Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apapun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 16: The Real Perpetrator
.
Sepatu kets menghentak di atas lantai marmer. Terus-menerus membuat decitan.
Mino berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari dalam ruangan sang ayah. Ia tidak tahu dibawa dan diculik oleh siapa Irene. Ayahnya kemudian menyusul Mino yang masih seperempat jalan di tangga, "Mino, tunggu."
Pria dengan jas tuksedo itu menatap sang anak yang masih tidak ingin menatap balik.
"Bagaimana keadaan Mamamu?"
"Setelah menyakiti dan membuatnya masuk ke dalam rumah sakit, apa Anda masih peduli?"
"Dia istriku."
"Dia Mamaku."
Laki-laki itu mengembuskan napas. Susah kalau sudah berurusan dengan sang anak. Derap langkah kakinya kembali naik ke atas. Mino hanya bisa terkekeh pelan, "Dasar laki-laki payah." lalu melangkahkan kakinya pergi dari mansion.
.
Di kantor polisi, Yeri dan Joy sudah banjir air mata.
Seulgi dan Wendy berusaha agar tidak menangis sesegukan. Repot kalau semuanya ikut larut dalam kesedihan. Seulgi dan Wendy akan tetap berkomitmen untuk menemukan Irene dalam keadaan apa pun. Sedangkan para polisi sedang berpencar mencari data. Katanya tadi—penculikan yang dilakukan terhadap Irene bukanlah hal yang biasa. Ini bisa saja dilakukan oleh oknum yang sangat berbahaya; nampak dari para pengawal dan mobil limusin yang dikatakan Seulgi. Penculik dengan ekonomi kelas biasa mana mampu menyewa orang-orang berbadan besar seperti itu. Dan lagi, limusin bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan murah.
Tercatat di kota New York, orang dengan ekonomi kelas atas adalah presdir Song; ayah dari Song Mino.
Tapi, lelaki paruh baya itu sudah mengatakan hal yang sejujurnya. Walau Mino membencinya sangat—tapi sebagai seorang anak, Mino tahu sifat dan gerak-gerik ayahnya.
"The existence of the car hard to trace." ujar salah satu polisi—dan itu membuat Wendy melotot terkejut.
"Sir, please do anything." Wendy berucap. Ia benar-benar cemas sekarang.
Para polisi mengangguk. Mereka harus bekerja semaksimal mungkin. Ini adalah penculikan yang sangat berbahaya, "Miss, I think your friend was kidnapped by a mob group."
Wendy menatap wajah sang polisi, "A—are you kidding me, Sir?!" wanita berdarah Korea-Kanada itu tidak habis pikir. Mafia? Menculik? Untuk apa mereka menculik Irene?!
"This is just my opinion. I don't know how the truth." sang polisi kembali berucap. Membuat Wendy dan Seulgi mengembuskan napas pasrah.
"Wait, a mob group?" Seulgi tiba-tiba berucap, "Sir, we have to look back on the incident via CCTV."
"We have done it, Miss."
"Can I watch it again?"
Para polisi saling melempar pandang. Lalu, perlahan menganggukkan kepala.
"Sure."
"Apa sudah ada kabar terbaru?" Mino berteriak dari luar, berlarian seperti akan terlambat mengambil gaji pertama.
"Belum. Tapi, aku ingin melihat kejadian ulangnya di CCTV." ujar Seulgi.
Mino mengangguk. Lalu berjalan mengikuti para polisi. Inilah alasan mengapa Mino tidak mau menerima pernyataan cinta Irene. Bukan—bukannya Mino tidak cinta dengan Irene (kalau boleh jujur, pria itu sangat dan sangat mencintai Irene). Tapi, risiko menjadi kekasihnya sangatlah besar. Mino mengembuskan napas pasrah. Sesuatu yang ia cintai, pasti akan selalu dalam bahaya besar.
.
Di dalam ruangan yang terlihat remang-remang, Irene berusaha melepaskan diri.
Mulutnya diisolasi. Kedua tangan dan kaki diikat di kursi kayu. Irene benar-benar tidak tahu siapa yang menculiknya. Matanya ditutup. Yang bisa dilakukan hanyalah mengerang dan berusaha terlepas dari ikatan. Ini susah, sungguh susah. Irene sudah menangis sejak tadi. Ia berteriak—namun percuma saja, ia disekap di ruang kedap suara. Banyak para pengawal yang mengawasi. Di hadapannya kini, sesosok pria tengah tersenyum miring, "How are you today, Irene ?"
Irene tidak mengidahkan ucapan yang diutarakan padanya. Ia hanya ingin bebas, dan kembali menghirup udara bebas di luar sana. Wanita itu benar-benar frustasi sekarang. Yang ia inginkan di kota New York adalah berlibur dengan tenang dan damai. Bukannya menghilang lalu diculik seperti ini. Kenapa nasibnya sial sekali. Irene membatin sendiri. Sudah lelah berteriak dan meminta tolong.
"Don't be sad, baby." sang pria tetap berucap pada Irene. Tangannya mulai berani menyentuh pipi mulus Irene.
Wanita itu kembali memberontak. Tidak suka jika pipinya disentuh-sentuh dengan sembarangan. Irene kembali mengerang. Berdoa dalam hati agar seseorang menyelamatkannya. Ia takut jika nanti dirinya dijual menjadi TKW, atau dikirimkan ke negeri yang jauh untuk dijadikan wanita lacur. Tidak, tidak. Irene tidak mau berakhir seperti itu. Ia masih ingin menyelesaikan kuliahnya, lalu menikah dengan orang yang dicintai.
Ah, orang yang dicintai.
Irene berharap agar Mino menyelamatkannya sekarang. Doanya di dalam hati selalu dilantunkan; aku berharap, Mino menyelamatkanku. Hei, copet sialan. Tahukah kamu jika aku disekap di sini? Tolong, cepatlah. Selamatkan aku.
"Hei, Irene. Kenapa kamu hanya diam?"
Irene melebarkan mata. Jantungnya berdegup sangat keras sekarang. Suara ini, sepertinya tidak asing lagi untuknya.
.
Mino, Seulgi, dan Wendy fokus menatap layar komputer.
Di sana, terlihat jelas ketika Irene digendong paksa, lalu dimasukkan ke dalam limusin mewah. Mino mengepalkan tangan kencang. Giginya digertak, ia bersumpah dalam hati akan memotong tangan-tangan para pria bajingan itu dengan kapak. Beraninya mereka menyentuh Irene seperti itu. Seulgi fokus melihat beberapa adegan. Lalu ketika sebuah limusin terlihat jelas, Seulgi langsung berkata, "Stop it!"
Putaran adegan diberhentikan. Menampakkan sebuah limusin besar dari arah belakang. Seulgi lalu berkata kembali, "Please show me the plate."
Plat mobil diperbesar. Seulgi terlihat senang, "We can find his car now."
Semua setuju. Plat mobil sudah terlihat, tinggal melacak keberadaannya saja lewat GPS.
.
"S—suara ini..."
"Jika kamu mengingatnya, itu berarti kamu memiliki ingatan yang baik."
Perlahan, ikatan di mata Irene terbuka. Irene benar-benar terkejut bukan main. Tidak menyangka sosok yang ia kira baik hati ternyata...
"VERNON?!"
.
Bersambung
Tangerang, 30 Juni 2018 - 21:12 PM
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfiction[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)