Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Mino/Irene
Selamat membaca...
.
—Lost in New York—
Chapter 17: The Real Perpetrator (2)
.
"Dapat!"
Seulgi berteriak lantang. Senang usahanya tidak sia-sia menonton ulang rekaman CCTV restoran. Ia mendapatkan plat mobil sang penculik. Mereka tengah melacak keberadaannya sekarang. Mino harap-harap cemas. Ia benar-benar takut dengan keadaan Irene sekarang. Semoga Tuhan masih melindungi sampai mereka menyelamatkannya nanti. Amin.
Tapi tunggu, Mino merasa tidak asing dengan alamat yang tertera di layar komputer.
"Ada apa?" Seulgi yang melihat raut wajah Mino pun merasa penasaran.
Laki-laki itu masih tergugu diam. Fokus menatap alamat yang tertera. Otaknya tengah memproses sesuatu agar dapat dicerna. Tidak asing, benar-benar tidak asing. Mino masih penasaran. Kapan ya dia melihat alamat itu?
"Sepertinya aku pernah melihat alamat ini. Tapi, di mana ya?" Mino bermonolog sendiri. Memasang wajah berpikir yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain. Seulgi memperhatikan dari samping. Kalau dilihat-lihat, Mino tampan juga ya. Pantas Irene senang walaupun statusnya sebagai pencopet.
Eh, Seulgi mengalihkan pandangan. Kenapa ia bisa berpikir seperti tadi?! Tidak, tidak boleh! Ia tidak mau jatuh pada pesona Mino! Najis mugholadhoh katanya. Lagi pula, Mino kan sudah milik Irene (ya, belum resmi sih). Tapi Seulgi sadar diri. Dia tidak ingin menjadi pengganggu hubungan orang. Nanti kalau kena azab seperti di sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi ikan terbang bagaimana? Kan tidak lucu jika ada tayangan dengan judul; aku menyukai lelaki yang sayangnya berstatus pacar bohong-bohongan sahabatku yang juga mantan pencopet dompetnya.
Tidak akan. Seulgi merinding disko membayangkannya.
"Hei, kenapa melamun?" Mino bertanya pada Seulgi.
Wanita itu lantas menatap ke arah lain, "T—tidak, hanya memikirkan Kak Irene."
Mino mengangguk, "Ya sudah, ayo kita cari alamat ini."
"Sudah dapat?" Wendy datang secara tiba-tiba. Menghampiri Mino dan Seulgi yang masih berdiam di dalam ruang CCTV.
Keduanya menoleh menatap Wendy, "Sudah. Ini alamatnya." ucap Seulgi.
Wendy melihat alamat yang diberikan Seulgi. Lalu mulai bergegas, "Tunggu apa lagi. Ayo berangkat."
Mereka semua kemudian berjalan menuju mobil polisi yang sudah terpakir rapi di depan trotoar.
.
Irene menangis sesegukan. Tubuhnya masih terlilit tali tambang.
Tidak, Vernon tidak menyakitinya sama sekali. Pria itu hanya duduk di hadapan Irene sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Hanya mengawasi gerak-gerik wanita itu, tidak lebih. Tapi tetap saja, Irene merasa sangat tidak nyaman, "Hiks—kukira kamu pria yang baik."
"Aku memang pria yang baik."
"Pria yang baik tidak akan menculik seorang wanita!"
"Tapi, aku kan tidak menyakitimu sama sekali."
"Tetap saja!"
Irene tidak mau kalah. Pokoknya, Vernon salah menurutnya. Lagi pula, untuk apa pria berparas bule itu menculiknya? Apa jangan-jangan Vernon ingin menjual Irene ke luar negeri sebagai TKW? Atau sebagai wanita penghibur yang senantiasa bersarang di dalam diskotik? Oh, atau jangan-jangan Irene ingin dibunuh lalu organ tubuhnya akan dijual secara ilegal?! Tidak mau! Irene tidak ingin mati dulu. Banyak hal yang belum Irene lakukan di dunia ini—dia belum sempat meminta maaf pada ayahnya karena sudah membantah larangannya, Irene juga belum menyelesaikan skripsi, ia juga belum menikah dan memberikan cucu untuk ayah! Hah, rasa-rasanya Irene memiliki banyak hutang jika ia mati mendadak sekarang.
Soal cucu—ah, boro-boro memberikan cucu. Kekasih saja tidak punya (ya, kalaupun ada itu cuma bohong-bohongan).
Ngomong-ngomong soal kekasih, Irene benar-benar mengutuk Mino dalam hati. Irene berharap pria berkulit tan itu akan menyelamatkannya seperti Goo Junpyo yang dengan sigap menyelamatkan Geum Jandi ketika diculik.
Hah, kamu belum tahu saja Rene kalau sekarang Mino lagi berjuang nyelamatin kamu.
"Sudah menangisnya?" sepertinya Vernon bosan juga mendengar tangisan nyaring Irene.
Bukannya berhenti, Irene malah memperjelas tangisannya. Sumpah demi Tuhan, lama-lama telinga Vernon jengah juga. Irene masa bodo dengan keadaan sekitar. Ia ketakutan sekarang. Jika dikumpulkan, mungkin air mata Irene bisa dijadikan kolam mandi untuk para babi.
"Raise your hand! You are all surrounded."
Entah sejak kapan, para gerombolan polisi sudah mengepungi mereka. Semuanya mengangkat tangan—tapi tidak dengan Vernon, laki-laki itu terlihat santai. Mino dan yang lain langsung berlarian menghampiri Irene—terlebih lagi Mino, día bahkan langsung mencengkram erat pakaian Vernon, "Kau... Beraninya..."
Tangan terkepal. Mino hendak memukul wajah tampan Vernon. Tapi, pukulan itu langsung ditahan, "Tunggu dulu—"
Mino menggeram. Menatap wajah Vernon yang—rasa-rasanya tidak asíng.
Eh, tidak asing?
Lho, kok tidak asing?!
"Masih mengenaliku kan, Song Mino?" Vernon tersenyum tipis. Membuat Mino dan yang lain merasa bingung.
"Kau seperti..." Mino berusaha mengingat.
Keadaan mendadak hening tatkala sebuah tepukan tangan menggema di tempat penculikan Irene. Dia—seorang wanita paruh baya (namun masih terlihat sangat segar). Ia datang menghampiri, sambil tersenyum. Vernon membungkuk hormat, "Nyonya, Song. Selamat datang."
Mino benar-benar melebarkan matanya sekarang.
"NENEK?!"
.
Bersambung
Tangerang, 04 Juli 2018 - 20:36 PM
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]
Fanfiction[ Adventure AU ] Liburan musim dingin di negeri Paman Sam yang--seharusnya menyenangkan, malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam bayangan Bae Joohyun (biasa dipanggil Irene). Ketika sedang mengelilingi kota New York, Irene mendadak terp...
![Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]](https://img.wattpad.com/cover/145760238-64-k254847.jpg)