chapter 28: Marry Me, Song Mino

547 76 25
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

Lost in New York—

Chapter 28: Marry Me, Song Mino

.

"Apa yang kamu inginkan?"

Nayeon masih terlihat tenang. Sepatu hak tingginya sedikit mengentak-entak lantai kayu restoran. Mino di hadapannya merasa geram—seperti tidak dianggap keberadaannya sejak satu jam yang lalu. Nayeon sengaja tidak menyahut panggilan Mino. Dirinya ingin berlama-lama dengan pria bertampang preman itu.

"Aku tanya, apa yang kamu inginkan sekarang?"

"Bisakah kamu bersikap lebih lembut? Tidak kasihan dengan anak kita?" ucap Nayeon sambil mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit.

Mino hanya bisa menahan amarah. Walau ia tidak suka dengan wanita di hadapannya, tetapi ia tidak ingin janin yang dikandung Nayeon merasa terusik. Ya, walaupun Mino masih tidak percaya jika janin itu adalah darah dagingnya sendiri, "Okay. Now, what do you want Nayeon-ssi?"

Nayeon masih santai mengusap lembut perutnya. Kini, pandangannya mulai menuju pada tangan besar Mino, "Kamu tidak ingin mengusap anakmu? Oh, dia rindu ayahnya."

Hati Mino kini gundah-gulana. Di satu sisi, ia sangat ingin mengusap lembut sang jabang bayi. Tapi di lain sisi ia ingin mengusap darah dagingnya dari perut Irene. Ya, Bae Joohyun. Wanita yang—Mino sendiri berani sumpah—sangat dicintainya. Nayeon yang melihat raut wajah Mino pun paham (sangat paham). Perlahan, dirinya pun bangkit dari kursi—berjalan mendekat ke arah Mino yang masih terdiam. Diambilnya tangan besar Mino, lalu ditaruh di perutnya yang buncit.

Mino terkejut. Tapi Nayeon menahan tangannya, "Sebentar saja. Elus dia."

Tangan besar itu merasakan pergerakkan dari si jabang bayi. Menendang. Ya, itu yang dilakukan si kecil di dalam perut Nayeon. Mino terkekeh pelan ketika merasakannya. Perlahan, perut besar Nayeon diusap oleh Mino. Rasanya menenangkan hati. Bibir Mino terangkat sesaat, senyum mulai merekah. Hatinya terasa senang bercampur sedih. Ia senang bisa merasakan perkembangan anaknya, namun di satu sisi ia sedih karena merasa sudah mengkhianati Irene. Wanita itu terlalu lugu dan naif untuk dikhianati. Tanpa sadar, emosional Mino membludak. Air mata pun tak terbendung lagi.

"Kenapa kamu menangis?" Nayeon yang melihat reaksi Mino pun bertanya.

Mino melepaskan tangannya dari perut Nayeon. Mengusap air matanya yang sudah tumpah ruah di wajah, "Maaf. Aku—hanya merasa terharu."

Nayeon tersenyum. Bibirnya terangkat—wajah terlihat sangat bahagia, "Apa itu berarti kamu mau menikahiku? Setelah anak kita lahir."

Suasana kembali hening. Mino terdiam ketika mendengar penuturan Nayeon, "A—apa? Menikah?"

"Apa kamu tega melihat anak kita lahir tanpa ayah, Song Mino? Bagaimana jika ia sudah besar, banyak teman-teman yang meledekinya karena tidak memiliki ayah? Setega itukah kamu?"

Mino dibuat bungkam sekarang. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Song Mino, menikahlah denganku."

.

Kota New York nampak begitu putih dan gelap dengan buliran salju turun.

Suhu di bawah nol derajat tidak membuat sebagian masyarakat malas. Sebagian dari mereka berjalan kaki di trotoar dengan menggunakan jaket tebal serta syal—guna menghindari hawa dingin yang menusuk kulit. Banyak anak-anak sedang tertawa riang tatkala boneka salju yang mereka buat telah jadi. Para orangtua yang membawakan segelas cokelat panas dan kue jahe untuk anak-anak mereka. Anjing ikut berguling di atas tumpukan salju. Nenek dan kakek yang dengan mesranya bergandengan tangan di bawah rintikan salju.

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang