Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 32: Tetap
.
Setelah kejadian absurd yang mereka alami, kini Mino dan Irene berada di kantor polisi.
"Do you know Mino? I'm bored of seeing your face." ucap salah satu polisi.
Mino hanya terkekeh sejenak lalu menjawab, "Same, sir. Same. I'm too bored to seeing your face."
Tenang saja, Mino sudah cebok tadi. Sudah wangi. Untung saja Mino memiliki celana panjang ganti yang sengaja ia tinggalkan di kantor polisi—katanya, untuk keadaan darurat. Dan, ternyata tidak salah juga ia meninggalkan pakaiannya di sini. Irene duduk di sebelah Mino, matanya benar-benar tidak ingin menatap pria yang ada di sampingnya. Malunya bukan main, Irene bahkan ingin sekali menjahit muka Mino dengan poster Song Joong Ki. Biar lebih enak dipandang katanya.
"Why do you defecate in the car?" pak polisi tak habis pikir dengan kelakuan pria yang ada di depannya. Sudah sering membuat rusuh, meresahkan masyarakat, mencopet, dan sekarang buang hajat di tempat umum? Memang gila pria yang satu ini. Dan parahnya lagi, tahi-tahinya berjejer di jalanan serta mobil dinas. Masih untung kalau tahinya wangi atau berbentuk berlian. Lah ini? Sudahlah bau, menjijikan, lembek, menyengat, ah benar-benar setan Song Mino!
Mino hanya ditanya hanya cengengesan. Antara bingung dan malu sebenarnya ingin menjelaskan darimana, "I have problem with my girlfriend. I want to apologize to her. You know? At first she even wanted to leave America. I'm very sad."
Pak polisi mendengar kisah Mino. Pria itu terus bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dari insiden di bandara hingga buang hajat sembarangan. Mino bercerita seperti seorang ibu yang tengah mendongengkan kisah kancil yang cerdik pada anak-anaknya. Dan kalian tahu apa yang pak polisinya pikirkan dari semua kisah Mino?
'Aku tidak peduli dengan semua kisahmu, bangsat.' ya begitulah kira-kira.
"Okay, okay. Next time if you want to defecate, stop at the gas station first." ucap pak polisi yang sudah lelah dengan bacotan Mino. Mino yang mendengar ucapan pak polisi pun nampak senang, "Thank you, sir. You've a beautiful heart. I love you."
"Ah, can I ask for retirement now?"
"Don't retire! If you retire, to whom will I pour out my heart?"
"Just pour it on the swaying grass."
Sebenarnya, Irene ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Tapi apalah daya, ia masih kesal setengah mampus pada Mino. Ah, sial. Bahkan kini pria itu menatap Irene lekat-lekat. Macam om-om pedofil yang ingin memangsa anak di bawah umur. Ya, mudah dibayangkan. Secara Irene kan mempunyai wajah yang super-duper cantik plus imut keterlaluan macam anak kecil. Sedangkan Mino memiliki wajah tua pedofil seperti pria bangkotan berumur lima puluh tahun (menurut Irene sekarang).
"Joohyun."
Tapi Irene lemah dengan suara ini. Suara yang mampu membuatnya melambung ke atas. Irene masih bertahan di posisi. Tidak menoleh, berusaha tidak peduli. Anggap saja tadi hanyalah kentut yang numpang lewat di gendang telinganya. Tapi, Song Mino bukanlah pria yang pantang menyerah. Ia tetap memanggil nama Irene berkali-kali hingga rasanya telinga Irene ingin pecah. Irene merutuk dalam hati, 'Sialan. Suara kentutnya semakin menjadi-jadi.'
"Maafkan aku. Aku tahu aku bodoh." ucap Mino pada akhirnya.
Irene masih diam. Memang bodoh—rutuk Irene dalam hati.
"Kamu tahu?"
'Mana kutahu. Aku hanya punya tempe.'
"Anak yang dikandung Nayeon... bukan anakku."
"Oh." ucap Irene singkat, padat, dan jelas. Mino hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Ia tahu, Irene pasti sudah terlanjur kecewa padanya.
"Maaf. Membuatmu kecewa." ucap Mino sekali lagi. Dan masih belum mendapatkan respon dari sang kekasih.
Para polisi yang—nampaknya tahu jika suasana kedua insan di hadapannya sedang tidak baik pun tak berani bersuara. Takut untuk sekadar ikut campur. Tapi, keheningan pun dibuyarkan oleh suara pintu yang terbuka secara mendadak. Mino dan Irene yang melihat ke belakang pun terkejut. Ah, itu Koo Junhoe. Pria itu datang, lalu menjitak membabi-buta kepala Mino, "Si bajingan ini. Aku dengar kamu buang hajat di dalam mobil?!"
Mino hanya bisa cengengsan sambil mengusap tampan kepalanya, "Hehehe."
"SIALAN! DASAR MONYET! KENAPA KAMU BERAK DI DALAM MOBILKU?! BIADAB!" oh, pantas saja Junhoe marah-marah. Ternyata mobilnya yang menjadi korban.
Pak polisi yang mendengar bacotan Junhoe pun hanya bisa mengusap keningnya. Bacotnya Mino saja sudah membuat kepala pening, ini ditambah bacotan lutung. Kasihan sekali telinga dan otakmu, pak polisi.
"Junhoe." ucap Irene tegas.
Junhoe yang mendengar namanya dipanggil pun mendadak diam. Mino pun juga diam. Mereka berdua kembali menatap Irene.
Irene menghirup napas dalam, lalu diembuskannya.
"Antar aku ke bandara. Aku tetap ingin pulang."
.
to be continue
Tangerang, 25 Maret 2019 - 14:35 PM
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfiction[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)