chapter 25: Monyet dan Lutung

535 96 30
                                        

Disclaimer: seluruh tokoh milik agensi dan keluarga masing-masing. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang

Main pair: Mino/Irene

Selamat membaca...

.

Lost in New York

Chapter 25: Monyet dan Lutung

.

Pagi ini rasanya salju semakin dingin, namun di satu sisi pula ia menjadi hangat.

Setelah tuan Song berangkat ke kantor, Junhoe mengejek Mino habis-habisan sampai pria yang dikatakan mirip simpanse itu malu setengah mampus. Wajahnya memerah macam kepiting rebus, salah tingkah karena selalu digoda, dan berakhir kini merajuk di dalam kamar. Irene hanya bisa mengembuskan napas pasrah menghadapi tingkah laku mereka berdua. Benar-benar melelahkan. Sama halnya seperti mengangkat tiga galon secara terus-menerus.

"Sudahlah, lagi pula Junhoe hanya bercanda." Irene terus saja membujuk Mino agar tidak merajuk. Pria itu kini tengah pura-pura tertidur di kasur. Entah dia betulan tidur atau hanya sekadar memejamkan mata.

"Tapi aku senang, akhirnya kamu sudah mulai akrab dengan ayah." sambung Irene.

Mino dalam hati pun merasa senang. Sudah belasan tahun ia hidup tidak pernah akrab dengan ayahnya. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perut. Ternyata ia hanya salah sangka pada ayah. Dan—walaupun sebenarnya mama bersalah, Mino tak akan bisa membenci wanita yang sudah melahirkannya dengan susah payah. Hatinya sudah ikhlas menerima walau pada kenyataan ia memang amat membenci orang yang suka selingkuh.

"Heh, monyet. Masih merajuk juga kau rupanya." itu Junhoe yang berucap. Lama-lama ia jengah juga dengan sikap Mino yang macam anak kecil.

Mino mendelik, "Diam kau, lutung!"

Irene kembali mengurut pelipisnya. Sumpah demi apa pun mereka berdua sangat merepotkan. Sifat Junhoe yang suka menggoda dan Mino yang tidak mau mengalah. Kadang ia heran sendiri—kenapa dua orang dengan sifat bertolak belakang macam mereka bisa sangat akrab?

Entahlah, hanya mereka dan Tuhan saja yang tahu.

"Dasar cengeng, bisanya hanya merajuk."

"Siapa yang cengeng hah?!"

"Siapa lagi kalau bukan kamu, monyet!"

"Sialan, dasar lutung kasarung!"

"Jelangkung kamu!"

"Dasar jenglot!"

"DIAM KALIAN BERDUA!"

Pada akhirnya, Irene mengeluarkan suara yang sungguh cetar membahana badai halilintar. Begitu merdu didengar—sampai-sampai telinga Junhoe dan Mino ingin lepas dari tempatnya. Dua laki-laki itu saling menatap; seakan memberi isyarat dalam hati dan juga membuat kesepakatan—katanya, wajah Irene sekarang nampak seperti nenek lampir. Tentu saja mereka berasumsi seperti itu diam-diam. Sangat bahaya jika Irene mengetahui hal itu.

"Kenapa kalian tidak bisa akur untuk sehari saja?" perlahan, Irene menurunkan volume suaranya. Berusaha berucap baik-baik. Mungkin saja setelah ini mereka akan berbaikan.

Mino dan Junhoe diam—bukan, mereka diam bukan karena sedang intropeksi diri, tapi mereka takut jika salah-salah berkata, wanita cantik itu akan mengamuk lagi. Bahaya jika dia terus-terusan mengamuk, mansion besar ini bisa hancur nanti. Kan kasihan ayah Song yang sudah susah payah mengeluarkan banyak uang untuk itu.

Lost in New York [Minrene; Mino/Irene]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang