chapter 27: What Should I Do?

502 78 37
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

Lost in New York

Chapter 27: What Should I Do?

.

Mino merebahkan diri di atas kasur empuk. Pikirannya kacau-balau. Untuk saat ini tidak bisa digunakan dengan jernih.

Apa tadi? Anak? Tanggung jawab?

Sebelah tangannya diletakkan di atas wajah. Ia mengembuskan napas pasrah. Kenapa hidupnya tidak bisa berjalan dengan baik satu kali saja. Kenapa? Apa karena Tuhan sedang mengujinya? Ah, tidak tahu. Bagaimana jika Irene sampai tahu tentang hal ini? Baiklah, Mino akui dulu sebelum mengenali Irene, ia pernah tidur dengan Nayeon. Kala itu ia yang mabuk parah di sebuah diskotik pun digeret paksa ke dalam kamar, dan paginya ia menemukan tubuhnya telanjang bulat dan ada Nayeon di sampingnya dengan keadaan yang sama (hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya).

Tapi, ia tidak menyangka jika Nayeon akan hamil.

"Mino, kamu kenapa?"

Entah sejak kapan Irene duduk di pinggir ranjangnya. Mino mengintip sejenak. Oh, hatinya sungguh sakit sekarang melihat wajah sang kekasih. Merasa sudah mengkhianati wanita itu. Mino ingin menangis—ya, ya, air matanya sudah mengalir deras sekarang. Irene kalang-kabut, "Hei, hei, kamu kenapa menangis?"

Seharusnya, saat itu Mino tidak pergi ke diskotik dan mendengarkan ucapan Taehyung yang berusaha menahannya pergi. Seharusnya ia tidak mabuk sampai pingsan. Seharusnya ia tidak berjumpa dengan Nayeon. Tapi, nasi sudah menjadi bubur.

Irene sendiri kebingungan. Setahunya, Mino baik-baik saja tadi. Kenapa mendadak menangis?

Mino bangkit dari tidurnya. Menarik tubuh mungil Irene dengan cekatan—memeluk tubuh sang wanita erat seakan tidak ingin dilepas. Irene diam mematung. Tapi hatinya ikut teriris sakit tatkala mendengar isakan tangis prianya. Ada apa ini? Irene hanya bisa mengusap punggung Mino lembut. Berusaha menenangkan kekasihnya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi... Tapi kumohon, berhenti menangis."

"M—maaf, sungguh. Maafkan aku." Mino berucap dengan tulus. Menghirup aroma tubuh Irene yang begitu menggoda. Irene bingung. Minta maaf untuk apa?

Pelukan dilepas. Mino menatap mata indah Irene dalam. Dikecupnya bibir sang wanita lembut. Irene membalas. Keduanya menutup mata—merasakan resapan dan lumatan yang begitu nikmat dan penuh cinta—ah, cinta yang sangat cinta sekali. Tangan Mino mengusap leher Irene seduktif. Irene sedikit mengerang—ah, belaian itu sungguh membuatnya melayang.

Perlahan, Irene ditidurkan di atas kasur. Kini Mino mendominasi. Kedua tangan Irene refleks mencengkram erat rambut Mino. Ciuman mereka semakin dalam dan—panas; rasanya seperti ada gemericik api yang mulai merambat, membakar, membara di atas bongkahan kayu bakar serta arang yang sudah dibaluri minyak tanah. Hawa dingin di luar sana tidak mampu mengusik keduanya.

Pintu kayu terembus angin dingin, lalu tertutup.

.

Irene menatap lembut lelaki yang sedang tidur terlelap.

Jika kalian menyangka mereka melakukan hal yang 'iya-iya', selamat! Otak kalian memang sungguh luar biasa kotornya, hahaha! Tidak, mereka hanya berciuman dan memeluk satu sama lain. Tidak melakukan apa pun (bisa mati Mino di tangan sang nenek jika ketahuan melakukan hal itu pada Irene). Mungkin, akibat lelah menangis—Mino lebih memilih tidur lelap dalam dekapan Irene. Irene sendiri sedang mengusap lembut rambut Mino layaknya anak kecil.

Sampai saat ini, Irene tidak tahu apa yang membuat seorang Song Mino menangis. Bertengkar dengan ayahnya? Rasanya sungguh tidak mungkin. Dengan Junhoe? Ah, apalagi dengan anak itu—rasanya sungguh aneh. Mino nampak nyaman terlelap di atas tubuh Irene. Kepalanya yang ditaruh di atas dada Irene, kedua tangannya memeluk erat tubuh mungil Irene—terlihat seperti bayi besar.

Diusapnya rambut Mino dengan sayang. Irene sedikit tersenyum melihat wajah polos Mino yang sedang terlelap. Bunyi dengkuran yang halus masih bisa didengar. Salju di luar jendela nampaknya semakin banyak dan banyak. Dengan begitu lembut, Irene mengusap punggung telanjang Mino yang dirasa hangat. Matanya melihat ada banyak tato di sana. Kulit Mino begitu eksotis dan seksi. Irene berdegup sendiri.

Kepala Mino mulai bergerak. Ia merasakan sesuatu yang empuk di antara kedua pipinya. Mino membuka matanya perlahan—dan mendapati dirinya yang tengah terlelap di atas dada Irene.

"Oh, pantas saja rasanya empuk dan kenyal. Ternyata kepalaku ada di atas dadamu. Hehe, punyamu besar juga—ADUH SAKIT!"

"Sekali lagi bicara begitu, kucincang masa depanmu!" Irene mengancam. Mino hanya memanyunkan bibirnya. Bahaya kalau masa depannya dicincang.

"Aduh, jangan dong. Nanti kita nggak punya anak dong." sahut Mino—ah, omong-omong soal anak, Mino jadi teringat kembali dengan Nayeon.

Irene memalingkan wajah, "Y—ya, salahmu sendiri berkata seperti itu!"

Mino hanya menampilkan senyuman licik, "Kenapa? Kamu malu? Toh nanti semua tubuhmu akan kujamah kalau sudah menikah."

Sialan. Irene hanya bisa mengumpat dalam hati. Song bajingan Mino memang paling bisa membuat wajahnya merah padam. Laki-laki itu masih betah menatap wajah Irene yang memerah malu. Perlahan, tubuh Irene ditarik ke bawah—kini wajah mereka bertatapan. Irene semakin memalingkan pandangannya.

"Kenapa menatap ke arah lain? Padahal di depanmu sekarang ada yang lebih indah untuk dipandang..." Mino mulai menggoda Irene.

Irene memukul dada bidang Mino, "Diam kamu!"

Mino hanya terkekeh melihat kelakuan sang kekasih. Dikecupnya leher Irene lembut—membuat sedikit erangan lolos begitu saja dari mulut si cantik. Ah, bau tubuh Irene sangat wangi dan harum. Ingin sekali Mino menciumi seluruhnya—tapi ditahan niat itu (bisa dibunuh dia sama nenek dan Tuan Bae).

"Joohyun." Mino kembali menidurkan kepalanya di atas dada Irene, "Kalau aku misalnya aku menyakitimu.... Bagaimana?"

"Tinggal kutendang saja masa depanmu. Beres kan?" sahut Irene santai. Tangannya sibuk mengusap rambut Mino.

Lagi-lagi Mino terkekeh. Dalam hati ia menangis. Bagaimana jika ia akan menyakiti hati Irene? Ah—bahkan, sepertinya dirinya sudah melakukannya.

Haruskah ia memutuskan hubungannya dan Irene sebelum masalah ini merambat?

.

Bersambung

Tangerang, 1 September 2018 - 16:09 PM

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang