chapter 24: The Real Explanation

533 102 114
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

Lost in New York

Chapter 24: The Real Explanation

.

Irene membalikkan tubuh. Di sana, Mino sudah berdiri dengan wajah terkejut. Tas kerja jatuh ke lantai. Seperti ada halilintar yang menyambar ke dalam hati. Tersengat beribu-ribu lebah yang siap membuat kulit membengkak seperti habis dipukul. Telinganya terasa menuli tatkala mendengar penjelasan kejadian sebenarnya dari Irene, kekasihnya.

"M—mino..." Irene langsung berjalan menghampiri sang kekasih yang masih berdiri mematung. Junhoe masih diam di tempat.

Lantas, Mino langsung memegang kedua bahu Irene kuat—meminta penjelasan, "Joohyun... A—apakah itu semua benar?"

Irene menunduk. Tidak tahu harus merespon apa. Haruskah ia mengaku?

"Jawab aku, Joohyun."

"I—iya, semuanya benar." Irene masih menunduk.

Perlahan, cengkraman pada bahu mulai lepas. Mino mengedarkan pandangan. Kakinya melangkah menuju tangga—ia ingin meminta penjelasan lebih detail pada sang mama. Ia merasa kecewa—mama selalu menutupi semua masalahnya, tidak pernah membagi kisah dan duka. Kakinya gontai menaiki tangga, hatinya seakan tersayat pedang katana. Irene dan Junhoe diam membisu, sekarang mereka tidak punya hak untuk melarang atau ikut campur dalam urusan anak dan ibunya.

Pintu kayu dibuka perlahan, menampakkan wanita dengan wajah pucat tengah memandang salju turun dari jendela. Seperti biasa—jendela tidak ditutup, membiarkan angin dingin menerpa kulit dan helaian rambut yang sedikit bercabang. Wanita itu tidak membalikkan badan. Masih setia memunggungi Mino.

"Mama." Mino perlahan masuk ke dalam. Berdiri tepat di belakang sang mama yang masih mendiamkan dirinya.

Nyonya Song seakan tuli. Tidak mengidahkan panggilan anaknya. Dia sudah nyaman membungkam diri. Mino berjongkok di samping sang mama yang duduk di atas kursi roda. Menggenggam telapak tangan halus nan pucat dengan lembut, "Mama... Apa benar yang dikatakan Joohyun? Mama berselingkuh di belakang ayah?"

Tak ada sahutan. Hanya angin lepas yang melayani dengan suhu di bawah temperatur normal. Mino menatap wajah mamahnya yang bersinar akibat pantulan sinar rembulan. Cantik, sangat cantik. Perlahan tapi pasti, sang mama menolehkan kepala—menatap wajah anak semata wayangnya yang sudah beranjak dewasa. Diusap sayang wajah Mino, "Iya. Benar."

Di bawah rembulan terang, salju mewarnai gelapnya malam benderang, serpihan ranting bergoyang mengikuti poros angin yang melambai, dan malam itu menjadi saksi bisu—Song Mino meneteskan air mata penyesalan. Detik itu, hari itu, malam itu, laki-laki yang sering mondar-mandir masuk jeruji karena tingkahnya yang membuat resah masyakarat New York—melepas aliran deras macam air terjun.

Mino merenung. Ia sering membentak sang ayah. Menyalahkan ayahnya yang acapkali bertindak kasar pada mama. Menganggap ayah adalah makhluk paling hina yang pernah ia temui.

"Ayahmu selalu menutupi hal ini dari kamu. Berlagak seperti dia orang jahat, agar kamu tidak membenci Mama. Karena Mama yang salah. Ayahmu selalu menutupi semua kesalahan Mama. Tidak peduli dengan imejnya yang sudah dianggap kejam."

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang