chapter 34: Entah Apa

260 49 10
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

Lost in New York

Chapter 34: Entah Apa

.

Setelah sampai di Korea, Irene lebih memilih mengurung diri di kamar.

Lelah? Tentu saja. Perjalanan Amerika-Korea Selatan tidaklah sebentar. Sangat lama dan menguras tenaga walau yang dilakukan di pesawat hanya tidur. Selain lelah fisik, Irene juga lelah batin. Ya, lebih menyebalkan lelah batin ketimbang lelah fisik. Lelah fisik bisa hilang dengan istirahat yang cukup. Kalau lelah batin? Entah bisa hilang kapan. Yang pasti untuk saat ini, Irene tidak ingin diganggu.

"Joohyun."

Irene membuka mata. Ia melihat siluet sang ayah yang tengah berdiri di depan kamarnya. Entah kenapa, kini hatinya menghangat. Ia tersenyum, lalu berlarian kecil layaknya bocah berumur dua tahun yang sedang belajar berjalan. Ayahnya dipeluk begitu erat hingga tubuh mereka berdua sedikit terdorong ke belakang. Tuan Bae terkekeh sejenak, anak perawannya yang satu ini memang masih seperti bocah. Dia mengusap lembut punggung Irene, "Ayah rindu sekali denganmu, nak."

Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis. Tuan Bae terlihat kebingungan. Lho, kok Irene menangis?

"Joohyun," Tuan Bae ingin melihat wajah sang anak. Tapi Irene menolak. Ia mengeratkan pelukannya pada sang ayah.

Tuan Bae hanya mengembuskan napas. Diusap pelan rambut Irene yang sangat lembut, "Ada masalah?"

Irene hanya mengangguk pelan. Sejak dulu, jika ada masalah, Irene akan mengadu pada sang ayah. Irene tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingin lupa dengan masalahnya saat ini. Tapi tidak bisa. Otaknya tidak ingin menghapus orang yang bernama Song Mino dari pikirannya. Irene semakin menjerit dalam pelukan sang ayah. Tuan Bae yang kebingungan anaknya menangis kenapa pun hanya bisa memberi semangat melalui pelukan hangat.

.

"Bisa cepat sedikit tidak?" Mino berucap tak henti-henti. Membuat Junhoe di sebelahnya merasa sebal bukan main.

Ya, bayangkan saja sejak awal di rumah Mino sudah berceloteh alias mulutnya tidak bisa diam jika tidak disumpal kain pel. Repot sekali dengan barang-barang yang harus mereka bawa. Padahal, cukup membawa koper berisikan pakaian dengan tas kecil berisi handphone, dompet, dan passport pun cukup. Tetapi, Mino terus-menerus mengatakan harus membawa ini dan itu untuk keperluan Irene. Padahal jika ingin memberikan barang pun bisa beli di Korea sana. Junhoe sebal bukan main.

"Hei, burik. Sekarang kita ke mana?" ucap Junhoe asal. Lalu dibalas tatapan nanar oleh Mino, "Tentu saja ke rumah Joohyun, bodoh!"

Junhoe balas berteriak, "Maksudku, kita akan tidur di mana, monyet?!"

"Tentu saja di rumah Joohyun, lutung!" jawab Mino tak mau kalah. Junhoe semakin tepuk jidat dibuatnya. Yang benar saja di rumah Irene?

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang