang dan pilu langsung menimpanya begitu saja. Melebur hingga ia bingung apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Oliver…. Tidak mungkin! Tidak mungkin aku hamil! Aku hanya melakukannya sekali dengan pria itu. Tidak! Ini tidak boleh terjadi!”

Joanna memundurkan tubuhnya hingga menempel pada dinding kamar mandi. Lalu, badannya terkulai lemas menuju lantai. “TIDAK!!”

❤️❤️

Rina terkejut ketika mendengar teriakkan anaknya di lantai atas. Segera ia menunda acara memasaknya, dan berlari menuju kamar Joanna.

“Joanna? Kau kenapa?”

Rina terus mengetuk pintu kamar anaknya. Namun tidak ada sahutan di dalam sana. Untuk itu ia membukanya dan tidak terkunci. Ia melihat seisi ruangan itu... kosong. Tidak ada Joanna di sana. Lalu, pandangannya menemukan pintu kamar mandi yang tertutup. Segera ia hampiri, dan mecoba membukanya. Terkunci…

“Joanna? Apa kau ada di dalam?” serunya dengan nada cemas.

Tidak ada sahutan. Hanya terdengar suara keran yang menghiasi keheningan itu.

“Joanna?! Joanna tolong jawab Ibu! Tolong buka pintunya! Jangan membuat Ibu khawatir, Nak!” Rina mulai panik. Ia terus menggedor-gedor pintu bercat putih itu. Lalu, pikirannya melayang pada kunci cadangan.

Setelah mendapatkan kunci itu, Rina membuka pintu itu, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat Joanna yang pingsan dengan wajah pucatnya.

“JOANNA!!”

❤️❤️

"Bagaimana keadaan Joanna, Dok?" tanya Rina cemas.

Dokter pria itu tersenyum hangat. "Apa saudari Joanna putri Ibu?"

"Ya, Dok," jawab Rina sambil mengangguk.

Please, Love Me!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang